Tampilkan postingan dengan label Kardiovaskuler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kardiovaskuler. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2011

Palpitasi


1. Definisi Palpitasi
Palpitasi-palpitasi adalah perasaan (sensasi) yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh denyut jantung yang tidak teratur. Beberapa orang dengan palpitasi-palpitasi (jantung berdebar), tidak menderita penyakit jantung atau kelainan irama jantung (abnormal) dan penyebab jantung berdebarnya tidak diketahui. Pada penderita lainnya jantung berdebarnya disebabkan oleh kelainan irama jantung (aritmia).

• ARITMIA merujuk pada denyut jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, tidak teratur atau terlalu dini.
• TACHYCARDIA adalah aritmia cepat (denyut jantung lebih cepat dari 100 detak/menit).
• BRADYCARDIA adalah aritmia lambat (denyut jantung lebih lambat dari 60 detak/menit).
• FIBRILLATION atau fibrilasi adalah irama jantung yang tidak teratur.
• PREMATURE CONTRACTION adalah satu detak jantung yang terjadi lebih dini dari normal dan ini dapat menyebabkan perasaan denyut jantung yang dipaksakan.
• KELAINAN (ABNORMALITIES) pada serambi (atrium), bilik (ventricle) dan sistim penghantar listrik jantung (SA, Sino-Atrial Node dan AV, Atrio-Venticular Node) dapat menjurus ke aritmia yang menyebabkan palpitasi (jantung berdebar).

Atria (atrium kanan dan atrium kiri) adalah kamar-kamar jantung bagian atas.
• Atrium kanan menerima darah vena dari tubuh dan memompanya kedalam ventricle (bilik) kanan.
• Atrium kiri menerima darah yang beroksigen dari paru dan memompanya kedalam ventricle (bilik) kiri.
• Ventricles (bilik-bilik) adalah kamar-kamar jantung bagian bawah.
• Setiap jantung mempunyai dua ventricles (ventricle kanan dan ventricle kiri).
• Ventricle kanan memompa darah vena ke paru dan ventricle kiri memompa darah yang beroksigen ke seluruh tubuh.

SA node adalah pacemaker (pacu jantung) dan berlokasi pada atrium kanan. Sinyal-sinyal elektrik yang diawali pada SA node dipancarkan ke atria dan ventricles untuk menstimulasi kontraksi-kontraksi otot jantung (denyut-denyut jantung). AV node adalah jaringan khusus jantung yang beraksi sebagai station relai elektrik antara atria dan ventricles. Sinyal-sinyal elektrik dari SA node dan atria harus lewat melalui AV node untuk mencapai ventricles.

Ketika aritmia-aritmia cepat (tachycardias) dan kontraksi-kontraksi prematur (premature contractions) terjadi karena aktivitas elektrik atria yang abnormal, mereka disebut atrial tachycardias dan premature atrial contractions (PACs). Ketika tachycardias dan premature contractions terjadi karena aktivitas elektrik ventricles yang abnormal, mereka disebut ventricular tachycardias dan premature ventricular contractions (PVCs).

Aritmia-aritmia perlahan (bradycardias) dapat terjadi karena perlambatan dari sinyal-sinyal elektrik yang diawali oleh SA node, kondisi yang disebut sinus bradycardia. Bradycardias dapat juga berakibat dari derajat-derajat yang bervariasi dari "heart block (rintangan jantung)", dimana obat-obat tertentu atau penyakit-penyakit sistim konduksi elektrik jantung menghalangi transmisi (pengantaran) sinyal-sinyal dari atria ke ventricles (lihat bagian "Bradycardias" dibawah).

Premature contractions adalah denyut-denyut jantung yang terisolasi yang terjadi lebih awal daripada yang diharapkan. Premature contraction diikuti oleh istirahat, ketika sistim elektrik jantung "me-reset" dirinya. Kontraksi setelah pause (istirahat) biasanya lebih kuat daripada kontraksi-kontraksi normal. Pasien-pasien seringkali merasakan kontraksi-kontraksi yang lebih kuat ini sebagai palpitasi-palpitasi.

