Jumat, 31 Desember 2010

10 Jenis Kecanduan yang Sangat Umum dan Bahayanya!

Kenali penyebab sepuluh jenis kecanduan yang sangat umum, dan bahayanya! Kecanduan bisa terjadi pada siapa saja. Pengertian kecanduan sendiri adalah toleransi abnormal dan ketergantungan pada sesuatu, baik secara psikologis ataupun fisik yang membentuk kebiasaan.



Sebenarnya ada banyak jenis kecanduan, tetapi ada sepuluh jenis kecanduan yang sangat umum. Kenali penyebab dan bahayanya!

1. Alkohol
Saat alkohol terbilang mudah didapatkan orang dewara. Konsumsi alkohol meskipun dalam jumlah kecil sebenarnya bisa mengganggu kondisi mental dan fisik. Alkohol juga bisa memicu seseorang kecanduan berkepanjangan. Kecanduan alkohol dalam waktu lama efeknya sangat luar biasa merugikan, karena bisa menurunkan fungsi otak.

2. Rokok atau tembakau
Kategori ini termasuk rokok, pipa, cerutu dan mengunyah tembakau. Kandungan nikotin dalam rokok yang sangat tinggi masuk dalam pembuluh darah, yang kemudian mengalir ke otak. Nikotin inilah yang sampai ke 'pusat kesenangan di otak' dan membuat kecanduan.

3. Obat-obatan

Kecanduan obat termasuk semua jenis obat baik legal maupun ilegal. Jadi, obat yang dijual secara bebas juga bisa membuat seseorang kecanduan. Untuk itu, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

4. Judi

Saat judi bukan hanya untuk kesenangan saja tetapi mulai tidak terkontrol, itu adalah tanda kecanduan. Jika tidak diatasi bisa menghancurkan kondisi keuangan bahkan hubungan pribadi baik dengan pasangan, orangtua, maupun orang sekitar.


5. Makanan
Makanan memang diperlukan oleh tubuh. Tetapi ketika seseorang tidak mampu mengontrol nafsu makannya terutama ketika mengalami perasaan sedih, marah atau kecewa, tandanya ia mengalami kelainan kebiasaan makan atau kecanduan. Untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut harus dilakukan terapi intensif.

6. Permainan video
Kecanduan ini sering terjadi pada orang yang bermain jenis permainan MMORPG (Massive Multiplayer Online Role-Playing Games). Dalam tipe permainan ini, seseorang menjadi karakter tertentu dan melakukan interaksi dengan pemain lain. Jika mengalami kecanduan, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari bermain tanpa berhenti.

7. Internet
Saat ini semua orang menggunakan internet untuk mempermudah pekerjaan dan aktivitas. Jika seseorang tidak bisa menemukan koneksi internet, kemudian merasa panik atau marah bisa jadi penanda kecanduan internet.

8. Seks
Ketika perilaku seksual seseorang di luar kendali dan tidak pernah merasakan kepuasan, bisa jadi ia mengalami kecanduan seks. Selain itu juga ditandai dengan timbulnya masalah di tempat kerja atau di rumah, terkena penyakit menular seksual, mencari rangsangan seksual dari cara-cara ilegal seperti penggunaan pelacur. Kadang waktu dan pikirannya dihabiskan untuk merencanakan pertemuan berikutnya dengan berbagai partner seksual.

9. Belanja
Kecanduan belanja biasanya muncul saat seseorang mengalami masalah emosi dan stres. Ia kemudian melampiaskannya dengan berbelanja. Hal ini bisa menimbulkan masalah keuangan serius dan disfungsi gaya hidup.

10. Bekerja
Saat pekerjaan menjadi obsesi berlebihan, sebaiknya hati-hati. Obsesi bia mengubah orang menjadi kecanduan kerja. Hal ini biasanya ditandai dengan perasaan panik saat jauh dari tempat kerja dan tidak mengakses informasi kondisi kantor. Saat bersama keluarga atau sedang berlibur, pikiran pun tertuju pada pekerjaan dan sangat sulit memercayai orang lain atau bawahan untuk menangani pekerjaan.


Sumber : VIVAnews.com

Perawat Komunitas Sebagai Perawat Edukator Diabetes


Peran Perawat Komunitas

Perawat memiliki peran kunci sebagai edukator dalam model PKPDM bagi lansia diabetisi (Diabetes Control and Complications Trial Research Group, 1993, 1995; Franz, Callahan, & Castle, 1994; Levetan, Salas, Wilets, & Zurnoff, 1995). Perawat edukator diabetes merupakan salah satu bidang spesialisasi keperawatan komunitas yang memiliki peran sebagai instruktur PKPDM. 

Tugas perawat edukator diabetes adalah 
(1) memberikan pendidikan kesehatan mengenai pengelolaan diabetes secara mandiri secara berkala, 
(2) intervensi perilaku, dan 
(3) konseling dan coaching pengelolaan diabetes secara mandiri (Mensing et al., 2007). 

Berdasarkan hal tersebut penulis memberikan batasan pengertian perawat komunitas sebagai perawat edukator diabetes, yaitu praktik profesi sebagai sintesis dari ilmu keperawatan, kesehatan masyarakat (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999), dan sosial (Helvie, 1998; Ervin, 2002) yang diterapkan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan diabetisi secara menyeluruh (Helvie, 1998; Ervin, 2002).

Perawat komunitas sebagai edukator diabetes memiliki dua tingkat, yaitu perawat generalis dan perawat spesialis. Helvie (1998) berpendapat bahwa perawat generalis memiliki latar belakang pendidikan S1 dengan batasan kompetensi pada asuhan keperawatan diabetisi di tingkat individu dan keluarga. Sedangkan menurut Ervin (2002), batasan kompetensi perawat generalis pada asuhan keperawatan diabetisi di tingkat individu, keluarga, kelompok dan ketrampilan dasar menangani agregat diabetisi. Helvie dan Ervin sepakat bahwa perawat spesialis dengan latar belakang pendidikan master (S2) dan doktoral (S3) harus memiliki kompetensi klinis dan mengelola agregat diabetisi dari tingkat individu sampai dengan populasi. Seorang spesialis keperawatan komunitas harus mampu melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program serta pelayanan kesehatan bagi agregat diabetisi di tingkat populasi.

