Tampilkan postingan dengan label Referensi Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Referensi Penyakit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

Plebitis (Pembengkakan Pembuluh Darah Vena)

1. Pengertian
Phlebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena, Plebitis dikarateristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, kemerahan, bengkak, indurasi dan terba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intra vena (La Rocca, 1998 ). 

Plebitis dapat menyebabkan trombus yang selanjutnya menjadi thromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas dan kemudian diangkut kealiran darah dan masuk jantung maka dapat menimbulkan seperti katup bola yang menyumbat atrioventikular secara mendadak dan menimbulkan kematian (Slyvia, 1995). Hal ini menjadiakan phlebitis sebagai salah satu pemasalahan yang penting untuk dibahas di samping plebitis juga sering ditemukan dalam proses keperawatan ( Jarumi Yati, 2009 ).

2. Penyebab Plebitis
a. Plebitis Kimia
1) pH dan osmolaritas cairan infus yang ekstrem selalu diikuti risiko flebitis tinggi. pH larutan dekstrosa berkisar antara 3 – 5, di mana keasaman diperlukan untuk mencegah karamelisasi dekstrosa selama proses sterilisasi autoklaf, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat lebih flebitogenik dibandingkan normal saline. 

Obat suntik yang bisa menyebabkan peradangan vena yang hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin, amphotrecin B, cephalosporins, diazepam, midazolam dan banyak obat khemoterapi. Larutan infus dengan osmolaritas > 900 mOsm/L harus diberikan melalui vena sentral.

2) Mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran juga merupakan faktor kontribusi terhadap flebitis. Jadi , kalau diberikan obat intravena masalah bisa diatasi dengan penggunaan filter 1 sampai 5 µm

3) Penempatan kanula pada vena proksimal (kubiti atau lengan bawah) sangat dianjurkan untuk larutan infus dengan osmolaritas > 500 mOsm/L Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin. Hindarkan vena pada punggung tangan jika mungkin, terutama pada pasien usia lanjut, karena akan mengganggu kemandirian lansia.

4) Kateter yang terbuat dari silikon dan poliuretan kurang bersifat iritasi dibanding politetrafluoroetilen (teflon) karena permukaan lebih halus, lebih thermoplastik dan lentur. Risiko tertinggi untuk flebitis dimiliki kateter yang terbuat dari polivinil klorida atau polietilen.

b. Plebitis Mekanis
Flebitis mekanis dikaitkan dengan penempatan kanula. Kanula yang dimasukkan ada daerah lekukan sering menghasilkan flebitis mekanis. Ukuran kanula harus dipilih sesuai dengan ukuran vena dan difiksasi dengan baik.

c. Plebitis Bakterial
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap flebitis bakteri meliputi:
1) Teknik pencucian tangan yang buruk
2) Kegagalan memeriksa peralatan yang rusak. Pembungkus yang bocor atau robek mengundang bakteri.
3) Teknik aseptik tidak baik
4) Teknik pemasangan kanula yang buruk
5) Kanula dipasang terlalu lama
6) Tempat suntik jarang diinspeksi visual

3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala phlebitis adalah :
a. Nyeri yang terlokalisasi.
b. Pembengkakan.
c. kulit kemerahan timbul dengan cepat di atas vena
d. pada saat diraba terasa hangat
e. panas tubuh cukup tinggi (medicaster,2009)

4. Pencegahan dan Mengatasi Phlebitis ( Darmawan,2009 )
a. Mencegah flebitis bacterial.
Pedoman ini menekankan kebersihan tangan, teknik aseptik, perawatan daerah infus serta antisepsis kulit. Walaupun lebih disukai sediaan chlorhexidine-2%, tinctura yodium , iodofor atau alkohol 70% juga bisa digunakan.

b. Selalu waspada dan jangan meremehkan teknik aseptik.
Stopcock sekalipun (yang digunakan untuk penyuntikan obat atau pemberian infus IV, dan pengambilan sampel darah) merupakan jalan masuk kuman yang potensial ke dalam tubuh. Pencemaran stopcock lazim dijumpai dan terjadi kira-kira 45 – 50% dalam serangkaian besar kajian.

c. Rotasi kanula
May dkk(2005) melaporkan di mana mengganti tempat (rotasi) kanula ke lengan kontralateral setiap hari pada 15 pasien menyebabkan bebas flebitis. Namun, dalam uji kontrol acak yang dipublikasi baru-baru ini oleh Webster dkk disimpulkan bahwa kateter bisa dibiarkan aman di tempatnya lebih dari 72 jam JIKA tidak ada kontraindikasi. The Centers for Disease Control and Prevention menganjurkan penggantian kateter setiap 72-96 jam untuk membatasi potensi infeksi, namun rekomendasi ini tidak didasarkan atas bukti yang cukup.

d. Aseptic dressing
Dianjurkan aseptic dressing untuk mencegah flebitis. Kasa setril diganti setiap 24 jam.

e. Laju pemberian
Para ahli umumnya sepakat bahwa makin lambat infus larutan hipertonik diberikan makin rendah risiko flebitis. Namun, ada paradigma berbeda untuk pemberian infus obat injeksi dengan osmolaritas tinggi. Osmolaritas boleh mencapai 1000 mOsm/L jika durasi hanya beberapa jam.

Durasi sebaiknya kurang dari tiga jam untuk mengurangi waktu kontak campuran yang iritatif dengan dinding vena. Ini membutuhkan kecepatan pemberian tinggi (150 – 330 mL/jam). Vena perifer yang paling besar dan kateter yang sekecil dan sependek mungkin dianjurkan untuk mencapai laju infus yang diinginkan, dengan filter 0.45mm. Kanula harus diangkat bila terlihat tanda dini nyeri atau kemerahan. Infus relatif cepat ini lebih relevan dalam pemberian infus jaga sebagai jalan masuk obat, bukan terapi cairan maintenance atau nutrisi parenteral.

f. Titrable acidity
Titratable acidity dari suatu larutan infus tidak pernah dipertimbangkan dalam kejadian flebitis. Titratable acidity mengukur jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menetralkan pH larutan infus. Potensi flebitis dari larutan infus tidak bisa ditaksir hanya berdasarkan pH atau titrable acidity sendiri. Bahkan pada pH 4.0, larutan glukosa 10% jarang menyebabkan perubahan karena titrable acidity nya sangat rendah (0.16 mEq/L).Dengan demikian makin rendah titrable acidity larutan infus makin rendah risiko flebitisnya.

g. Heparin dan hidrokortison
Heparin sodium, bila ditambahkan ke cairan infus sampai kadar akhir 1 unit/mL, mengurangi masalah dan menambah waktu pasang kateter. Risiko flebitis yang berhubungan dengan pemberian cairan tertentu (misal, kalium klorida, lidocaine, dan antimikrobial) juga dapat dikurangi dengan pemberian aditif IV tertentu, seperti hidrokortison. Pada uji klinis dengan pasien penyakit koroner, hidrokortison secara bermakna mengurangi kekerapan flebitis pada vena yg diinfus lidokain, kalium klorida atau antimikrobial . 

Pada dua uji acak lain, heparin sendiri atau dikombinasi dengan hidrokortison telah mengurangi kekerapan flebitis, tetapi penggunaan heparin pada larutan yang mengandung lipid dapat disertai dengan pembentukan endapan kalsium.

h. In-line filter
In-line filter dapat mengurangi kekerapan flebitis tetapi tidak ada data yang mendukung efektivitasnya dalam mencegah infeksi yang terkait dengan alat intravaskular dan sistem infus

5. Masalah Kejadian Plebitis
a. Akibat phlebitis bagi penderita
Dampak yang terjadi dari infeksi tindakan pemasangan infus (plebitis) bagi pasien merupakan masalah yang serius namun tidak sampai menyebabkan kematian, tetapi banyak dampak yang nyata yaitu tingginya biaya perawatan diakibatkan lamanya perawatan di rumah sakit.

b. Akibat phlebitis bagi masyarakat
Bertambah panjangnya masa rawat penderita , penderita pulang masih menjadi pembawa kuman selama beberapa bulan,daan dapat menularkan kuman pada keluarga maupun masyarakat sekitarnya.


Sabtu, 07 Januari 2012

Dermatographia (Kulit Mengelupas)


img
1. Deskripsi
Dermatographia adalah suatu kondisi di mana menggaruk kulit dapat menyebabkan kulit mengelupas dan garis merah karena tergores. Kondisi tersebut tidak serius, tetapi dapat menjadi ketidaknyamanan. Dalam dermatographia, sel-sel kulit terlalu sensitif terhadap luka kecil, seperti menggaruk, atau menekan pada kulit. Tanda dan gejala dermatographia mencakup kemerahan, gatal, dan bengkak.

Dalam kebanyakan kasus, gejala dermatographia dapat pergi dalam waktu singkat tanpa pengobatan. Tetapi jika gejala semakin parah atau mengganggu, dokter mungkin menyarankan untuk mengonsumsi antihistamin. Tindakan perawatan diri sederhana juga dapat membantu mengelola dermatographia.

2. Penyebab
Penyebab pasti dari dermatographia tidak jelas. Kondisi tersebut mungkin disebabkan oleh reaksi alergi, namun belum ada alergen tertentu yang telah diidentifikasi. Hal-hal sederhana dapat memicu gejala dermatographia. Sebagai contoh, gesekan dari pakaian atau seprai dapat mengiritasi kulit. Dingin, panas, tekanan, sinar matahari dan juga dapat memicu emosi dermatographia.

3. Gejala
Selain garis merah pada kulit, dermatographia sering tidak menyebabkan masalah. Pada beberapa orang, bagaimanapun, menggaruk atau menggosok kulit dapat menyebabkan iritasi dan ketidaknyamanan.