2. Definisi Denyut Jantung Normal
Pada keadaan normal dan istirahat, jantung orang dewasa akan berdenyut secara teratur antara 60-100 detak/menit. Kecepatan dari denyut jantung ditentukan oleh kecepatan dari signal listrik yang berasal dari pemacu jantung, SA node. Signal listrik dari SA node mengalir melalui kedua serambi, menyebabkan kedua serambi berkontraksi mengalirkan darah ke kedua bilik. Kemudian signal listrik ini mengalir melalui AV node mencapai kedua bilik. Ini menyebabkan kedua bilik berkontraksi memompa darah keseluruh tubuh dan menghasilkan denyutan (pulse). Pengaliran listrik yang teratur ini dari SA node ke AV node menyebabkan kontraksi teratur dari otot jantung yang dikenal dengan sebutan denyut sinus (sinus beat). Waktu istirahat, kecepatan signal listrik dari SA node adalah perlahan, jadi denyut jantung juga perlahan. Waktu olah raga atau waktu sangat kegirangan , kecepatan signal listrik dari SA node menjadi cepat sehingga denyut jantung juga jadi cepat.

Tachycardia yang terjadi karena pengeluaran signal listrik yang cepat oleh SA node disebut sinus tachycardia. Sinus tachycardia umumnya adalah kontraksi cepat dari jantung yang normal sebagai reaksi atas kondisi atau keadaan sakit. Sinus tachycardia dapat menyebabkan debar jantung. Penyebab sinus tachycardia termasuk sakit, demam, hormon tiroid yang berlebihan, tingkat oksigen darah yang rendah, kopi dan obat-obatan seperti cocaine dan amphetamine. Dalam lingkup ini maka sinus tachycardia merupakan jawaban yang memadai dari jantung terhadap stres, dan ini tidak menandakan adanya penyakit otot jantung, klep jantung dan sistim penghantar listrik. Namun pada beberapa pasien, sinus tachycardia dapat sebagai gejala gagal jantung atau penyakit klep jantung yang signifikan.
 
a. Aritmia
Aritmia adalah pola dan/atau perubahan yang cepat dari denyut jantung normal. Beberapa pasien ada yang sama sekali tidak sadar adanya aritmia. Yang lain ada mengeluh tentang gejala-gejala termasuk palpitasi, perasaan lompatan atau getaran jantung, pusing, sesak napas atau nyeri dada.

Pada tachycardias dan bradycardias dapat terjadi kekurangan aliran darah ke otak, arteri koroner dan bagian tubuh lainnya. Aliran darah yang kurang ke otak dapat menyebabkan pusing atau hilang kesadaran atau pingsan(syncope). Suplai darah yang kurang ke arteri koroner menyebabkan angina . Suplai darah yang tidak memadai ke tubuh bagian lainnya menyebabkan letih dan sesak napas.

Penyebab Aritmia
Pada beberapa pasien, aritmia disebabkan oleh penyakit otot jantung, klep jantung atau arteri koroner. Pada pasien yang lainnya aritmia dapat hanya merefleksikan penyakit dari sistim listrik jantung dimana sisa jantung lainnya sehat. Penyebab aritmia lainnya termasuk obat-obatan, alkohol yang berlebihan, kadar hormon tiroid yang berlebihan, tingkat oksigen darah yang rendah, stres dan merokok.

b. Atrial Tachycardias
Contoh-contoh dari atrial tachycardias termasuk atrial fibrillation, atrial flutter, and paroxysmal atrial tachycardia (PAT). Aritmia-aritmia ini terjadi karena gangguan listrik di atria dan/atau di AV node menyebabkan denyut jantung yang cepat.

• Atrial fibrillation adalah atrial tachycardia yang umum. Pada atrial fibrillation beberapa signal listrik yang cepat dan kacau "menyala" dari daerah-daerah yang berbeda di atria, dari pada hanya dari satu daerah pemacu jantung di SA node. Signal-signal ini pada gilirannya menyebabkan kontraksi ventricle yang cepat dan tidak beraturan. Penyebab-penyebab dari atrial fibrillation termasuk serangan jantung, tekanan darah tinggi, gagal jantung, penyakit klep mitral (seperti mitral valve prolapse), tiroid yang aktif berlebihan, gumpalan darah di paru (pulmonary embolism), alkohol yang berlebihan, emphysema, dan radang dari lapisan jantung (pericarditis).