Karakteristik keperawatan komunitas sebagai perawat edukator diabetes
Keperawatan komunitas dalam konteks asuhan keperawatan pada agregat lansia diabetisi memiliki beberapa karakteristik, yaitu: 
(1) berfokus pada populasi lansia baik yang sehat maupun yang berisiko menderita DM; 
(2) berorientasi pada peningkatan peran serta aktif lansia dalam pengelolaan DM secara mandiri; 
(3) berfokus pada upaya promotif dan preventif baik pencegahan primer, sekunder dan tersier; 
(4) intervensi pendidikan kesehatan dalam pengelolaan diabetes secara mandiri (PKPDM) di tingkat komunitas atau populasi; dan 
(5) memiliki perhatian terhadap peningkatan derajat kesehatan pada semua kelompok umur terutama kelompok berisiko DM (Stanhope & Lancaster, 2004). 

Selanjutnya spesialis keperawatan komunitas memiliki enam area pokok praktik keperawatan dalam pendekatan PKPDM, yaitu: 
(1) upaya promosi kesehatan melalui gaya hidup sehat;
(2) upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier pada agregat diabetisi; 
(3) intervensi keperawatan lansia diabetisi; 
(4) rehabilitasi lansia diabetisi dengan permasalahan khusus, misalnya pasca hospitalisasi atau penurunan kapasitas fungsional;
(5) evaluasi program PKPDM di tingkat populasi; dan 
(6) riset keperawatan tentang lansia diabetisi (Allender & Spradley, 2005).
Strategi Intervensi dan Pengorganisasian Masyarakat
Strategi intervensi keperawatan komunitas dalam pendekatan PKPDM adalah (1) kemitraan (partnership), (2) pemberdayaan (empowerment), (3) pendidikan kesehatan, dan (4) proses kelompok (Hitchcock, Schubert, & Thomas 1999; Helvie, 1998). Strategi intervensi pendidikan kesehatan dalam pengelolaan diabetes secara mandiri juga diuraikan pada bagian berikut:
Pertama, kemitraan memiliki definisi hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Perawat spesialis komunitas perlu membangun dukungan, kolaborasi, dan koalisi sebagai suatu mekanisme peningkatan peran serta aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi implementasi PKPDM. Anderson dan McFarlane (2000) dalam hal ini mengembangkan model keperawatan komunitas yang memandang masyarakat sebagai mitra (community as partner model).