Tanda dan gejala dermatographia dapat mencakup:
1. Garis merah yang membesar
2. Bengkak
3. Radang
4. Bekas luka garukan
5. Gatal

Gejala dermatographia mungkin akan terlihat dalam beberapa menit setelah kulit tergores atau digaruk. Gejala-gejala dapat berlangsung 30 menit hingga beberapa jam, tetapi biasanya mulai berkurang dalam waktu 15 menit setelah iritasi pada ujung kulit. Dermatographia dapat berkembang secara perlahan dan berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari dan menyebabkan terbakar serta nyeri. Kondisi itu sendiri dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

4. Pengobatan
Gejala dermatographia dapat hilang dnegan sendirinya, dan pengobatan untuk dermatographia umumnya tidak diperlukan. Namun, jika kondisi semakin parah atau mengganggu, dokter dapat merekomendasikan obat antihistamin. Antihistamin memblokir histamin, yaitu bahan kimia inflamasi yang dilepaskan oleh sistem kekebalan tubuh selama reaksi alergi. Dosis rendah antihistamin biasanya menyediakan bantuan pada waktu reaksi.


Sumber : Detikhealth.com


 

Jumat, 09 Desember 2011

Meralgia Paresthetica (Mati Rasa di Paha Karena Saraf Terjepit)


img
1. Deskripsi
Meralgia paresthetica adalah kondisi yang ditandai oleh kesemutan, mati rasa dan nyeri terbakar di bagian luar paha. Penyebab meralgia paresthetica adalah tekanan pada saraf yang memasok sensasi ke permukaan kulit paha.

Pakaian ketat, obesitas, dan kehamilan adalah penyebab umum meralgia paresthetica. Meralgia paresthetica juga dapat disebabkan oleh trauma lokal atau penyakit seperti diabetes.

Dalam kebanyakan kasus, meralgia paresthetica bisa reda dengan tindakan konservatif, seperti mengenakan pakaian longgar. Pada kasus yang parah, pengobatannya dapat menggunakan obat-obatan untuk meringankan ketidaknyamanan hingga operasi.

2. Gejala
Tekanan pada saraf kutaneus lateralis femoralis yang memasok sensasi ke paha atas dapat menyebabkan gejala-gejala dari meralgia paresthetica, antara lain:

a. Kesemutan dan mati rasa di bagian luar paha
b. Rasa sakit terbakar di dalam atau pada permukaan bagian luar paha
c. Nyeri dan kusam di daerah pangkal paha atau bokong
d. Gejala ini umumnya terjadi hanya pada satu sisi tubuh dan dapat semakin terasa ketika berjalan atau berdiri.

3. Penyebab
Meralgia paresthetica terjadi ketika saraf kutaneus lateralis femoralis, yaitu saraf yang memasok sensasi ke permukaan luar paha, tertekan atau terjepit. Saraf kutaneus lateralis femoralis adalah saraf sensorik dan tidak mempengaruhi kemampuan untuk menggunakan otot-otot kaki.

Pada kebanyakan orang, saraf ini melewati pangkal paha ke paha atas tanpa kesulitan. Tapi pada meralgia paresthetica, saraf kutaneus lateralis femoralis terjebak di bawah ligamentum inguinalis yang membentang sepanjang pangkal paha, dari perut ke paha atas.

Penyebab umum tekanan ini adalah kondisi yang menyebabkan tekanan pada pangkal paha, seperti :
1. Pakaian ketat
2. Kegemukan
3. Kehamilan
4. Jaringan parut dekat ligamentum inguinalis karena cedera atau pembedahan
5. Berjalan, bersepeda, atau berdiri untuk jangka waktu yang lama
6. Cedera syaraf, baik karena diabetes atau setelah kecelakaan kendaraan bermotor

4. Perawatan dan Obat-obatan
Pengobatan untuk meralgia paresthetica berfokus pada meringankan tekanan pada saraf.

a. Tindakan Konservatif
Tindakan konservatif efektif bagi kebanyakan orang. Rasa sakit biasanya akan hilang dalam waktu beberapa bulan. Caranya antara lain :
1. Memakai pakaian longgar
2. Menurunkan berat badan
3. Meminum obat penghilang rasa sakit seperti acetaminophen, ibruprofen, atau aspirin.

b. Obat-obatan
Jika gejalanya masih mucul selama lebih dari dua bulan atau rasa sakit bertambah parah, pengobatan dapat mencakup :
1. Suntikan Kortikosteroid
Suntikan dapat mengurangi peradangan dan mengurangi rasa sakit untuk sementara. Kemungkinan efek sampingnya adalah: infeksi sendi, kerusakan saraf, rasa sakit, dan pemutihan kulit di sekitar tempat injeksi.

2. Antidepresan Trisiklik
Obat-obat ini dapat mengurangi rasa sakit. Efek sampingnya antara lain: rasa kantuk, mulut kering, sembelit, dan gangguan fungsi seksual.

3. Gabapentin atau Pregabalin
Obat anti kejang dapat membantu mengurangi gejala yang menyakitkan. Efek sampingnya antara lain: sembelit, mual, pusing, mengantuk, dan badan terasa ringan.

5. Operasi
Operasi jarang dilakukan. Pilihan ini hanya untuk pasien dengan gejala yang berat dan telah lama tidak sembuh.



Sumber : MayoClinic


Selasa, 29 November 2011

Thunderclap Headaches (Sakit Kepala Seperti Petir)

1. Deskripsi
Seperti namanya, Thunderclap Headaches merupakan jenis sakit kepala yang terjadi seperti kilatan petir, tiba-tiba dan parah. Sakit kepala ini dapat mencapai klimaks dalam satu menit dan memerlukan waktu beberapa jam hingga lebih dari seminggu untuk mereda.

Sangat penting untuk mencari bantuan medis darurat dalam kasus ini. Sakit kepala ini merupakan tipe yang jarang dari sakit kepala. Biasanya merupakan tanda dari suatu kondisi yang dapat berpotensi fatal seperti pendarahan dalam atau di sekitar otak.

2. Penyebab
Beberapa Thunderclap Headaches muncul dengan ada alasan fisik yang jelas. Dalam kasus lain, sakit kepala ini dapat merupakan kondisi yang berpotensi mengancam jiwa, antara lain:

1. Perdarahan antara selaput otak dan sekitarnya
2. Sebuah benjolan di pembuluh darah otak yang mungkin pecah
3. Air mata pada lapisan arteri yang memasok darah ke otak
4. Kebocoran cairan serebrospinal akibat robekan pada membran yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang
5. Penyumbatan cairan cerebrospinal oleh kista
6. Perdarahan kelenjar pituitari atau kematian jaringan
7. Infeksi, seperti meningitis atau ensefalitis

3. Gejala
Thunderclap Headaches ditandai dengan rasa sakit tiba-tiba yang sangat parah. Biasanya beberapa pasien menggambarkan sebagai sakit kepala terburuk yang pernah dialami. Sakit kepala tersebut mencapai klimaksnya dalam 1 menit dan kadang-kadang memerlukan waktu hingga 10 hari untuk dapat mereda.

4. Pengobatan
Tidak ada pengobatan untuk Thunderclap Headaches karena merupakan akibat awal dari suatu kondisi lain yang menjadi penyebab. Dengan demikian, jika penyebab teridentifikasi, pengobatan harus menargetkan penyebabnya.

Jika tidak, dokter cenderung meresepkan obat pencegahan dengan dosis harian. Dalam kasus apapun, sakit kepala cenderung berhenti dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.


Sumber : Detikhealth.com


Kamis, 24 November 2011

Vulvodynia (Nyeri Sekitar Pintu Masuk Vagina)

 1. Deskripsi
Vulvodynia adalah rasa sakit kronis di daerah sekitar pintu masuk vagina (vulva) yang penyebabnya tidak dapat diidentifikasi. Rasa sakit, terbakar atau iritasi yang terkait dengan vulvodynia mungkin membuat seseorang sangat tidak nyaman untuk duduk dalam waktu yang lama atau menjadi tidak bergairah melakukan hubungan seksual.

Kondisi tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Jika mengalami vulvodynia, jangan segan-segan untuk berkonsultasi dengan dokter. Beberapa pilihan pengobatan tersedia untuk mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan oleh karena vulvodynia.

2. Penyebab
Penyebab vulvodynia tidak diketahui dengan pasti. Tetapi faktor yang dapat berperan menimbulkan vulvodynia, antara lain:
1. Cedera atau iritasi saraf di daerah sekitar vulva
2. Infeksi vagina
3. Alergi atau hipersensitivitas kulit lokal
4. Perubahan hormonal

Banyak wanita yang mengalami vulvodynia memiliki riwayat pengobatan infeksi jamur atau vaginitis berulang. Beberapa wanita dengan kondisi tersebut kadang memiliki riwayat pelecehan seksual. Vulvodynia tidak menular ketika melakukan hubungan seksual atau juga bukan merupakan tanda kanker.

3. Gejala
Gejala utama vulvodynia adalah nyeri di daerah kelamin, yang dapat dicirikan dengan :
1. Rasa terbakar
2. Rasa nyeri
3. Menyengat
4. Nyeri saat berhubungan intim (dispareunia)
5. Berdenyut
6. Gatal

Rasa sakit yang dialami dapat konstan atau hilang timbul dan dapat bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tetapi juga dapat hilang dengan tiba-tiba seperti saat dimulainya. Seseorang dengan mungkin merasakan nyeri di daerah vulva, atau mungkin terlokalisasi pada area tertentu, seperti pintu masuk vagina.

Kondisi serupa, vestibulitis vulva, dapat menyebabkan rasa sakit hanya ketika diberikan tekanan pada daerah sekitar pintu masuk vagina. Jaringan vulva mungkin terlihat meradang atau bengkak, atau kadang juga tampak normal.

4. Pengobatan
Perawatan vulvodynia fokus pada menghilangkan gejala. Masing-masing wanita yang mengalami vulvodynia dapat memiliki pengobatan yang berbeda-beda. Pengobatan tersebut dapat merupakan pengobatan kombinasi yang terbaik.

Mungkin memerlukan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk memberikan perawatan terhadap gejala volvodynia. Pilihan pengobatan tersebut, antara lain:

1. Obat-obatan
Antidepresan trisiklik atau antikonvulsan dapat membantu mengurangi rasa sakit kronis. Antihistamin juga dapat mengurangi gatal.

2. Biofeedback Therapy
Terapi ini dapat membantu mengurangi rasa sakit dengan mengajarkan pada penderita untuk mengendalikan respon tubuh tertentu. Tujuan dari biofeedback adalah untuk membantu rileks untuk mengurangi sensasi rasa sakit.