• Atrial flutter adalah sebuah versi dari atrial filbrillation yang lebih beraturan (kacaunya lebih sedikit) ketika signal listrik "menyala" di atria. Kondisi-kondisi yang menyebabkan atrial fibrillation dapat juga menyebabkan atrial flutter. Perawatan atrial flutter sama dengan perawatan atrial fibrillation.

• Paroxysmal Atrial Tachycardia (PAT) merepresentasikan serangkaian denyut jantung yang teratur dan cepat yang berasal dari atrium. Pasien dengan PAT dipercayai mempunyai kelainan pada stasiun relay AV nodenya yang menyebabkan "pengapian" cepat impuls listrik dari atrium yang melangkahi (bypas) AV node pada kondisi-kondisi terentu. Kondisi-kondisi ini termasuk alkohol yang berlebihan, stres, kopi, tiroid yang aktif berlebihan atau minum hormon tiroid yang berlebihan dan obat-obatan tertentu. PAT adalah sebuah contoh dari aritmia dimana kelainan berada di sistim listrik jantung sedangkan otot dan klep jantung normal.

c. Ventricular Arrhythmias
Ventricular arrhythmias adalah aritmia cepat yang berasal dari kamar-kamar jantung bawah (ventricles). Ventricular arrhythmias termasuk ventricular tachycardia dan ventricular fibrillation. Ventricular tachycardia adalah aritmia teratur yang cepat yang berasal dari daerah ventricle. Ventricular fibrillation adalah aritmia yang tidak beraturan yang merupakan hasil dari beberapa signal listrik cepat dan tidak beraturan yang "ditembakkan" dari banyak daerah berlainan di ventricles.

Ventricular tachycardia dan ventricular fibrillation adalah aritmia yang mengancam nyawa yang umumnya dihubungkan dengan serangan jantung atau bekas luka otot jantung dari serangan jantung sebelumnya. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan baca serangan jantung. Penyebab ventricular arrhythmias yang lebih tidak umum termasuk gagal otot jantung yang parah (Cardiomiopathy), keracunan obat (seperti keracunan digoxin/Lanoxin), efek samping obat-obatan dan gangguan elektrolit darah (seperti kadar postasium yang rendah). Ironisnya beberapa obat yang digunakan untuk perawatan aritmia dapat menyebabkan ventricular tachycardias.

d. Bradycardias
Penyakit SA node, AV node dan sistim konduksi di ventricles dapat menyebabkan aritmia lambat (bradycardias). Obat-obatan Calcium channel blockers, seperti verapamil(Calan), Beta-blockers, seperti propanolol (Inderal) dan digoxin (Lanoxin) dapat menyebabkan bradycardias. Obat-obatan ini juga dapat memperburuk bradycardias secara serius pada pasien yang sudah menderita penyakit pada SA node, AV node dan bagian lain dari sistim konduksi. Walaupun beberapa pasien tidak mengalami efek sakit dari bradycardia, namun bradycardias yang serius dapat menyebabkan tekanan darah rendah (shock) dan syncope.

e. Premature Contractions
Denyut jantung awal yang tidak berasal dari pemacu jantung SA node disebut premature contractions. Premature atrial contractions (PACs) dan premature ventricular contractions (PVCs) dapat disebabkan oleh stres, kopi, merokok dan minum alkohol berlebihan. Pada umumnya PACs dan PVCs tidak dihubungkan dengan penyakit jantung yang signifikan jika mereka timbulnya jarang dan terisolasi.