Fokus dalam model tersebut menggambarkan dua prinsip pendekatan utama keperawatan komunitas, yaitu 
(1) lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan, dan
(2) proses keperawatan.
Asumsi dasar mekanisme kolaborasi perawat spesialis komunitas dengan masyarakat tersebut adalah hubungan kemitraan yang dibangun memiliki dua manfaat sekaligus yaitu meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dan keberhasilan program kesehatan masyarakat (Kreuter, Lezin, & Young, 2000). Mengikutsertakan masyarakat dan partisipasi aktif mereka dalam pembangunan kesehatan dapat meningkatkan dukungan dan penerimaan terhadap kolaborasi profesi kesehatan dengan masyarakat (Schlaff, 1991; Sienkiewicz, 2004). Dukungan dan penerimaan tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatnya sumber daya masyarakat yang dapat dimanfaatkan, meningkatnya kredibilitas program kesehatan, serta keberlanjutan kemitraan perawat spesialis komunitas dengan masyarakat (Bracht, 1990).
Kemitraan dalam PKPDM dapat dilakukan perawat komunitas melalui upaya membangun dan membina jejaring kemitraan dengan pihak-pihak yang terkait (Robinson, 2005) dalam upaya penanganan DM pada lansia diabetisi baik di level keluarga, kelompok, maupun komunitas. Pihak-pihak tersebut adalah profesi kesehatan lainnya, stakes holder (Puskesmas, Dinas Kesehatan Kota, Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Pemerintah Kota), donatur/sponsor, sektor terkait, organisasi masyarakat (TP-PKK, Lembaga Lansia Indonesia/LLI, Perkumpulan Diabetisi, atau Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia), dan tokoh masyarakat setempat.
Kedua, konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru (Hitchcock, Scubert, & Thomas, 1999). Pemberdayaan, kemitraan dan partisipasi memiliki inter-relasi yang kuat dan mendasar. Perawat spesialis komunitas ketika menjalin suatu kemitraan dengan masyarakat maka dirinya juga harus memberikan dorongan kepada masyarakat. Kemitraan yang dijalin memiliki prinsip “bekerja bersama” dengan masyarakat bukan “bekerja untuk” masyarakat, oleh karena itu perawat spesialis komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat (Yoo et. al, 2004). Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi masyarakat (Nies & McEwan, 2001).
Kemandirian agregat lansia diabetisi dalam PKPDM berkembang melalui proses pemberdayaan. Tahapan pemberdayaan yang dapat dilalui oleh agregat lansia diabetisi (Sulistiyani, 2004), yaitu:
  1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan kemampuan dalam mengelola DM secara mandiri. Dalam tahap ini, perawat komunitas berusaha mengkondisikan lingkungan yang kondusif bagi efektifitas proses pemberdayaan agregat lansia diabetisi.
  2. Tahap transformasi kemampuan berupa pengetahuan dan ketrampilan dalam pengelolaan DM secara mandiri agar dapat mengambil peran aktif dalam lingkungannya. Pada tahap ini agregat lansia diabetisi memerlukan pendampingan perawat komunitas.
  3. Tahap peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sehingga terbentuk inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemandirian mengelola DM. Pada tahap ini lansia diabetisi dapat melakukan apa yang diajarkan secara mandiri.
Ketiga, strategi utama upaya prevensi terhadap kejadian DM adalah dilakukannya kegiatan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mengurangi disabilitas serta mengaktualisasikan potensi kesehatan yang dimiliki oleh individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat (Swanson & Nies, 1997). Pendidikan kesehatan dapat dikatakan efektif apabila dapat menghasilkan perubahan pengetahuan, menyempurnakan sikap, meningkatkan ketrampilan, dan bahkan mempengaruhi perubahan di dalam perilaku atau gaya hidup individu, keluarga, dan kelompok lansia diabetisi (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002). Pendidikan kesehatan diharapkan dapat mengubah perilaku lansia diabetisi untuk patuh terhadap saran pengelolaan DM secara mandiri.
Pendidikan kesehatan dapat dilakukan secara individu, kelompok, maupun komunitas. Upaya pendidikan kesehatan di tingkat komunitas penting dilakukan dengan beberapa alasan, yaitu: individu akan mudah mengadopsi perilaku sehat apabila mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya terutama dukungan keluarga, intervensi di tingkat komunitas dapat mengubah struktur sosial yang kondusif terhadap program promosi kesehatan, unsur-unsur di dalam komunitas dapat membentuk sinergi dalam upaya promosi kesehatan (Meillier, Lund, & Kok, 1996).
Intervensi keperawatan melalui pendidikan kesehatan untuk menurunkan risiko DM dan komplikasinya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) pencegahan primer, (2) pencegahan sekunder, dan (3) pencegahan tersier. Pendidikan kesehatan dalam tahap pencegahan primer bertujuan untuk menurunkan risiko yang dapat mengakibatkan DM. Pendidikan kesehatan dalam tahap pencegahan sekunder bertujuan untuk memotivasi kelompok berisiko melakukan uji skrining dan penatalaksanaan gejala DM yang muncul, sedangkan pada tahap pencegahan tersier, perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan yang bersifat readaptasi, pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi DM terulang dan memelihara stabilitas kesehatan lansia.
Keempat, proses kelompok merupakan salah satu strategi intervensi keperawatan yang dilakukan bersama-sama dengan masyarakat melalui pembentukan sebuah kelompok atau kelompok swabantu (self-help group). Intervensi keperawatan di dalam tatanan komunitas menjadi lebih efektif dan mempunyai kekuatan untuk melaksanakan perubahan pada individu, keluarga dan komunitas apabila perawat komunitas bekerja bersama dengan masyarakat. Berbagai kelompok di masyarakat dapat dikembangkan sesuai dengan inisiatif dan kebutuhan masyarakat setempat, misalnya Posbindu, Bina Keluarga Lansia, atau Karang Lansia. Kegiatan pada kelompok ini disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai oleh lansia agar lansia dapat mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan produktif selama mungkin (Depkes RI, 1992).
Menurut penelitian, lansia yang mengikuti secara aktif sebuah kelompok sosial dan menerima dukungan dari kelompok tersebut akan memperlihatkan kondisi kesehatan fisik dan mental yang lebih baik daripada lansia yang lebih sedikit mendapatkan dukungan kelompok (Krause, 1997). Bentuk dukungan kelompok ini juga terkait dengan rendahnya risiko morbiditas dan mortalitas lansia (Berkman, Leo-Summers, & Horwitz, 1992). Meskipun penjelasan risiko morbiditas dan mortalitas tersebut tidak lengkap dikemukakan, beberapa laporan menekankan bahwa dukungan yang diterima lansia dapat meningkatkan pemanfaatan dan kepatuhan individu terhadap pelayanan yang diinginkan dengan mengikuti informasi yang diberikan, ikut serta dalam kelompok dan meningkatkan perilaku mencari bantuan kesehatan (Cohen, 1988).

Berdasarkan strategi intervensi yang telah ditentukan oleh perawat komunitas seperti tersebut di atas, selanjutnya dilakukan pengorganisasian masyarakat. Pengorganisasian masyarakat sebagai suatu proses merupakan sebuah perangkat perubahan komunitas yang memberdayakan individu dan kelompok berisiko (agregat) dalam menyelesaikan masalah komunitas dan mencapai tujuan yang diinginkan bersama. 


Menurut Helvie (1998), terdapat tiga model pengorganisasian masyarakat yaitu 
(1) model pengembangan masyarakat (locality development), 
(2) model perencanaan sosial (social planning), dan
(3) model aksi sosial (social action).
Model pengembangan masyarakat didasarkan pada upaya untuk memaksimalkan perubahan yang terjadi di komunitas, di mana masyarakat dilibatkan dan berpartisipasi aktif dalam menentukan tujuan dan pelaksanaan tindakan. 