Untuk mengatasi vulvodynia, biofeedback dapat diajarkan untuk mengendurkan otot panggul, yang dapat kontraksi untuk mengantisipasi rasa sakit dan benar-benar menyebabkan sakit kronis.

3. Bius Lokal
Obat-obatan, seperti salep lidokain dapat memberikan bantuan sementara untuk meringankan gejala. Dokter mungkin menyarankan penggunaan lidokain 30 menit sebelum hubungan seksual untuk mengurangi ketidaknyamanan.

Jika menggunakan salep lidokain, pasangan juga mungkin mengalami mati rasa sementara setelah kontak seksual.


4. Blok Saraf
Wanita yang telah lama mengalami rasa sakit dan tidak merespon pengobatan lain dapat mengambil manfaat dari suntikan blok saraf lokal.

5. Terapi Dasar Panggul
Banyak wanita dengan vulvodynia memiliki masalah dengan otot-otot dasar panggul. Otot-otot dasar panggul merupakan otot yang mendukung rahim, kandung kemih, dan usus. Latihan untuk memperkuat otot-otot dasar panggul dapat membantu meringankan rasa sakit vulvodynia.

6. Operasi
Dalam kasus di mana daerah yang sakit melibatkan area yang kecil (lokal vulvodynia, vulva vestibulitis), operasi untuk mengangkat kulit dan jaringan yang terkena dapat mengurangi rasa sakit pada beberapa wanita. Prosedur operasi tersebut dikenal dengan nama vestibulectomy.



Sumber : MayoClinic


Sabtu, 22 Oktober 2011

Hipokalemia (Penurunan Kadar Kalium)

1. Pengertian
Hipokalemia (K+ serum < 3,5 mEq/L) merupakan salah satu kelainan elektrolit yang ditemukan pada pasien rawat inap. Di Amerika, 20% dari pasien rawat-inap didapati mengalami hipokalemia1, namun hipokalemia yang bermakna klinik hanya terjadi pada 4—5% dari para pasien ini. 

Kekerapan pada pasien rawat-jalan yang mendapat diuretik sebesar 40%2. Walaupun kadar kalium dalam serum hanya sebesar 2% dari kalium total tubuh dan pada banyak kasus tidak mencerminkan status kalium tubuh; hipokalemia perlu dipahami karena semua intervensi medis untuk mengatasi hipokalemia berpatokan pada kadar kalium serum. 

2. Patofisiologi

 Bagan Periodik Hipokalemia (Klik untuk Memperbesar)
 
a. Perpindahan Trans-selular
Hipokalemia bisa terjadi tanpa perubahan cadangan kalium sel. Ini disebabkan faktor-faktor yang merangsang berpindahnya kalium dari intravaskular ke intraseluler, antara lain beban glukosa, insulin, obat adrenergik, bikarbonat, dsb. Insulin dan obat katekolamin simpatomimetik diketahui merangsang influks kalium ke dalam sel otot. Sedangkan aldosteron merangsang pompa Na+/K+ ATP ase yang berfungsi sebagai antiport di tubulus ginjal. Efek perangsangan ini adalah retensi natrium dan sekresi kalium 1. 
Pasien asma yang dinebulisasi dengan albuterol akan mengalami penurunan kadar K serum sebesar 0,2—0,4 mmol/L2,3, sedangkan dosis kedua yang diberikan dalam waktu satu jam akan mengurangi sampai 1 mmol/L3. Ritodrin dan terbutalin, yakni obat penghambat kontraksi uterus bisa menurunkan kalium serum sampai serendah 2,5 mmol per liter setelah pemberian intravena selama 6 jam. 
Teofilin dan kafein bukan merupakan obat simpatomimetik, tetapi bisa merangsang pelepasan amina simpatomimetik serta meningkatkan aktivitas Na+/K+ ATP ase. Hipokalemia berat hampir selalu merupakan gambaran khas dari keracunan akut teofilin. Kafein dalam beberapa cangkir kopi bisa menurunkan kalium serum sebesar 0,4 mmol/L. Karena insulin mendorong kalium ke dalam sel, pemberian hormon ini selalu menyebabkan penurunan sementara dari kalium serum. Namun, ini jarang merupakan masalah klinik, kecuali pada kasus overdosis insulin atau selama penatalaksanaan ketoasidosis diabetes. 
b. Deplesi Kalium
Hipokalemia juga bisa merupakan manifestasi dari deplesi cadangan kalium tubuh. Dalam keadaan normal, kalium total tubuh diperkirakan 50 mEq/kgBB dan kalium plasma 3,5--5 mEq/L. Asupan K+ yang sangat kurang dalam diet menghasilkan deplesi cadangan kalium tubuh. Walaupun ginjal memberi tanggapan yang sesuai dengan mengurangi ekskresi K+, melalui mekanisme regulasi ini hanya cukup untuk mencegah terjadinya deplesi kalium berat. Pada umumnya, jika asupan kalium yang berkurang, derajat deplesi kalium bersifat moderat. Berkurangnya asupan sampai <10 mEq/hari menghasilkan defisit kumulatif sebesar 250 s.d. 300 mEq (kira-kira 7-8% kalium total tubuh) dalam 7—10 hari4. Setelah periode tersebut, kehilangan lebih lanjut dari ginjal minimal. Orang dewasa muda bisa mengkonsumsi sampai 85 mmol kalium per hari, sedangkan lansia yang tinggal sendirian atau lemah mungkin tidak mendapat cukup kalium dalam diet mereka. 
c. Kehilangan K+ Melalui Jalur Ekstra-renal
Kehilangan melalui feses (diare) dan keringat bisa terjadi bermakna. Pencahar dapat menyebabkan kehilangan kalium berlebihan dari tinja. Ini perlu dicurigai pada pasien-pasien yang ingin menurunkan berat badan. Beberapa keadaan lain yang bisa mengakibatkan deplesi kalium adalah drainase lambung (suction), muntah-muntah, fistula, dan transfusi eritrosit. 
d. Kehilangan K+ Melalui Ginjal
Diuretik boros kalium dan aldosteron merupakan dua faktor yang bisa menguras cadangan kalium tubuh. Tiazid dan furosemid adalah dua diuretik yang terbanyak dilaporkan menyebabkan hipokalemi.

e. Implikasi Klinik pada Pasien Penyakit Jantung 
Tidak mengherankan bahwa deplesi kalium sering terlihat pada pasien dengan CHF. Ini membuat semakin bertambah bukti yang memberi kesan bahwa peningkatan asupan kalium bisa menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko stroke. Hipokalemia terjadi pada pasien hipertensi non-komplikasi yang diberi diuretik, namun tidak sesering pada pasien gagal jantung bendungan, sindrom nefrotik, atau sirosis hati. Efek proteksi kalium terhadap tekanan darah juga dapat mengurangi risiko stroke. 
Deplesi kalium telah dikaitkan dalam patogenesis dan menetapnya hipertensi esensial. Sering terjadi salah tafsir tentang terapi ACE-inhibitor (misal Kaptopril). Karena obat ini meningkatkan retensi kalium, dokter enggan menambah kalium atau diuretik hemat kalium pada terapi ACE-inhibitor. Pada banyak kasus gagal jantung bendungan yang diterapi dengan ACE-inhibitor, dosis obat tersebut tidak cukup untuk memberi perlindungan terhadap kehilangan kalium. 
Potensi digoksin untuk menyebabkan komplikasi aritmia jantung bertambah jika ada hipokalemia pada pasien gagal jantung. Pada pasien ini dianjurkan untuk mempertahankan kadar kalium dalam kisaran 4,5-5 mmol/L. Nolan dkk. mendapatkan kadar kalium serum yang rendah berkaitan dengan kematian kardiak mendadak di dalam uji klinik terhadap 433 pasien di UK. 
Hipokalemia ringan bisa meningkatkan kecenderungan aritmia jantung pada pasien iskemia jantung, gagal jantung, atau hipertrofi ventrikel kanan. Implikasinya, seharusnya internist lebih "care" terhadap berbagai konsekuensi hipokalemia. Asupan kalium harus dipikirkan untuk ditambah jika kadar serum antara 3,5--4 mmol/L. Jadi, tidak menunggu sampai kadar < 3,5 mmol/L. 
3. Derajat Hipokalemia
Hipokalemia moderat didefinisikan sebagai kadar serum antara 2,5--3 mEq/L, sedangkan hipokalemia berat didefinisikan sebagai kadar serum < 2,5 mEq/L. Hipokalemia yang < 2 mEq/L biasanya sudah disertai kelainan jantung dan mengancam jiwa. 

a. Hipokalemia pada Anak
Hipokalemia pada anak juga merupakan gangguan elektrolit yang lazim dijumpai dan memiliki manifestasi beragam serta serius, seperti kelumpuhan otot, ileus paralitik, kelumpuhan otot pernapasan, aritmia jantung, dan bahkan henti jantung. Dari suatu kajian prospektif terhadap 1350 anak yang dirawat-inap6, diagnosis hipokalemia dipikirkan pada setiap anak dengan diare akut dan kronik dengan gambaran klinik leher terkulai, kelemahan anggota gerak, dan distensi abdomen. 

Sebanyak 38 anak didiagnosis sebagai hipokalemia, dengan gejala bervariasi sebagai berikut : 
Sebanyak 85% dari anak yang hipokalemia tersebut mengidap malnutrisi dan 50% di antaranya dikategorikan malnutrisi berat. Berbagai etiologi hipokalemia mencakup gastroenteritis akut dan kronik, renal tubular asidosis, bronkopneumonia, serta penggunaan diuretik. Pemberian kalium oral (20 mEq/L) pada kasus ringan dan infus intravena 40 mEq/L pada kasus berat, diketahui aman dan efektif mengatasi hipokalemia. 

b. Hipokalemia pada Pasien Bedah
Hipokalemia lazim dijumpai pada pasien bedah. K+ < 2,5 mmol/L berbahaya dan perlu tatalaksana segera sebelum pembiusan serta pembedahan. Defisit 200—400 mmol perlu untuk menurunkan K+ dari 4 ke 3 mmol/L. Demikian juga defisit serupa menurunkan K+ dari 3 ke 2 mmol/L. 