Tujuan dari model pengembangan masyarakat adalah 
(1) agar individu dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan-serta aktif dalam setiap tahapan proses keperawatan, dan
(2) perubahan perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) dan kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatannya di masa mendatang (Nies & McEwan, 2001; Green & Kreuter, 1991). Sejalan dengan Mapanga dan Mapanga (2004) tujuan dari proses keperawatan komunitas pada lansia diabetisi adalah meningkatkan kemampuan dan kemandirian fungsional agregat lansia diabetisi melalui pengembangan kognisi dan kemampuan merawat dirinya sendiri. Pengembangan kognisi dan kemampuan agregat lansia diabetisi difokuskan pada dayaguna aktifitas kehidupan, pencapaian tujuan, perawatan mandiri, dan adaptasi lansia diabetisi terhadap permasalahan kesehatan sehingga akan berdampak pada peningkatan partisipasi aktif lansia diabetisi.
Model perencanaan sosial dalam pengelolaan agregat lansia diabetisi lebih menekankan pada teknik menyelesaikan masalah kesehatan agregat lansia diabetisi dari pengelola program lansia di birokrasi, misalnya Dinas Kesehatan atau Puskesmas. Kegiatan bersifat kegiatan top-down planning. Tugas perencana program kesehatan lansia adalah menetapkan tujuan kegiatan, menyusun rencana kegiatan, dan mensosialisasikan rencana tindakan kepada masyarakat. Perencana program harus memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks termasuk kemampuan untuk mengorganisasikan lintas sektor terkait.
Model aksi sosial menekankan pada pengorganisasian masyarakat untuk memperjuangkan isu-isu tertentu terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi agregat lansia diabetisi, misalnya kampanye gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit diabetes.
Tingkat dan bentuk intervensi keperawatan komunitas
a. Tingkat pencegahan intervensi keperawatan meliputi:
  1. Prevensi primer ditujukan bagi orang-orang yang termasuk kelompok risiko tinggi, yakni mereka yang belum menderita tetapi berpotensi untuk menderita DM. Perawat komunitas harus mengenalkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya DM dan upaya yang perlu dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut. Sejak masa prasekolah hendaknya telah ditanamkan pengertian tentang pentingnya latihan jasmani teratur, pola dan jenis makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan risiko merokok bagi kesehatan.
  2. Prevensi sekunder bertujuan untuk mencegah atau menghambat timbulnya penyulit dengan tindakan deteksi dini dan memberikan intervensi keperawatan sejak awal penyakit. Dalam mengelola lansia diabetisi, sejak awal sudah harus diwaspadai dan sedapat mungkin dicegah kemungkinan terjadinya penyulit menahun. Penyuluhan mengenai DM dan pengelolaannya secara mandiri memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Sistem rujukan yang baik akan sangat mendukung pelayanan kesehatan primer yang merupakan ujung tombak pengelolaan DM.
  3. Prevensi tersier. Apabila sudah muncul penyulit menahun DM, maka perawat komunitas harus berusaha mencegah terjadinya kecacatan/komplikasi lebih lanjut dan merehabilitasi pasien sedini mungkin, sebelum kecacatan tersebut menetap. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk melindungi upaya rekonstitusi lansia diabetisi, yaitu: mendorong lansia untuk patuh mengikuti program PKPDM, pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga untuk mencegah hipoglikemi terulang dan melihara stabilitas klien (Allender & Spradley, 2005).
b. Bentuk intervensi keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat komunitas terdiri dari:
  1. Observasi. Observasi diperlukan dalam pelaksanaan keperawatan lansia diabetisi. Observasi dilakukan sejak pengkajian awal dilakukan dan merupakan proses yang terus menerus selama melakukan kunjungan (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999). Lingkungan lansia diabetisi yang perlu diobservasi yaitu keadaan lansia diabetisi, kondisi rumah, interaksi antar keluarga, tetangga dan komunitas. Observasi diperlukan untuk menyusun dan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada lansia diabetisi.
  2. Terapi modalitas. Terapi modalitas adalah suatu sarana penyembuhan yang diterapkan pada lansia diabetisi dengan tanpa disadari dapat menimbulkan respons tubuh berupa energi sehingga mendapatkan efek penyembuhan (Starkey, 2004). Terapi modalitas yang diterapkan pada lansia diabetisi, yaitu: manajemen nyeri, perawatan gangren, perawatan luka baru, perawatan luka kronis, latihan peregangan, range of motion, dan terapi hiperbarik.
  3. Terapi komplementer (complementary and alternative medicine/CAM). Terapi komplementer adalah penyembuhan alternatif untuk melengkapi atau memperkuat pengobatan konvensional maupun biomedis (Cushman & Hoffman, 2004; Xu, 2004) agar bisa mempercepat proses penyembuhan. Pengobatan konvensional (kedokteran) lebih mengutamakan penanganan gejala penyakit, sedangkan pengobatan alami (komplementer) menangani penyebab penyakit serta memacu tubuh sendiri untuk menyembuhkan penyakit yang diderita (Sustrani, Alam & Hadibroto, 2005).
Ranah terapi komplementer dan bentuk-bentuk terapi komplementer untuk lansia diabetisi (Cushman & Hoffman, 2004):
  1. Pengobatan alternative : Terapi herbal, akupunktur, pengobatan herbal Cina
  2. Intervensi tubuh dan pikiran : Meditasi, hipnosis, terapi perilaku, relaksasi Benson, relaksasi progresif, guided imagery, pengobatan mental dan spiritual
  3. Terapi bersumber bahan organik : Terapi diet DM, terapi jus, pengobatan orthomolekuler (terapi megavitamin), bee pollen, terapi lintah, terapi larva
  4. Terapi pijat, terapi gerakan somatis, dan fungsi kerja tubuh : Pijat refleksi, akupresur, perawatan kaki, latihan kaki, senam
  5. Terapi energi : Qigong, reiki, terapi sentuh, latihan seni pernafasan tenaga dalam, Tai Chi
  6. Bioelektromagnetik : Terapi magnet
Bentuk intervensi terapi modalitas dan komplementer memerlukan kajian dan pengembangan yang disesuaikan dengan peran dan fungsi perawat, terutama pada agregat lansia diabetisi.
Peran dan Fungsi Perawat Komunitas
Perawat komunitas memiliki peran dan fungsi (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999; Alllender & Spradley, 2005), sebagai berikut :

  • Advokat. Advokasi pada lansia diabetisi bertujuan untuk membantu lansia agar dapat mengelola DM secara mandiri. Peran advokasi, yaitu: selaku penasehat bagi individu, keluarga dan kelompok lansia diabetisi, memberikan informasi mengenai layanan kesehatan bagi diabetisi, dan mengupayakan sistem pelayanan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan lansia diabetisi.


  • Kolaborator. Perawat komunitas bekerjasama dengan berbagai profesi kesehatan (dokter, ahli gizi, fisioterapis, dokter gigi), organisasi yang berada di komunitas (TP-PKK, posbindu, LLI, Perkumpulan Diabetisi, atau Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia), sekolah, dan pemerintah (Dinas Kesehatan, Dinas Sosial).


  • Konsultan. Perawat komunitas berlaku sebagai konsultan bagi individu, keluarga, dan kelompok lansia diabetisi.