- Sebab-sebab
  • Asupan berkurang: asupan K+ normal adalah 40—120 mmol/hari. Umumnya ini berkurang pada pasien bedah yang sudah anoreksia dan tidak sehat.
  • Meningkatnya influks K+ ke dalam sel: alkalosis, kelebihan insulin, ?-agonis, stress, dan hipotermia. Semuanya menyebabkan pergeseran K+ ke dalam sel. Tidak akan ada deplesi K+ sejati jika ini adalah satu-satunya penyebab.
  • Kehilangan berlebihan dari saluran cerna: muntah-muntah, diare, dan drainase adalah gambaran khas seorang pasien sebelum dan setelah pembedahan abdomen. Penyalahgunaan pencahar pada usia lanjut biasa dilaporkan dan bisa menyebabkan hipokalemia pra-bedah.
  • Kehilangan berlebihan dari urin: hilangnya sekresi lambung, diuretik, asidosis metabolik, Mg++ rendah, dan kelebihan mineralokortikoid menyebabkan pemborosan K+ ke urin. Mekanisme hipokalemia pada kehilangan cairan lambung bersifat kompleks. Bila cairan lambung hilang berlebihan (muntah atau via pipa nasogastrik), NaHCO3 yang meningkat diangkut ke tubulus ginjal. Na+ ditukar dengan K+ dengan akibat peningkatan ekskresi K+. Kehilangan K+ melalui ginjal sebagai respons terhadap muntah adalah faktor utama yang menyebabkan hipokalemia. Ini disebabkan kandungan K+ dalam sekresi lambung sedikit. Asidosis metabolik menghasilkan peningkatan transpor H+ ke tubulus. H+ bersama K+ bertukar dengan Na+ , sehingga ekskresi K+ meningkat.
  • Keringat berlebihan dapat memperberat hipokalemia. 
- Risiko
  • Aritmia jantung, khususnya pada pasien yang mendapat digoksin.
  • Ileus paralitik berkepanjangan
  • Kelemahan otot
  • Keram
- Pendekatan Diagnostik
  • Anamnesis biasanya memungkinkan identifikasi faktor penyebab.
  • pH darah dibutuhkan untuk menginterpretasikan K+ yang rendah. Alkalosis biasa menyertai hipokalemia dan menyebabkan pergeseran K+ ke dalam sel. Asidosis menyebabkan kehilangan K+ langsung dalam urin.

c. Hipokalemia pada Pasien Stroke
Dalam suatu kajian observasi terhadap 421 pasien stroke, 150 pasien infark miokard, dan 161 pasien rawat-jalan dengan hipertensi, didapatkan hasil sebagai berikut:8 Hipokalemia didapatkan lebih sering pada pasien stroke dibandingkan pasien infark miokard, yakni 84 (20%) vs 15 (10%), p = .008) atau pasien hipertensi 84 (20%) vs 13 (8%), p < .001. Bahkan, ketika pasien yang diberi diurteik dikeluarkan dari analisis 56 (19%) vs 12 (9%) kelompok pasien infark, p = .014 dan 56 (19%) vs 4 (5%) kelompok hipertensi, p = .005, masing-masing. Pada analisis terhadap kelangsungan hidup, kadar kalium yang lebih rendah ketika pasien masuk berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian. 

4. Tatalaksana Hipokalemia
Untuk bisa memperkirakan jumlah kalium pengganti yang bisa diberikan, perlu disingkirkan dulu faktor-faktor selain deplesi kalium yang bisa menyebabkan hipokalemia, misalnya insulin dan obat-obatan. Status asam-basa mempengaruhi kadar kalium serum. 

a. Jumlah Kalium
Walaupun perhitungan jumlah kalium yang dibutuhkan untuk mengganti kehilangan tidak rumit, tidak ada rumus baku untuk menghitung jumlah kalium yang dibutuhkan pasien. Namun, 40—100 mmol K+ suplemen biasa diberikan pada hipokalemia moderat dan berat. 

Pada hipokalemia ringan (kalium 3—3,5 mEq/L) diberikan KCl oral 20 mmol per hari dan pasien dianjurkan banyak makan makanan yang mengandung kalium. KCL oral kurang ditoleransi pasien karena iritasi lambung. Makanan yang mengandung kalium cukup banyak dan menyediakan 60 mmol kalium 5. 

b. Kecepatan Pemberian Kalium Intravena
Kecepatan pemberian tidak boleh dikacaukan dengan dosis. Jika kadar serum > 2 mEq/L, maka kecepatan lazim pemberian kalium adalah 10 mEq/jam dan maksimal 20 mEq/jam untuk mencegah terjadinya hiperkalemia. Pada anak, 0,5—1 mEq/kg/dosis dalam 1 jam. Dosis tidak boleh melebihi dosis maksimum dewasa. 

Pada kadar < 2 mEq/L, bisa diberikan kecepatan 40 mEq/jam melalui vena sentral dan monitoring ketat di ICU. Untuk koreksi cepat ini, KCl tidak boleh dilarutkan dalam larutan dekstrosa karena justru mencetuskan hipokalemia lebih berat. 

c. Koreksi Hipokalemia Perioperatif
  • KCL biasa digunakan untuk menggantikan defisiensi K+, karena juga biasa disertai defisiensi Cl-.
  • Jika penyebabnya diare kronik, KHCO3 atau kalium sitrat mungkin lebih sesuai.
  • Terapi oral dengan garam kalium sesuai jika ada waktu untuk koreksi dan tidak ada gejala klinik.
  • Penggantian 40—60 mmol K+ menghasilkan kenaikan 1—1,5 mmol/L dalam K+ serum, tetapi ini sifatnya sementara karena K+ akan berpindah kembali ke dalam sel. Pemantauan teratur dari K+ serum diperlukan untuk memastikan bahwa defisit terkoreksi.

d. Kalium IV
  • KCl sebaiknya diberikan iv jika pasien tidak bisa makan dan mengalami hipokalemia berat.
  • Secara umum, jangan tambahkan KCl ke dalam botol infus. Gunakan sediaan siap-pakai dari pabrik. Pada koreksi hipokalemia berat (< 2 mmol/L), sebaiknya gunakan NaCl, bukan dekstrosa. Pemberian dekstrosa bisa menyebabkan penurunan sementara K+ serum sebesar 0,2—1,4 mmol/L karena stimulasi pelepasan insulin oleh glukosa.
  • Infus yang mengandung KCl 0,3% dan NaCl 0,9% menyediakan 40 mmol K+ /L. Ini harus menjadi standar dalam cairan pengganti K+.
  • Volume besar dari normal saline bisa menyebabkan kelebihan beban cairan. Jika ada aritmia jantung, dibutuhkan larutan K+ yang lebih pekat diberikan melalui vena sentral dengan pemantauan EKG. Pemantauan teratur sangat penting. Pikirkan masak-masak sebelum memberikan > 20 mmol K+/jam.
  • Konsentrasi K+ > 60 mmol/L sebaiknya dihindari melalui vena perifer, karena cenderung menyebabkan nyeri dan sklerosis vena.

Kesimpulan
Hipokalemia merupakan kelainan elektrolit yang cukup sering dijumpai dalam praktik klinik, dan bisa mengenai pasien dewasa dan anak. Berbagai faktor penyebab perlu diidentifikasi sebagai awal dari manajemen. Pemberian kalium bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti oleh para klinisi, seandainya diketahui kecepatan pemberian yang aman untuk setiap derajat hipokalemia. Pemberian kalium perlu dipertimbangkan pada pasien-pasien penyakit jantung, hipertensi, stroke, atau pada keadaan-keadaan yang cenderung menyebabkan deplesi kalium. 



Daftar Pustaka
  1. Zwanger M. Hypokalemia. emedicine.com/emerg/topic273.html
  2. Cohn JN, Kowey PR, Whelton PK, Prisant LM. New Guidelines for potassium Replacement in Clinical Practice. Arch Intern Med 2000;160:2429-2436.
  3. Gennari F.J. Hypokalemia: Current Concept. The New England Journal of Medicine 1998 Aug 13;339(7): 451-458
  4. Tannen R.L. Potassium Disorders. In Kokko & Tannen. Fluid and ELectrolytes. WB Saunders Company 3rd ed., p.123
  5. Halperin ML, Goldstein MB. Fluid Electrolyte and Acid-Base Physiology. A problem-based approach. WB Saunders Co. 2nd ed., p 358
  6. Sunil Gomber and Viresh Mahajan. Clinico-Biochemical Spectrum of Hypokalemia. Indian Pediatrics 1999;36:1144-1146
  7. AJ Nicholls & IH Wilson. Perioperative Medicine : managing surgical patients with medical problems. OXFORD University Press; 2000.
  8. Salah E. Gariballa, Thompson G. Robinson and Martin D. Fotherby. Hypokalemia and Potassium Excretion in Stroke Patients. Journal of the American Geriatrics Society 1997;45(12).


Senin, 03 Oktober 2011

Thrombophlebitis (Pembekakan Vena Karena Gumpalan Darah)

 Thrombophlebitis yang sudah terinfeksi

1. Definisi
Thrombophlebitis terjadi ketika terjadi pembengkakan dalam satu atau lebih pada vena sebagai akibat dari pembekuan atau penggumpalan darah. Thrombophlebitis terutama terjadi pada vena di kaki, dan kurang umum pada vena di lengan atau leher.

Kondisi ini biasanya berkembang karena imobilitas untuk jangka waktu yang relatif lama, seperti istirahat setelah operasi atau perjalanan dalam waktu yang lama di pesawat. Jika vena yang terkena tepat di bawah kulit, kasus ini disebut trombophlebitis superfisial. Sedangkan trombophlebitis yang terjadi di dalam jaringan otot disebut dengan deep vein thrombosis (DVT). DVT dapat menyebabkan komplikasi serius jika bekuan menjadi gumpalan (emboli) dan mulai beredar dalam darah, karena dapat menyebabkan penyumbatan arteri paru-paru (emboli paru).

Ada beberapa jenis pengobatan untuk penyakit ini mulai dari pencegahan perawatan diri dan metode untuk pengobatan dan pembedahan.

2. Penyebab
Kerentanan terhadap trombophlebitis meningkat oleh karena kondisi, antara lain:
1. Imobilitas untuk jangka waktu yang relatif lama, seperti ketika bepergian, istirahat setelah serangan jantung, atau operasi.
2. Beberapa jenis kanker, seperti dalam kasus kanker pankreas yang menyebabkan peningkatan procoagulants dalam darah, yaitu zat yang diperlukan untuk pembekuan darah.
3. Memiliki lengan atau kaki lumpuh akibat stroke.
4. Memiliki alat pacu jantung atau memiliki kateter di pembuluh darah pusat yang dapat menurunkan aliran darah dan mengiritasi pembuluh darah.
5. Hamil atau baru saja melahirkan mengakibatkan peningkatan tekanan darah di kaki dan vena pelvis.
6. Kemungkinan peningkatan pembentukan bekuan darah akibat terapi penggantian hormon atau obat pengontrol kelahiran.
7. Memiliki riwayat keluarga dengan kecenderungan pembentukan bekuan darah.
8. Kegemukan
9. Memiliki varises
10. Merokok

3. Gejala Klinis

Gejala-gejala penyakit ini, antara lain:
1. Bengkak dan kemerahan
2. Nyeri saat menyentuh dan sensasi hangat di daerah yang tersentuh

Ketika vena dekat permukaan kulit terpengaruh, dapat terlihat pembuluh merah, keras dan lembut tepat di bawah permukaan kulit. Ketika vena di kaki terkena, kaki dapat menjadi bengkak, lembut, dan nyeri, akan sangat terasa ketika berdiri atau berjalan. Gejala penyakit ini juga dapat disertai dengan demam. Namun, banyak orang dengan trombosis vena tidak memiliki gejala.

Ketika terlihat pembuluh tampak keras, merah, bengkak atau nyeri urat, harus segera mencari perawatan medis. Terutama jika pekerjaan seseorang memungkinkan imobilitas atau jika ada riwayat keluarga trombophlebitis. Perawatan medis darurat harus diusahakan jika gejala yang parah dan disertai dengan sesak nafas atau demam tinggi, yang mungkin merupakan kondisi dari DVT, yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah terutama ke paru-paru.

4. Pengobatan
Jika pembuluh darah yang terkena cukup dangkal, perawatan seharusnya tidak berlangsung lebih dari 2 minggu, tanpa rawat inap. Pasien disarankan melakukan beberapa langkah perawatan diri, seperti mengangkat kaki, mengompres hangat atau menggunakan obat nonsteroidal anti-inflammatory drug (NSAID).

Thrombophlebitis termasuk trombosis dalam vena, dan mungkin memerlukan beberapa perawatan, antara lain :

1. Obat

Obat yang biasa diberikan adalah obat antikoagulan, seperti dalam kasus suntikan heparin yang mencegah penggumpalan semakin membesar. Kemudian diikuti dengan pengobatan warfarin selama beberapa bulan yang memerlukan penentuan dosis secara hati-hati, karena merupakan obat kuat dan dapat mengarah pada efek samping serius jika terjadi kesalahan dosis.

2. Pembalutan Daerah yang Terkena
Dalam beberapa kasus, selain dukungan resep obat yang dianjurkan, dapat dilakukan pembalutan karena mengurangi potensi risiko DVT dan mencegah kambuhnya pembengkakan.

3. Filter
Dalam operasi bedah yang tidak perlu rawat inap di rumah sakit, filter dapat dimasukkan ke dalam pembuluh darah utama dari perut (vena kava) untuk mencegah bekuan yang dari vena-vena kaki yang menuju ke paru-paru. Prosedur ini dilakukan pada pasien yang tidak dapat mengambil antikoagulan.

4. Penghilangan Varises

Seorang dokter bedah dapat menghilangkan varises yang menyebabkan nyeri atau trombophlebitis kambuhan dalam prosedur yang disebut Varicose vein stripping. Prosedur ini, biasanya dilakukan secara rawat jalan, melibatkan penghilangan vena panjang melalui sayatan kecil. Biasanya, pasien akan dapat melanjutkan aktivitas normal dalam > 2 minggu. Menghilangkan vena tidak akan mempengaruhi sirkulasi darah pada kaki karena pembuluh darah yang lebih dalam pada kaki mampu meningkatkan volume darah. Prosedur ini juga biasa dilakukan untuk alasan kosmetik.

5. Penghilangan Bekuan atau Bypass
Operasi kadang diperlukan untuk menghilangkan bekuan yang memblokir vena dalam panggul atau perut. Vena terus-menerus diblokir dapat diatasi dengan operasi untuk memotong vena yang direkomendasikan dokter, atau prosedur nonbedah yang disebut angioplasti untuk membuka pembuluh darah. Setelah angioplasti, para dokter memasukkan tabung mesh kawat kecil (stent) untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka.


Sumber : Epharmapedia


 

Sabtu, 01 Oktober 2011

Takikardi (Jantung Berdebar Kencang)

1. Definisi
Takikardia adalah denyut jantung yang lebih cepat daripada denyut jantung normal. Jantung orang dewasa yang sehat biasanya berdetak 60 sampai 100 kali per menit ketika sedang beristirahat.

Denyut jantung dikendalikan oleh sinyal-sinyal listrik yang dikirim ke seluruh jaringan jantung. Takikardia disebabkan oleh suatu kelainan di dalam jantung sehingga menghasilkan sinyal listrik yang cepat.

Dalam beberapa kasus, takikardia tidak menimbulkan komplikasi. Namun, takikardia yang parah dapat mengganggu fungsi normal jantung, meningkatkan risiko stroke, atau menyebabkan serangan jantung mendadak atau kematian.

2. Gejala
Detak jantung terlalu cepat menyebabkan kerja jantung tidak efektif memompa darah ke seluruh tubuh sehingga mengurangi asupan oksigen ke organ dan jaringan. 
 
Hal ini dapat menyebabkan gejala-gejala takikardia :

1. Pusing
2. Sesak napas
3. Jantung berdebar
4. Nyeri dada
5. Pingsan

Beberapa orang dengan takikardia tidak memiliki gejala sehingga hanya diketahui dengan pemeriksaan fisik atau dengan tes jantung yang disebut elektrokardiogram.

3. Penyebab
Takikardia disebabkan gangguan impuls listrik yang mengontrol irama kerja jantung. Banyak hal yang dapat menyebabkannya, yaitu:
1. Kerusakan jaringan jantung akibat penyakit jantung
2. Penyakit atau kelainan jantung bawaan
3. Tekanan darah tinggi
4. Merokok
5. Demam
6. Terlalu banyak minum alkohol
7. Minum minuman berkafein terlalu banyak
8. Efek samping obat
9. Penyalahgunaan narkoba, seperti kokain
10. Ketidakseimbangan elektrolit, mineral atau zat terkait yang diperlukan untuk melakukan impuls listrik
11. Tiroid terlalu aktif (hipertiroidisme)

Dalam beberapa kasus, penyebab pasti takikardia tidak dapat ditentukan :

Sirkuit listrik jantung
Jantung Anda terdiri dari empat ruang - dua ruang atas (atrium) dan dua ruang bawah (ventrikel). Irama jantung dikendalikan oleh sebuah alat pacu jantung alami (sinus node) yang terletak di atrium kanan. Sinus node menghasilkan impuls listrik yang biasanya dimulai setiap detak jantung.

Dari sinus node, impuls listrik berjalan di atrium, menyebabkan otot-otot atrium berkontraksi dan memompa darah ke dalam ventrikel. Impuls listrik kemudian tiba pada sekelompok sel yang disebut node atrioventrikular (nodus AV), satu-satunya jalur untuk menyalurkan sinyal dari atrium ke ventrikel.

AV node memperlambat sinyal listrik sebelum mengirimnya ke ventrikel. Penundaan ini memungkinkan jantung mengisi ventrikel dengan darah. Ketika impuls listrik mencapai otot-otot ventrikel, ventrikel berkontraksi sehingga darah terpompa ke paru-paru dan ke seluruh tubuh.

Takikardia terjadi ketika terdapat masalah pada sinyal-sinyal listrik dan menghasilkan detak jantung lebih cepat dari normal. Jenis takikardia antara lain :


1. Atrial Fibrilasi
Adalah detak jantung yang cepat karena impuls listrik kacau dalam atrium. Sinyal-sinyal ini mengakibatkan kontraksi atrium menjadi cepat. Sinyal listrik kacau yang membombardir nodus AV biasanya menghasilkan irama ventrikel jantung yang tidak teratur. Fibrilasi atrium mungkin bersifat sementara, tetapi beberapa episode tidak akan berakhir jika tidak diobati.

Kebanyakan orang dengan atrial fibrilasi memiliki kelainan struktur jantung yang berhubungan dengan penyakit jantung atau tekanan darah tinggi. Gangguan katup jantung, hipertiroidisme atau konsumsi alkohol yang parah juga dapat menjadi penyebabnya.


2. Atrial Flutter 
Adalah detak atrium jantung yang sangat cepat tapi teratur yang disebabkan oleh sirkuit atrium yang tidak teratur. Sinyal cepat memasuki AV node menyebabkan ventrikuler berkontraksi dengan cepat dan tidak beraturan. Atrial flutter dapat hilang dengan sendirinya atau dapat bertahan jika tidak diobati.

3. Takikardia Supraventricular (SVTs) 
Berasal di suatu tempat di atas ventrikel. Gangguan ini disebabkan oleh sirkuit yang abnormal pada jantung dan biasanya muncul pada saat kelahiran. Gangguan ini menhgasilkan sinyal yang tumpang tindih. Salah satu bentuk SVT bisa membagi sinyal listrik menjadi dua, yang satu sinyal dikirim ke ventrikel dan satunya lagi kembali ke atrium.

Kelainan lain yang umum adalah adanya jalur listrik tambahan dari atrium ke ventrikel yang melewati AV node. Hal ini menyebabkan sinyal turun di satu jalur dan naik di jalur lainnya. Wolff-Parkinson-White syndrome merupakan salah satu gangguan yang menampilkan jalur ekstra.