  • Pelaksana. Perawat komunitas juga memberikan intervensi keperawatan langsung kepada lansia diabetisi sebagai individu, keluarga, kelompok dan populasi.


  • Konselor. Perawat komunitas melakukan konseling untuk membantu lansia diabetisi dalam memilih penyelesaian masalah yang sedang dihadapi.


  • Pendidik. Perawat komunitas memberikan pendidikan kesehatan baik pada tingkat prevensi primer, sekunder maupun tersier agar lansia diabetisi dapat mengelola DM secara mandiri.


  • Peneliti. Perawat komunitas berperan sebagai peneliti. Riset keperawatan dilakukan untuk memperkuat dasar-dasar keilmuan dalam kegiatan praktik klinik, pendidikan, dan menejemen keperawatan pada agregat lansia diabetisi (Ross, Mackenzie, & Smith, 2003). Sedangkan praktik keperawatan yang berdasarkan fakta empiris (evidence based nursing) bertujuan untuk memberikan cara menurut fakta terbaik dari riset yang diaplikasikan secara hati-hati dan bijaksana dalam tindakan preventif, pendeteksian, maupun asuhan keperawatan bagi agregat lansia diabetisi (Cullum, 2001). Penerapan hasil penelitian dalam intervensi keperawatan komunitas pada agregat lansia diabetisi bermanfaat untuk memperbaiki pelayanan kesehatan yang berorientasi pada efektifitas pembiayaan (cost effectiveness).


  • Case manager. Perawat komunitas dalam mengelola program PKPDM menggunakan pendekatan manajemen kasus. Perawat komunitas melaksanakan lima tahapan dalam pengambilan keputusan, yaitu: pengkajian, perencanaan, mengadakan kerjasama (merujuk, koordinasi dan advokasi), memonitoring dan melakukan evaluasi.




  • Posting by Zen

    Source : -



    Kamis, 30 Desember 2010

    8 Waktu Terbaik Untuk Otak

    Banyak yang menduga hanya energi atau berat badan yang dapat berfluktuasi selama satu hari. Padahal otak manusia juga memiliki irama tersendiri dan ada waktu-waktu terbaiknya. Kapan saja waktu brilian untuk melakukan aktivitas tertentu?


    Waktu Santai


    Seperti dikutip dari Health.MSN, Senin (4/10/2010) ada 8 waktu tertentu yang mana seseorang bisa menjadi brilian dalam melakukan tugas-tugasnya, yaitu:

    Jam 7-9 pagi: Saat terbaik untuk meningkatkan semangat dan gairah
    "Waktu tersebut merupakan saat yang sempurna untuk meningkatkan ikatan dengan pasangan ketika baru bangun tidur," ujar Ilia Karatsoreos, PhD, ahli saraf dari Rockefeller University.

    Hal ini karena kadar hormon oksitosin (hormon cinta) berada di level tertinggi setelah bangun tidur. Waktu ini merupakan saat yang tepat untuk memperkuat hubungan dengan orang-orang yang paling penting dalam hidup. Peneliti Inggris menuturkan bahwa kadar oksitosin pada laki-laki akan berangsur-angsur menurun seiring berjalannya waktu.

    Jam 9 pagi sampai 11 siang: Saat terbaik untuk kreativitas
    Pada waktu tersebut otak memiliki hormon kortisol (hormon stres) yang cukup, sehingga dapat membantu memfokuskan pikiran dan hal ini tidak dipengaruhi oleh usia berapapun.

    Saat ini merupakan waktu yang prima untuk belajar serta mengerjakan tugas yang membutuhkan analisa dan konsentrasi. Karena itu saatnya mengembangkan ide baru, membuat presentasi atau melakukan brainstorming.

    Jam 11 sampai jam 2 siang: Saat terbaik untuk melakukan tugas yang sulit
    Peneliti Jerman menuturkan saat tersebut hormon melatonin (hormon tidur) telah menurun tajam, sehingga tubuh lebih siap untuk mengerjakan beban proyek atau pekerjaan yang sulit dan keras.

    Namun sebaiknya tetap tidak melakukan beberapa tugas secara bersamaan, karena akan membuat seseorang kehilngan konsentrasi. Karena itu saatnya melakukan presentasi atau melakukan tugas yang berat lainnya.

    Jam 2-3 siang: Saat terbaik untuk beristirahat
    Untuk mencerna makan siang, maka tubuh akan menarik darah dari otak ke perut, kondisi ini akan membuat asupan darah atau oksigen ke otak sedikit berkurang yang membuat seseorang jadi mengantuk. Untuk itu cobalah beristirahat sebentar dari pekerjaan.

    Jika tetap harus bekerja dan melawan kantuk, cobalah berjalan-jalan sebentar, melakukan meditasi atau minum air putih. Hal ini bisa meningkatkan volume vaskuler dan sirkulasi sehingga meningkatkan aliran darah ke otak.

    Jam 3 siang sampai 6 sore: Saat terbaik untuk kolaborasi
    "Pada saat sekarang otak akan merasa sangat lelah," ujar Paul Nussbaum, PhD, seorang neuropsikolog klinis. Karena itu tak ada salahnya untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja atau melakukan kegiatan yang berbeda. Meskipun otak tidak setajam waktu sebelumnya, tapi seseorang akan merasa lebih santai dan tekanan tubuhnya juga lebih rendah.

    Jam 6 sore sampai 8 malam: Saat terbaik untuk melakukan tugas-tugas pribadi
    Diantara jam tersebut, peneliti menemukan bahwa otak sudah masuk dalam tahap 'pemeliharaan', yaitu ketika produksi melatonin masih berada di level rendah.

    Tak ada salahnya untuk berjalan-jalan seorang diri atau bersama teman-teman, menyiapkan makan malam atau menikmati waktu yang berkualitas bersama anggota keluarga.