4. Ventricular Tachycardia 
Adalah detak jantung dengan kecepatan tinggi yang berasal dengan sinyal listrik abnormal dalam ventrikel. Cepatnya detak jantung memungkinkan ventrikel untuk mengisi dan berkontraksi dengan efisien untuk memompa darah. Ventricular tachycardia merupakan keadaan darurat yang mengancam nyawa.

5. Fibrilasi Ventrikel 
Terjadi ketika jantung berdetak cepat, menyebabkan ventrikel tidak efektif memompa darah yang diperlukan tubuh. Jika jantung tidak dikembalikan ke irama normal dalam beberapa menit, bisa berakibat fatal. Kebanyakan orang yang mengalami fibrilasi ventrikel memiliki penyakit jantung atau pernah mengalami trauma yang serius.

4. Perawatan dan Obat-obatan
Tujuan pengobatan untuk tachycardias adalah untuk memperlambat denyut jantung, mencegah gejala, dan mengurangi komplikasi.

Cara untuk memperlambat detak jantung Anda meliputi :

1. Manuver Vagal.
Manuver vagal mempengaruhi saraf vagus yang membantu mengatur detak jantung. Metodenya antara lain; batuk dan meletakkan kantong es yang di wajah.

2. Obat-obatan
Suntikan obat anti-arrhythmic dapat mengembalikan denyut jantung kembali normal. Suntikan obat ini diberikan di rumah sakit. Dokter dapat meresepkan versi pil obat anti-arrhythmic, seperti flecainide (Tambocor) atau propafenone (Rythmol).

3. Kardioversi
Dalam prosedur ini, kejutan listrik dikirimkan ke jantung Anda sehingga mempengaruhi impuls listrik di dalam jantung dan mengembalikan irama normal jantung. Biasanya dilakukan ketika perawatan darurat diperlukan atau saat manuver dan obat tidak efektif.

Dengan perawatan berikut, mungkin dapat mencegah atau mengelola episode takikardia :

1. Ablasi kateter
Dalam prosedur ini, kateter diselipkan ke dalam pembuluh darah jantung. Elektroda di ujung kateter dapat menggunakan energi panas, dingin ekstrim, atau frekuensi radio untuk mengikis jalur listrik yang berlebihan dan mencegah pengiriman sinyal listrik. Prosedur ini sangat efektif, terutama untuk takikardia supraventrikuler. Ablasi kateter juga dapat digunakan untuk mengobati fibrilasi atrium dan atrial flutter.

2. Obat-obatan
Obat anti-arrhythmic dapat mencegah denyut jantung cepat jika diminum secara teratur. Obat lain yang mungkin diresepkan, baik sebagai alternatif atau dalam kombinasi dengan obat anti-arrhythmic, adalah diltiazem (Cardizem), verapamil (Calan), metoprolol (Lopressor, Toprol) dan esmolol (Brevibloc).

3. Alat Pacu Jantung
Sebuah alat pacu jantung adalah sebuah perangkat kecil yang ditanamkan di bawah kulit. Bila perangkat ini mendeteksi adanya detak jantung yang abnormal, alat ini memancarkan pulsa listrik yang membantu jantung mengalahkan sinya yang mengacau jantung.

4. Implan Cardioverter-Defibrilator
Perangkat ini berukuran sebesar ponsel dan ditanamkan di dada melalui pembedahan. ICD terus memonitor detak jantung, mendeteksi peningkatan denyut jantung dan memberikan kejutan listrik yang dikalibrasi secara tepat untuk mengembalikan irama jantung normal.

5. Bedah
Dokter bedah membuat sayatan kecil di jaringan jantung untuk menciptakan pola atau labirin jaringan parut. Jaringan parut tidak menghantarkan listrik sehingga mengganggu impuls listrik liar yang menyebabkan takikardia. Pembedahan biasanya dilakukan hanya jika pilihan pengobatan lain tidak bekerja atau untuk mengobati gangguan jantung yang lain.

- Mencegah pembekuan darah
Beberapa orang dengan takikardia berisiko tinggi mengalami penggumpalan darah yang dapat menyebabkan stroke atau serangan jantung. Dokter mungkin akan meresepkan obat-obat pengencer darah seperti dabigatran (Pradaxa) dan warfarin (Coumadin).

- Mengobati penyakit yang mendasari
Jika takikardia disebabkan masalah medis lain seperti hipertiroidisme, mengobati masalah yang memicu akan mencegah atau meminimalkan takikardia.




Sumber : MayoClinic


 

Kamis, 22 September 2011

Sindrom Sjogren's (Gejala Mata dan Mulut Kering)


img
1. Definisi
Sjogren syndrome atau sindrom Sjogren adalah gangguan sistem kekebalan tubuh yang dapat diidentifikasi dengan dua gejala yang paling umum, yaitu mata kering dan mulut kering.

Sindrom Sjogren seringkali menyertai gangguan sistem kekebalan, seperti rheumatoid arthritis dan lupus. Pada penderita sindrom Sjogren, mata dan mulut biasanya paling pertama terpengaruh.

Pengaruh sindrom Sjogren pada mata dan mulut dapat mengakibatkan penurunan produksi air mata dan air liur. Sindrom Sjogren dapat mempengaruhi kelenjar yang berfungsi untuk memproduksi air mata dan kelenjar yang berfungsi untuk memproduksi air liur (saliva).

Sindrom Sjogren dapat terjadi pada semua usia, namun kebanyakan didiagnosis pada usia lebih dari 40 tahun. Sindrom Sjogren banyak terjadi pada wanita. Pengobatan sindrom ini biasanya berfokus pada menghilangkan gejala, yang dapat reda seiring berjalannya waktu.

2. Penyebab
Penyebab sindrom Sjogren adalah gangguan autoimun. Hal ini mempunyai arti bahwa terjadi kesalahan pada sistem kekebalan tubuh, yang menyerang sel-sel dan jaringan tubuh sendiri .

Para ilmuwan tidak yakin mengapa beberapa orang menderita sindrom Sjogren sedangkan yang lainnya tidak. Gen tertentu menempatkan orang pada risiko tinggi untuk mengalami gangguan autoimun yang menyebabkan sindrom ini. Tetapi mekanisme tertentu dapat memicu terjadinya sindrom ini, seperti infeksi oleh virus atau bakteri tertentu.

Dalam sindrom Sjogren, sistem kekebalan tubuh terlebih dahulu menyebabkan mata dan mulut kering. Tetapi sindrom ini juga dapat merusak bagian tubuh yang lain, antara lain:
1. Sendi
2. Tiroid
3. Ginjal
4. Hati
5. Paru-paru
6. Kulit
7. Saraf

3. Manifestasi Klinis
Dua gejala utama sindrom Sjogren adalah :
1. Mata kering
Mata mungkin mengalami sensasi terbakar, gatal atau seperti berpasir (seolah-olah ada pasir di dalamnya).

2. Mulut kering
Mulut mungkin terasa seperti penuh dengan kapas, sehingga terasa sulit untuk menelan atau berbicara.

Beberapa orang dengan sindrom Sjogren juga mengalami satu atau lebih dari gejala berikut :

1. Nyeri, pembengkakan dan kekakuan yang terjadi secara bersamaan.
2. Kelenjar ludah membengkak, terutama kelenjar yang terletak di belakang rahang dan di depan telinga.
3. Ruam pada kulit dan kulit kering
4. Vagina kering
5. Batuk kering yang persisten
6. Kelelahan yang berkepanjangan

4. Pengobatan
Banyak orang yang dapat mengatasi mata kering dan mulut kering yang terkait dengan sindrom Sjogren dengan menggunakan obat tetes mata yang dijual bebas dan minum air lebih sering. Tetapi beberapa orang mungkin membutuhkan resep obat dari dokter, atau bahkan operasi.

a. Obat-obatan
Tergantung pada gejala yang terjadi pada pasien, obat yang biasa diberikan oleh dokter, antara lain:

1. Obat untuk meningkatkan produksi air liur
Obat-obatan jenis ini antara lain, pilocarpine (Salagen) dan cevimeline (Evoxac) dapat meningkatkan produksi air liur, dan kadang-kadang juga meningkatkan produksi air mata. Efek samping yang dapat terjadi, antara lain berkeringat, sakit perut, diare, dan sering buang air.

2. Obat untuk komplikasi tertentu dari sindrom Sjogren

Jika sindrom ini berkembang menjadi gejala-gejala seperti arthritis, dapat diatasi dengan obat nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) atau obat arthritis yang lain. Jika terjadi infeksi jamur oleh karena keringnya rongga mulut, harus diobati dengan obat antijamur.

3. Obat untuk mengatasi semua gejala sindrom Sjogren secara luas

Hydroxychloroquine (Plaquenil) merupakan obat yang dirancang untuk mengobati malaria, obat ini sering membantu dalam mengobati sindrom Sjogren. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh, seperti methotrexate atau siklosporin, mungkin juga akan diresepkan oleh dokter.

b. Operasi
Untuk mengurangi kering pada mata, dapat dipertimbangkan untuk menjalani prosedur bedah minor untuk menutup saluran air mata. Saluran air mata tersebut merupakan saluran yang mengeluarkan air mata dari mata (punctal occlusion) dan menyebabkan air mata habis, sehingga mata kering. Kolagen atau silikon dapat dimasukkan ke dalam saluran sebagai penutup sementara. Tindakan operasi yang lain juga dapat dengan menggunakan laser untuk menutup saluran air mata secara permanen.


Sumber : MayoClinic



Senin, 19 September 2011

Acanthosis Nigricans (Lipatan Kulit Gelap dan Tebal Seperti Beludru)


img
1. Definisi
Acanthosis nigricans adalah suatu kondisi di mana kulit menjadi gelap, tebal, dan seperti beludru pada bagian tubuh yang berkerut dan melipat seperti ketiak, selangkangan, dan leher. Tidak ada perawatan khusus untuk acanthosis nigricans. Sehingga dapat menyebabkan seseorang dengan kondisi ini sangat mengkhawatirkan penampilan kulit mereka. Adapun beberapa pilihan perawatan yang tersedia hanya untuk membantu meringankan daerah kulit yang terkena.