    Jam 8-10 malam: Saat terbaik untuk bersantai
    Pada saat ini ada transisi dari kondisi terjaga menjadi mengantuk, karena kadar hormon melatonin akan meningkat cepat. Sementara itu kadar serotonin (neurotransmitter yang berhubungan dengan semangat) akan memudar.

    Rubin Naiman, PhD spesialis masalah tidur dari University of Arizona's Center for Integrative Medicine menuturkan sekitar 80 persen serotonin akan dirangsang dari paparan sinar matahari, sehingga jika matahari tenggelam kadar dalam dalam tubuh juga berkurang.

    "Pada malam hari ketika otak sudah lelah, merupakan cara terbaik untuk membuat tubuh menjadi santai seperti menonton film lucu, merajut atau melakukan hal-hal yang bisa membuat tubuh santai atau rileks," ujar Naiman.

    Jam 10 malam ke atas: Saat terbaik untuk tidur dan menuda segala kegiatan

    Saat ini merupakan waktunya istirahat malam dan tidur, pengaturan cahaya akan dapat membantu membiarkan otak beristirahat. Setelah beberapa jam, otak akan siap kembali untuk memulai aktivitas baru.

    Usahakan untuk mendapatkan tidur yang cukup sebanyak 7-8 jam, sehingga bisa mendapatkan kesehatan dan energi yang optimal di pagi hari.



    Sumber :  Detikhealth.com

    Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)

    Latar Belakang
    B-GELS atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Pertolongan Pertama Pada Gawat Darurat (PPGD) adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari kematian.Di luar negeri, PPGD ini sebenarnya sudah banyak diajarkan pada orang-orang awam atau orang-orang awam khusus, namun sepertinya hal ini masih sangat jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia.

    Prinsip Utama
    Prinsip Utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat darurat. Kemudian filosofi dalam PPGD adalah “Time Saving is Life Saving”, dalam artian bahwa seluruh tindakan yang dilakukan pada saat kondisi gawat darurat haruslah benar-benar efektif dan efisien, karena pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan nyawa dalam hitungan menit saja ( henti nafas selama 2-3 menit dapat mengakibatkan kematian) 

    Langkah-langkah Dasar
    Langkah-langkah dasar dalam PPGD dikenal dengan singkatan A-B-C-D ( Airway - Breathing – Circulation – Disability ). Keempat poin tersebut adalah poin-poin yang harus sangat diperhatikan dalam penanggulangan pasien dalam kondisi gawat darurat 

    Algortima Dasar PPGD
    1.Ada pasien tidak sadar
    2.Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
    3.Beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan berusaha menolong
    4.Cek kesadaran pasien
    a.Lakukan dengan metode AVPU
    b.A –> Alert : Korban sadar jika tidak sadar lanjut ke poin V
    c. V –> Verbal : Cobalah memanggil-manggil korban dengan berbicara keras di telinga korban ( pada tahap ini jangan sertakan dengan menggoyang atau menyentuh pasien ), jika tidak merespon lanjut ke P
    d.P –> Pain : Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku), selain itu dapat juga dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan juga areal diatas mata (supra orbital)
    e.U –> Unresponsive : Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi maka pasien berada dalam keadaan unresponsive

    5.Call for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat di sekitar untuk menelpon ambulans (118) dengan memberitahukan :
    a.Jumlah korban
    b.Kesadaran korban (sadar atau tidak sadar)
    c. Perkiraan usia dan jenis kelamin ( ex: lelaki muda atau ibu tua)
    d.Tempat terjadi kegawatan ( alamat yang lengkap)

    6.Bebaskan lah korban dari pakaian di daerah dada ( buka kancing baju bagian atas agar dada terlihat
    7.Posisikan diri di sebelah korban, usahakan posisi kaki yang mendekati kepala sejajar dengan bahu pasien

    8.Cek apakah ada tanda-tanda berikut :
    a.Luka-luka dari bagian bawah bahu ke atas (supra clavicula)
    b.Pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat (misal : terjatuh dari sepeda motor)
    c. Berdasarkan saksi pasien mengalami cedera di tulang belakang bagian leher

    9.Tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda kemungkinan terjadinya cedera pada tulang belakang bagian leher (cervical), cedera pada bagian ini sangat berbahaya karena disini tedapat syaraf-syaraf yg mengatur fungsi vital manusia (bernapas, denyut jantung)


    a.Jika tidak ada tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift.
     Head Tilt and Chin Lift

    Chin lift dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu (bagian dagu yang keras) ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisi seperti figure berikut. Ini dilakukan untuk membebaskan jalan napas korban.
     
    b.Jika ada tanda-tanda tersebut, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi (imobilisasi) dan lakukanlah Jaw Thrust
     Jaw Thrust

    Gerakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cedera lebih lanjut pada tulang belakang bagian leher pasien.
     
    10. Sambil melakukan a atau b di atas, lakukan lah pemeriksaan kondisi Airway (jalan napas) dan Breathing (Pernapasan) pasien.
    11. Metode pengecekan menggunakan metode Look, Listen, and Feel
     
    Look : Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernapas), apakah gerakan tersebut simetris ?
    Listen : Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara nafas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan sebagian)

     
    Jenis-jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan nafas :
    a.Snoring : suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan jalan napas bagian atas oleh benda padat, jika terdengar suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara cross-finger untuk membuka mulut (menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk tangan yang digunakan untuk chin lift tadi, ibu jari mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke bawah). Lihatlah apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan korban (eg: gigi palsu dll). Pindahkan benda tersebut
    Cross Finger

    b. Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan oleh cairan (eg: darah), maka lakukanlah cross-finger(seperti di atas), lalu lakukanlah finger-sweep (sesuai namanya, menggunakan 2 jari yang sudah dibalut dengan kain untuk “menyapu” rongga mulut dari cairan-cairan).

     
    Finger Sweep

    c.Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan karena pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap lakukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja.

    Jika suara napas tidak terdengar karena ada hambatan total pada jalan napas, maka dapat dilakukan :
    a.Back Blow sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan telapak tangan daerah diantara tulang scapula di punggung
    b.Heimlich Maneuver, dengan cara memposisikan diri seperti gambar, lalu menarik tangan ke arah belakang atas.


     Heimlich Maneuver

    c.Chest Thrust, dilakukan pada ibu hamil, bayi atau obesitas dengan cara memposisikan diri seperti gambar lalu mendorong tangan kearah dalam atas.
     Chest Thrust

    Feel : Rasakan dengan pipi pemeriksa apakah ada hawa napas dari korban ?
    12. Jika ternyata pasien masih bernafas, maka hitunglah berapa frekuensi pernapasan pasien itu dalam 1 menit (Pernapasan normal adalah 12 -20 kali permenit)
    13. Jika frekuensi nafas normal, pantau terus kondisi pasien dengan tetap melakukan Look Listen and Feel
    14. Jika frekuensi nafas < 12-20 kali permenit, berikan nafas bantuan (detail tentang nafas bantuan dibawah)
    15. Jika pasien mengalami henti nafas berikan nafas buatan (detail tentang nafas buatan dibawah)
    16. Setelah diberikan nafas buatan maka lakukanlah pengecekan nadi carotis yang terletak di leher (ceklah dengan 2 jari, letakkan jari di tonjolan di tengah tenggorokan, lalu gerakkan lah jari ke samping, sampai terhambat oleh otot leher (sternocleidomastoideus), rasakanlah denyut nadi carotis selama 10 detik.



    Pengecekan Nadi Carotis

    17. Jika tidak ada denyut nadi maka lakukanlah Pijat Jantung(figure D dan E , figure F pada bayi), diikuti dengan nafas buatan(figure A,B dan C),ulang sampai 6 kali siklus pijat jantung-napas buatan, yang diakhiri dengan pijat jantung.


     Pijat Jantung(figure D dan E , figure F pada bayi), diikuti dengan nafas buatan(figure A,B dan C)

    18. Cek lagi nadi karotis (dengan metode seperti diatas) selama 10 detik, jika teraba lakukan Look Listen and Feel (kembali ke poin 11) lagi. jika tidak teraba ulangi poin nomer 17.
    19. Pijat jantung dan nafas buatan dihentikan jika
    a.Penolong kelelahan dan sudah tidak kuat lagi
    b.Pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian (kaku mayat)
    c.Bantuan sudah datang
    d.Teraba denyut nadi karotis
    20. Setelah berhasil mengamankan kondisi diatas periksalah tanda-tanda shock pada pasien :
    a.Denyut nadi >100 kali per menit
    b.Telapak tangan basah dingin dan pucat
    c.Capilarry Refill Time > 2 detik ( CRT dapat diperiksa dengan cara menekan ujung kuku pasien dg kuku pemeriksa selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yg dibutuhkan agar warna ujung kuku merah lagi)
    21. Jika pasien shock, lakukan Shock Position pada pasien, yaitu dengan mengangkat kaki pasien setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi darah akan lebih banyak ke jantung


     Shock Position

    22. Pertahankan posisi shock sampai bantuan datang atau tanda-tanda shock menghilang
    23. Jika ada pendarahan pada pasien, coba lah hentikan perdarahan dengan cara menekan atau membebat luka (membebat jangan terlalu erat karena dapat mengakibatkan jaringan yg dibebat mati)
    24. Setelah kondisi pasien stabil, tetap monitor selalu kondisi pasien dengan Look Listen and Feel, karena pasien sewaktu-waktu dapat memburuk secara tiba-tiba.

    Nafas Bantuan
    Nafas Bantuan adalah nafas yang diberikan kepada pasien untuk menormalkan frekuensi nafas pasien yang di bawah normal. Misal frekuensi napas : 6 kali per menit, maka harus diberi nafas bantuan di sela setiap nafas spontan dia sehingga total nafas permenitnya menjadi normal (12 kali).
     

    Prosedurnya :
    1. Posisikan diri di samping pasien
    2. Jangan lakukan pernapasan mouth to mouth langsung, tapi gunakan lah kain sebagai pembatas antara mulut anda dan pasien untuk mencegah penularan penyakit2
    3. Sambil tetap melakukan chin lift, gunakan tangan yg tadi digunakan untuk head tilt untuk menutup hidung pasien (agar udara yg diberikan tidak terbuang lewat hidung).
    4. Mata memperhatikan dada pasien
    5. Tutupilah seluruh mulut korban dengan mulut penolong



    6.Hembuskanlah nafas satu kali ( tanda jika nafas yg diberikan masuk adalah dada pasien mengembang)
    7.Lepaskan penutup hidung dan jauhkan mulut sesaat untuk membiarkan pasien menghembuskan nafas keluar (ekspirasi)
    8.Lakukan lagi pemberian nafas sesuai dengan perhitungan agar nafas kembali normal

    Nafas Buatan

    Cara melakukan nafas buatan sama dengan nafas bantuan, bedanya nafas buatan diberikan pada pasien yang mengalami henti napas. Diberikan 2 kali efektif (dada mengembang )

    Pijat Jantung

    Pijat jantung adalah usaha untuk “memaksa” jantung memompakan darah ke seluruh tubuh, pijat jantung dilakukan pada korban dengan nadi karotis yang tidak teraba. Pijat jantung biasanya dipasangkan dengan nafas buatan (seperti dijelaskan pada algortima di atas)

    Prosedur pijat jantung :
    1. Posisikan diri di samping pasien
    2. Posisikan tangan seperti gambar di center of the chest ( tepat ditengah-tengah dada)



    Posisi Tangan di dada Pasien

    3. Posisikan tangan tegak lurus korban seperti gambar



    4.Tekanlah dada korban menggunakan tenaga yang diperoleh dari sendi panggul (hip joint)
    5.Tekanlah dada kira-kira sedalam 4-5 cm (seperti gambar kiri bawah)