Acanthosis nigricans dapat menghilang secara perlahan-lahan, seiring dengan dilakukannya perawatan pada beberapa kondisi yang dapat menjadi penyebabnya, seperti obesitas atau diabetes.

2. Penyebab
Kelebihan berat badan atau memiliki tingkat insulin yang tinggi dalam darah, seperti pada diabetes tipe 2, dapat menyebabkan acanthosis nigricans. Jika tingkat insulin pasien terlalu tinggi, maka insulin yang berlebihan dapat merangsang aktivitas sel-sel pada kulit. Sehingga akhirnya menyebabkan perubahan pada kulit. Dalam beberapa kasus, acanthosis nigricans juga dapat diturunkan.

Obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan acanthosis nigricans, seperti hormon pertumbuhan, pil KB, dan niacin dalam dosis tinggi. Selain obat-obatan, masalah hormon lain seperti gangguan endokrin atau tumor juga dapat menyebakan acanthosis nigricans. Pada beberapa kasus yang jarang, jenis kanker tertentu dapat menyebabkan acanthosis nigricans.

3. Manifestasi Klinis
Satu-satunya tanda acanthosis nigricans adalah perubahan kulit yang signifikan. Seperti disebutkan sebelumnya, kulit seseorang mungkin terlihat lebih gelap, lebih tebal, dan menyerupai beludru pada daerah kulit tubuh dengan lipatan. Meskipun dalam beberapa kasus kondisi ini dapat mempengaruhi bibir, telapak tangan, atau telapak kaki, namun daerah yang paling sering terkena adalah leher, pangkal paha, dan ketiak.

Perubahan pada kulit biasanya muncul perlahan-lahan, kadang-kadang selama beberapa bulan atau tahun. Selain itu, dalam beberapa kasus yang jarang, dapat terjadi rasa gatal di daerah yang terkena.

4. Pengobatan
Seperti disebutkan sebelumnya, mengobati kondisi yang menyebabkannya biasanya juga dapat menghilangkan acanthosis nigricans. Selain itu, pada kasus pasien dengan kelebihan berat badan, perubahan dalam diet dapat membantu menurunkan berat badan. Sehingga setelah berat badan turun, acanthosis nigricans juga dapat menghilang secara perlahan-lahan.

Pasien mungkin akan diresepkan krim atau lotion untuk membantu meringankan daerah yang terkena. Beberapa obat yang dapat meringankan acanthosis nigricans, antara lain:

1. Obat per oral (melalui mulut), seperti isotretinoin
2. Lotion yang mengandung vitamin A, seperti tretinoin
3. Suplemen minyak ikan

Pengobatan yang ditujukan untuk mengurangi ketebalan daerah kulit yang terkena acanthosis nigricans, pasien dapat menjalani terapi laser atau dermabrasi.


Sumber : Epharmapedia


Lidah Geografik (Permukaan Lidah Seperti Gambar Pulau - Pulau)


img
1. Definisi
Lidah geografik (Geographic tongue) adalah suatu kondisi kelainan yang terdapat pada permukaan lidah. Lidah biasanya ditutupi oleh papila tipis dan berwarna merah muda keputih-putihan yang menyerupai gambaran pulau-pulau.

Gambaran pulau-pulau yang muncul pada permukaan lidah dapat hilang dan muncul sebagai papila halus, merah, dan sering dengan batas sedikit terangkat. Gambaran pulau-pulau tersebut seringkali juga berpindah-pindah dan berubah-ubah.

Dengan gambaran klinis pada lidah geografis yang menyerupai pulau-pulau tersebut, sehingga secara keseluruhan pada permukaan lidah mempunyai gambaran seperti peta. Kondisi tersebut sering sembuh dalam satu area dan kemudian pindah (migrasi) ke bagian lain pada permukaan lidah.

Lidah geografik juga biasa disebut sebagai benign migratory glossitis. Meskipun lidah geografik mungkin terlihat mengkhawatirkan, hal itu tidak menyebabkan masalah kesehatan dan tidak berhubungan dengan infeksi atau kanker. Lidah geografik kadang-kadang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada lidah dan meningkatkan sensitivitas pada zat tertentu.

2. Penyebab
Penyebab lidah geografik tidak diketahui, dan tidak ada cara untuk mencegah kondisi tersebut. Kondisi lidah geografik pada permukaan lidah kemungkinan merupakan hasil dari aktivitas jenis tertentu dari sel darah putih yang biasanya menginduksi peradangan pada area penyakit atau cedera. Hal ini dikaitkan dengan kesalahan sistem kekebalan tubuh, namun belum diketahui dengan pasti.

Beberapa orang dengan lidah geografik memiliki riwayat keluarga dengan kondisi yang sama. Oleh karena itu, genetika mungkin menjadi faktor dalam beberapa kasus.

3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala lidah geografik, antara lain :
1. Permukaan lidah dan samping lidah halus kemerahan dengan pola yang tidak teratur.
2. Sering terjadi perubahan lokasi, ukuran dan bentuk dari pola tersebut.
3. Ketidaknyamanan, rasa sakit atau sensasi terbakar dalam beberapa kasus, paling sering berhubungan dengan makanan panas, makanan pedas, asin atau asam.

Lidah geografik dapat bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kondisi tersebut dapat menghilang dengan sendirinya, namun dapat muncul lagi sewaktu-waktu.

4. Pengobatan
Lidah georafik biasanya tidak membutuhkan pengobatan secara khusus. Meskipun lidah geografik kadang-kadang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada lidah, namun kondisi tersebut tidak membahayakan.

Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk mengelola ketidaknyamanan atau sensitivitas yang merupakan pengobatan simptomatik (pengobatan untuk gejala), antara lain:

1. Obat penghilang nyeri (analgesik) yang dijual bebas
2. Larutan kumur dengan anestesi (obat bius)
3. Larutan kumur yang mengandung antihistamin
4. Salep atau larutan kumur kortikosteroid

Karena kondisi dapat sembuh dengan sendirinya, mungkin lidah geografik tidak benar-benar memerlukan pengobatan simptomatik (pengobatan untuk gejala).



Sumber : MayoClinic



Jumat, 16 September 2011

Sindrom Fibromialgia (Nyeri dan Kaku Otot)

1. Definisi
Jangan anggap remeh rasa nyeri dan kaku pada bagian otot Anda. Apalagi jika gangguan itu sudah berlangsung lama. Karena bisa jadi Anda terserang fibromialgia.

Sindroma Fibromialgia (Sindroma Nyeri Miofasial, Fibromiositis) merupakan sekumpulan kelainan yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan pada jaringan lunak, termasuk otot, tendon (yang menghubungkan otot dengan tulang) dan ligamen (yang menghubungkan tulang dengan tulang lainnya). Nyeri dan kekakuan ini bisa timbul di seluruh tubuh atau terbatas pada daerah tertentu.

2. Penyebab
Menurut keterangan para ahli, penyakiti ini lebih sering dialami kaum perempuan dibanding laki-laki. Faktor ketegangan emosional dan stres di duga dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Meskipun tidak berbahaya dan tidak berakibat fatal, tetapi gejala yang menetap sangat mengganggu penderitanya.

Penyebabnya tidak diketahui, namun biasanya dipicu oleh :
a. Stres fisik atau mental
b. Kurang tidur
c. Cedera
d. Pemaparan oleh kelembaban atau dingin
e. Infeksi tertentu
f. Artritis rematoid

3. Manifestasi Klinis
Umumnya penderita akan mengalami rasa nyeri dan kaku di bagian persendian ataupun otot. Tak jarang pula rasa nyeri itu mengenai bagian urat yang melekatkan otot pada tulang.

Gejala yang muncul biasanya berupa :
a.  Rasa kaku menyerang di pagi hari
b. Rasa sakit yang luas dan berlangsung lebih dari 3 bulan
c. Sering merasa lelah, gelisah dan tidur yang tidak nyenyak
d. Mengalami gangguan seperti sakit kepala, sindrom iritasi usus besar dan rasa nyeri panggul

4. Perawatan
Selain mengkonsumi obat-obatan, penderita fibromialgia juga dapat melakukan perawatan sendiri, seperti :
a. Mengatur diri Anda dengan sebaik mungkin. Jangan biarkan diri Anda terlarut dalam tekanan hingga menyebabkan stres.

b. Sebaiknya menghindari melakukan aktivitas secara berulang-ulang dan selama berjam-jam. Saat melakuakn aktivitas tersebut, selingilah dengan waktu beristirahat.

c. Rutinlah berolaraga. Pilih jenis olahraga low impat seperti berjalan kaki, naik sepeda, berenang atau sekedar melakukan latihan peregangan

d. Perbaiki sikap tubuh dengan memperkuat otot-otot penopang, terutama otot-otot perut.

e. Perbaiki pola tidur Anda. Akan lebih baik jika Anda tidak menggunakan obat tidur.

5. Pencegahan
Sebenarnya faktor terbaik yang bisa dilakukan untuk menghindari dan mengurangi fibromialgia adalah dengan menjaga kondisi fisik tetap baik, menghindari stres dan tidur yang cukup.

Namun ada juga beberapa faktor pendukung yang bisa Anda terapkan yaitu :
a. Usahakan untuk tidak meninggalkan pekerjaan Anda. Dampak penyakit ini akan makin buruk pada mereka yang menyatakan dirinya tidak mampu untuk melakukan aktivitas apapun dan kemudian memilih berhenti dari semua kegiatannya tersebut

b. Pelajarilah teknik-teknik relaksasi, melakukan pijatan atau mandi dengan air hangat.



Sumber : Conectique.com 




Senin, 12 September 2011

Sindrom Munchausen (Cari Simpati Dengan Pura-pura Sakit)

1. Pengertian
Sindrom ini adalah gangguan mental yang serius di mana seseorang memiliki kebutuhan mendalam atas perhatian orang lain dengan cara berpura-pura sakit atau terluka dengan disengaja. Penderita sindrom ini bisa membuat-buat gejala sakit, ingin melakukan operasi, atau mencoba mencurangi hasil tes laboratorium untuk meraih simpati.

Sindrom Munchausen mempunyai sejumlah kondisi gangguan buatan, baik dibuat-buat ataupun ditimbulkan sendiri. Gangguan buatan dapat berupa psikologis atau fisik.

Sindrom Munchausen merupakan gangguan yang misterius dan sulit untuk diobati. Bantuan medis penting untuk mencegah cedera serius hingga kematian yang mungkin disebabkan oleh tindakan membahayakan diri sendiri.

2. Penyebab
Penyebab sindrom Munchausen tidak diketahui. Orang dengan gangguan ini mungkin pernah mengalami penyakit parah ketika mereka masih muda atau mungkin pernah dilecehkan secara emosional atau fisik.

3. Gejala
Gejala sindrom Munchausen berkutat pada berpura-pura memiliki penyakit atau cedera untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya. Orang dengan sindrom Munchausen berusaha keras agar penipuannya tak terbongkar, sehingga mungkin sulit untuk melihat bahwa sebetulnya gejala mereka merupakan bagian dari gangguan mental yang serius.

Orang dengan gangguan ini bukan bertujuan mendapat manfaat praktis dari kondisi medisnya seperti keluar dari pekerjaan atau memenangkan gugatan. Sindrom ini juga tidak sama dengan keadaan murung.

Orang dengan dengan gangguan seperti depresi atau bipolar benar-benar percaya bahwa mereka sakit, sedangkan orang-orang dengan sindrom Munchausen tidak sakit, tetapi mereka ingin menjadi sakit.

4. Manifestasi Klinis
1. Mendramatisir cerita tentang masalah kesehatannya
2. Sering rawat inap
3. Gejala penyakitnya tidak konsisten atau samar-samar
4. Kondisi kesehatan memburuk tanpa alasan yang jelas
5. Bersemangat menjalani uji kesehatan atau operasi yang berisiko
6. Memiliki pengetahuan terminologi medis dan penyakit yang luas
7. Mencari pengobatan dari banyak dokter atau rumah sakit yang berbeda
8. Memiliki beberapa pengunjung saat dirawat di rumah sakit
9. Enggan jika para profesional kesehatan berbicara dengan keluarga atau teman
10. Berdebat dengan staf rumah sakit
11. Sering meminta obat penghilang rasa sakit atau obat lain

Karena orang-orang dengan sindrom Munchausen ahli dalam berpura-pura memiliki gejala penyakit atau menimbulkan luka nyata pada diri mereka sendiri, terkadang sulit bagi para profesional medis dan orang yang bersimpati untuk mengetahui apakah penyakit yang nyata atau tidak.

Orang dengan sindrom Munchausen membuat gejala atau menyebabkan penyakit dengan beberapa cara, yaitu:

1. Membuat riwayat kesehatan palsu, seperti: mengklaim telah menderita kanker atau HIV kepada orang yang dicintai, penyedia layanan kesehatan atau bahkan kelompok-kelompok internet

2. Memalsukan gejala penyakit, seperti: sakit perut, kejang atau pingsan.

3. Membahayakan diri sendiri. Mereka mungkin melukai atau membuat diri mereka sakit, seperti: menyuntikkan diri dengan bakteri, bensin, susu, atau kotoran. Dapat juga dengan cara meminum obat untuk meniru penyakit, seperti: pengencer darah, obat kemoterapi dan obat diabetes.

4. Mencegah penyembuhan.

5. Merusakkan. Memanipulasi instrumen medis, seperti: memanaskan termometer. Bisa juga mengutak-atik tes laboratorium, seperti: mencemari sampel urin mereka dengan darah atau zat lainnya.

5. Perawatan dan Obat-obatan
Pengobatan sindrom Munchausen sulit sebab tidak ada terapi standar untuk kondisi tersebut. Karena orang dengan sindrom Munchausen ingin berperan sakit, maka mereka tidak bersedia untuk mencari pengobatan. Namun jika didekati dengan cara yang halus, dibujuk dengan niat ingin menyelamatkan mukanya, orang dengan sindrom Munchausen mungkin setuju untuk dirawat oleh penyedia kesehatan mental.

Meskipun tidak ada pengobatan standar untuk sindrom Munchausen, pengobatan sering berfokus pada pengelolaan kondisi daripada mencoba untuk menyembuhkannya. Pengobatan umumnya termasuk psikoterapi dan konseling perilaku.

Jika memungkinkan, terapi keluarga juga mungkin disarankan. Obat dapat digunakan untuk mengobati gangguan mental lainnya seperti depresi atau kecemasan. Dalam kasus yang parah, rawat inap psikiatri sementara mungkin diperlukan.


Sumber : MayoClinic, psychology today


Burning Mouth Syndrome (Sensasi Terbakar Pada Mulut & Lidah)

img
1. Pengertian
Burning mouth syndrome menyebabkan sensasi nyeri terbakar yang kronis di dalam rongga mulut. Rasa sakit dari burning mouth syndrome dapat mengenai lidah, gusi, bibir, pipi bagian dalam (mukosa bukal), langit-langit mulut, atau area luas di seluruh mulut. Nyeri dapat berat, seperti jika tersiram air panas di mulut.

Penyebab burning mouth syndrome seringkali sulit dipastikan. Penentuan penyebab yang tidak pasti seringkali menyulitkan pengobatan. Namun, jika dalam perawatan dokter, setidaknya burning mouth syndrome dapat terkontrol.

Nama lain untuk burning mouth syndrome meliputi scalded mouth syndrome, burning tongue syndrome, burning lips syndrome, glossodynia dan stomatodynia. Penyebab sindrom mulut terbakar dapat diklasifikasikan menjadi primer atau sekunder.

2. Penyebab
a. Burning Mouth Syndrome Primer
Ketika penyebab burning mouth syndrome tidak diketahui, kondisi ini disebut burning mouth syndrome primer atau idiopatik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa burning mouth syndrome primer berkaitan dengan masalah saraf sensorik dari sistem saraf perifer atau sentral.

b. Burning Mouth Syndrome Sekunder
Kadang-kadang sindrom mulut terbakar disebabkan oleh kondisi medis atau penyakit yang mendasari, seperti kekurangan gizi. Dalam kasus ini, disebut burning mouth syindrome sekunder.

Kondisi yang mungkin dapat menyebabkan burning mouth, meliputi :

1. Kering mulut (xerostomia)
Dapat disebabkan oleh berbagai obat atau penyakit.

2. Infeksi jamur mulut (thrush), oral lichen planus atau lidah geografis.

3. Faktor psikologis
Seperti kecemasan, depresi atau kekhawatiran berlebihan.

4. Kekurangan nutrisi
Seperti kekurangan zat besi, seng, folat (vitamin B9), thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), piridoksin (vitamin B6) dan cobalamin (vitamin B12).

5. Gigi palsu
Gigi palsu dapat menekan beberapa otot dan jaringan mulut, menyebabkan nyeri mulut. Bahan yang digunakan dalam gigi palsu juga bisa mengiritasi jaringan dalam mulut.

6. Kerusakan saraf yang mengendalikan rasa dan nyeri di lidah.

7. Alergi terhadap makanan, penyedap makanan, bahan aditif makanan, wewangian, pewarna atau zat lainnya.

8. Refluks asam lambung (gastroesophageal reflux disease) yang memasuki mulut dari saluran pencernaan bagian atas.

9. Obat-obat tertentu
Terutama obat tekanan darah tinggi yang disebut angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor.

10. Oral habit
Seperti mendorong-dorongkan lidah ke gigi depan dan grinding gigi (bruxism).

11. Kelainan endokrin
Seperti diabetes dan hypothyroidism.

12. Ketidakseimbangan hormonal
Seperti yang terkait dengan menopause.

13. Iritasi mulut yang berlebihan
Mungkin hasil dari menyikat lidah secara berlebihan, terlalu sering menggunakan obat kumur atau mengonsumsi minuman yang terlalu banyak asam.

3. Manifestasi Klinis
Gejala burning mouth syndrome, meliputi :
1. Sebuah sensasi terbakar yang dapat mengenai lidah, bibir, gusi, langit-langit mulut, tenggorokan atau seluruh mulut.
2. Kesemutan atau sensasi mati rasa di mulut atau di ujung lidah.
3. Nyeri di dalam rongga mulut yang semakin memburuk.
4. Sensasi mulut kering
5. Semakin sering merasa haus
6. Kehilangan selera makan
7. Perubahan rasa, seperti rasa pahit atau rasa logam

Kapan perlu ke dokter?
Jika mengalami rasa sakit atau nyeri pada lidah, bibir, gusi atau daerah lain dari mulut, berkonsultasilah dengan dokter atau dokter gigi sesegera mungkin. Perlu kerjasama yang baik antara pasien dengan dokter atau dokter gigi agar penyebab dapat ditentukan dan merencanakan pengobatan yang efektif.

4. Pengobatan
Tidak ada satu cara yang pasti untuk mengobati burning mouth syndrome primer. Pengobatan tergantung pada tanda dan gejala tertentu, serta kondisi atau penyakit yang mendasari yang mungkin menyebabkan burning mouth syndrome. Itulah pentingnya untuk mencoba menentukan penyebabnya terlebih dahulu. Apabila penyebabnya diobati, gejala-gejala burning mouth syndrome juga akan membaik.

Tidak ada obat khusus untuk burning mouth syndrome primer. Jika penyebabnya tidak dapat ditemukan, maka perlu mencoba beberapa metode pengobatan. Sehingga menemukan satu atau kombinasi yang sangat membantu dalam mengurangi rasa nyeri di dalam rongga mulut.

Pilihan pengobatan tersebut dapat mencakup :
1. Bentuk lozenge dari jenis obat antikonvulsan clonazepam (Klonopin)
2. Alpha-lipoic acid, sebuah antioksidan kuat yang dihasilkan secara alami oleh tubuh
3. Obat sariawan
4. Antidepresan
5. Vitamin B
6. Terapi perilaku kognitif
7. Obat kumur
8. Produk pengganti air liur
9. Capsaicin, pereda nyeri yang berasal dari cabai.


Sumber : MayoClinic