    6. Setelah menekan, tarik sedikit tangan ke atas agar posisi dada kembali normal (seperti gambar kanan atas)
    7. Satu set pijat jantung dilakukan sejumlah 30 kali tekanan, untuk memudahkan menghitung dapat dihitung dengan cara menghitung sebagai berikut :
    Satu Dua Tiga Empat SATU
    Satu Dua Tiga Empat DUA
    Satu Dua Tiga Empat TIGA
    Satu Dua Tiga Empat EMPAT
    Satu Dua Tiga Empat LIMA
    Satu Dua Tiga Empat ENAM

    8. Prinsip pijat jantung adalah :
    a. Push deep
    b. Push hard
    c. Push fast
    d. Maximum recoil (berikan waktu jantung relaksasi)
    e. Minimum interruption (pada saat melakukan prosedur ini penolong tidak boleh diinterupsi)

    Perlindungan Diri Penolong

    Dalam melakukan pertolongan pada kondisi gawat darurat, penolong tetap harus senantiasa memastikan keselamatan dirinya sendiri, baik dari bahaya yang disebabkan karena lingkungan, maupun karena bahaya yang disebabkan karena pemberian pertolongan.

    Poin-poin penting dalam perlindungan diri penolong :
    1.Pastikan kondisi tempat memberi pertolongan tidak akan membahayakan penolong dan pasien
    2.Minimasi kontak langsung dengan pasien, itulah mengapa dalam memberikan napas bantuan sedapat mungkin digunakan sapu tangan atau kain lainnya untuk melindungi penolong dari penyakit yang mungkin dapat ditularkan oleh korban
    3.Selalu perhatikan kesehatan diri penolong, sebab pemberian pertolongan pertama adalah tindakan yang sangat memakan energi. Jika dilakukan dengan kondisi tidak fit, justru akan membahayakan penolong sendiri.


    Acknowledgements
    Gambar-gambar yang digunakan pada tulisan ini didapat dari situs :
    http://home.utah.edu/~mda9899/cprpics.html
    http://www.toadspad.net/ems/graphics/cpr-head-tilt.jpg
    http://www.toadspad.net/ems/graphics/cpr-head-tilt2.gif
    http://z.about.com/f/p/440/graphics/images/en/18158.jpg
    http://www.medtrng.com/cls2000a/fig11-1.gif


    Source : Catatanetja.wordpress.com 

    Posting back by Zen
    Amparita, 30 Desember 2010



    Panduan RJP Terbaru 2010 AHA : Dahulukan Kompresi Dada

     

    The American Heart Association (AHA) mengeluarkan panduan untuk melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) terbaru. Rekomendasi terbaru menunjukkan bahwa penolong harus lebih berfokus pada kompresi dada ketimbang pernapasan buatan melalui mulut.
    Panduan terdahulu (2005) menekankan pada penanganan “ABC” (Airway, Breathing, Chest Compression) yaitu dengan melakukan pemeriksaan jalan napas, melakukan pernapasan buatan melalui mulut, kemudian memulai kompresi dada. Panduan terbaru (2010) yang dikeluarkan oleh AHA lebih menekankan pada penanganan “CAB” (Chest Compression, Airway, Breathing) yaitu dengan terlebih dahulu melakukan kompresi dada, memeriksa jalan napas kemudian melakukan pernapasan buatan. Panduan ini juga mencatat bahwa pernapasan buatan melalui mulut boleh tidak dilakukan pada kekhawatiran terhadap orang asing dan kurangnya pelatihan formal. Sebenarnya, seluruh metode ini memiliki tujuan yang sama, yaitu membuat aliran darah dan oksigen tetap bersirkulasi secepat mungkin.

    Pada tahun 2008, AHA menyatakan bahwa penolong tak terlatih atau mereka yang tidak mau melakukan pernapasan buatan melalui mulut dapat melakukan kompresi dada hingga bantuan medis datang. Panduan terbaru (2010) dari AHA menyarankan kompresi dada terlebih dahulu baik bagi penolong terlatih maupun penolong tidak terlatih.
    The American Heart Association (AHA) menyarankan, ketika seorang dewasa ditemukan tidak responsif dan tidak bernapas atau mengalami kesulitan bernapas, setiap orang yang ada di sekitarnya wajib untuk menghubungi tenaga kesehatan kemudian segera melakukan kompresi dada.
    Setelah mengaktifkan bantuan tenaga kesehatan dan melakukan kompresi dada, maka tindakan berikutnya yang harus dilakukan adalah dengan segera bisa mendapatkan akses terhadap AED (automatic external defibrillator), sebuah alat bantu kejut jantung yang dapat membantu ritme jantung kembali normal.
    Ketiga mata rantai awal ini dapat membantu meningkatkan keberhasilan pertolongan dan angka kehidupan pada korban. Perubahan panduan ini mengacu pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan berarti pada hasil dari tindakan RJP kompresi dada dan pernapasan buatan dengan RJP kompresi dada saja.
    Panduan “Resusitasi Jantung Paru” terbaru ini menjadi lebih mudah dilakukan juga bagi orang awam karena menekankan pada kompresi dada untuk mempertahankan aliran darah dan oksigen dalam  darah tetap mengalir ke jantung dan otak. Kompresi dada memang cenderung lebih mudah untuk dilakukan, dan setiap orang dapat melakukannya.
    Kompresi dada dapat dilakukan dengan meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain dan menekan dengan kuat pada dada korban. Panduan RJP yang baru ini menekankan bahwa penolong harus berfokus memberikan kompresi sekuat dan secepat mungkin, 100 kali kompresi dada per menit, dengan kedalaman kompresi sekitar 5-5,5 cm. Dan, sangat penting untuk tidak bersandar pada dada ketika melakukan kompresi dada pada korban. Penolong tidak perlu takut dan ragu untuk melakukan kompresi dada yang dalam karena risiko ketidakberhasilan justru terjadi ketika kompresi dada yang dilakukan kurang dalam.


    Source:
    American Heart Association
    http://circ.ahajournals.org/content/vol122/18_suppl_3/


    Posting back by Zen 
    Amparita, 30 Desember 2010