3. Mengevaluasi Palpitasi
Langkah pertama dalam mengevaluasi pasien dengan palpitasi adalah menentukan apakah gejala-gejalanya betul disebabkan oleh aritmia. Karena perawatan yang berbeda-beda untuk tipe-tipe berbeda dari aritmia, maka adalah sangat penting untuk menentukan tipe dari aritmia yang dideritanya. Karena aritmia dapat dihubungkan denga penyakit yang mendasari penyakit klep jantung, otot jantung dan arteri koroner, maka tes sering dilakukan untuk mengeluarkan kemungkinan kelainan jantung. Tes darah juga diadakan untuk mengukur kadar sodium, potasium, kalsium, magnesium, hormon tiroid dan obat-obatan (seperti digoxin).

4. Tes untuk aritmia termasuk EKG, 24-jam monitor ritme jantung (Holter) dan treadmill.
Tes EKG dalam keadaan istirahat adalah perekaman yang singkat aktivitas listrik jantung, umumnya dilakukan ditempat praktek dokter. Tes EKG ini hanya berguna jika aritmia yang menyebabkan palpitasi terjadi waktu tes EKG ini diadakan. Sering tes EKG ini tidak dapat menangkap aritmia, maka monitor Holter diperlukan. Monitor 24 jam Holter adalah cassete tape yang dipakai pasien terus menerus ketika ia mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Pasien bersamaan membuat catatan harian dari palpitasi atau gejala lain selama periode perekaman ini. Gejala palpitasi kemudian dapat dikorelasikan dengan adanya atau tidak adanya aritmia pada Holter tape. Jika kecurigaan adanya aritmia yang menyebabkan palpitasi juga masih belum bisa ditangkap oleh 24 jam monitor Holter, maka sebuah monitor kejadian yang kecil dipakai oleh pasien untuk waktu 1 sampai 2 minggu. Jika pasien mengalami palpitasi maka ia akan menekan tombol merekam ritme jantung sebelum, selama dan sesudah periode ini. Kemudian rekaman ini dapat dievaluasi oleh dokter.

Pada beberapa pasien, treadmill digunakan untuk mendeteksi aritmia yang terjadi hanya pada keadaan berusaha keras. Treadmill adalah perekaman EKG yang terus berlangsung tanpa henti dari jantung ketika pasien sedang menjalankan tingkat latihan yang meningkat. Sebagai tambahan mendeteksi aritmia, treadmill juga adalah tes screening yang berguna untuk kehadiran dari penyempitan arteri koroner yang dapat membatasi suplai dari darah beroksigen ke otot jantung pada waktu tes treadmill.

Echocardiography menggunakan gelombang ultrasound untuk mendapatkan gambaran dari kamar-kamar jantung, klep jantung dan struktur sekitarnya. Echocardiography sangat berguna dalam mendeteksi penyakit klep jantung, seperti mitral valve prolapse, mitral stenosis dan aortic stenosis (contoh dari penyakit klep yang dapat menyebabkan aritmia dan palpitasi). Echocardiography juga berguna dalam mengevaluasi besar ukuran dari kamar-kamar jantung, begitu juga dengan kesehatan dan kontraksi dari otot-otot ventricles. Kombinasi dari echocardiograpy dengan stress echocardiography adalah suatu tes screening yang akurat untuk penyakit arteri koroner yang signifikan. Bagian dari ventricle yang disuplai oleh pembuluh yang menyempit tidak akan berkontraksi sebaik sisa bagian lainnya selama latihan.

Kadang cardiac catheterization (kateterisasi jantung) dengan angiography dilakukan untuk mendeteksi penyakit arteri koroner atau penyakit klep jantung yang dapat memicu aritmia. Arteri koroner mensuplai darah beroksigen dari aorta ke otot jantung. Selama prosedur ini, pipa (tube) plastik kecil yang berlubang dimasukkan dengan diawasi dengan x-ray dari pembuluh arteri di pangkal paha (groin) menuju ke mulut dari kedua arteri koroner utama yang terletak diatas aortic valve (klep aorta). Zat kontras yang terbuat dari Iodine disuntikan kedalam arteri ketika gambar-ganbar x-ray direkam. Ini adalah tes yang akurat dalam mendeteksi, menggambarkan dan mendapatkan luas dan parahnya dari penyakit arteri koroner. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan baca angina (nyeri dada) dan angioplasty.

Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar dari hormon tiroid, potasium, magnesium dan obat-obatan seperti digoxin. Hormon tiroid yang berlebihan dapat menyebabkan aritmia cepat, seperti atrial fibrillation. Kadar darah dari potasium dan magnesium yang rendah dapat menimbulkan aritmia. Keracunan digoxin (Lanoxin) dapat menyebabkan aritmia yang serius, seperti bradycardia dan ventricular tachycardias. Keracunan digoxin dapat diperburuk oleh kadar darah yang rendah dari potasium dan magnesium.


Sumber : www.totalkesehatananda.com



Minggu, 27 Maret 2011

Dengarlah Jantung Anda Bicara (Download Suara Jantung)


Penjelasan Gambar :
Tampang depan dari toraks, menunjukan hubungan permukaan antara tulang, paru-paru (berwarna ungu), pleura (biru), dan jantung (merah). Katup jantung diberi label "B", "T", "A", dan "P".

Denyut jantung pertama: disebabkan oleh katup atrioventricular - Bikuspid/Mitral (B) dan Trikuspid
(T).
Detak jantung kedua diakibatkan oleh katup semilunar -- Aorta (A) dan Pulmonari/Pulmonik (P).






Sumber : http://depts.washington.edu


Selasa, 08 Maret 2011

Anatomi dan Fisiologi Jantung

 Jantung

1. Anatomi dan Fisiologi Jantung
Letaknya didalam rongga dada diantara paru-paru.
Lapisan jantung terdiri dari:
Pericardium > lapisan sebelah dalam,disebut pericardium visceral
                   >lapisan sebelah luar,disebut pericardium parietal.
Diantaranya terdapat sedikit cairan pelumas yang berfungsi untuk mengurangi gesekan oleh gerakan.
Bagian depan melekat pada tulang dada,bagian belakang melekat pada tulang belakang & bagian bawah melekat pada diagframa.

2. Pembagian Sesuai dengan Fungsinya
  • Mempermudah pernyataan konsep urutan anatomis aliran darah. 
  • Jantung memiliki 3 lapisan yaitu:
    1. Terluar  (epikardium) 
    2. Tengah (miokardium) 
    3. Dalam (endokardium)
  • Dipandang dari sudut fungsional, terdapat 2 pompa:
    1. Pompa seb.kanan: menerima darah dari vena (sirkulasi pulmoner)
    2.  Pompa seb.kiri :memompa darah yang sudah teroksigenasi dari paru-paru (sirkulasi sistemik)

- Perjalanan Sirkulasi Darah
VENA CAVA  > ATRIUM KANAN  >  VENTRIKEL KANAN  >  ARTERI PULMONALIS   >  VENA PULMONALIS  >  ATRIUM KIRI  >  VENTRIKEL KIRI  >  AORTA  >  ARTERI  >  ARTERIOLE  >  KAPILER  >  VENULE  >  VENA  >  VENA CAVA

a. Ventrikel Kanan
Selama kontraksi ventrikel, maka setiap ventrikel harus mampu menghasilkan kekuatan yang cukup besar untuk mengalirkan darah yang diterimanya dari atrium ke dalam sirkulasi pulmoner.Ventrikel kanan mempunyai bentuk  pola sabit yang unik,mampu menghasilkan tekanan yang rendah suatu kontraksi yang cukup besar untuk mengalirkan darah kedalam arteri.
Sirkulasi pulmoner merupakan system aliran dengan tekanan yang rendah,resistensinya terhadap aliran darah dari ventrikel jauh lebih kecildaripada system sirkuit yang meningkat tekanannya terhadap aliran darah dari ventrikel kanan jauh lebih ringan daripada beban kerja ventrikel kiri.
Tebal ventrikel kanan hanya 1/3 dari tebal ventrikel kiri, Jika menghadapi peningkatan tekanan pulmoner  sedikit demi sedikit seperti  pada kasus hipertensi pulmoner progresif, maka ventrikel kanan mengalami pembesaran sel jaringan untuk memperbesar daya kekuatannya memompa agar dapat mengatasi peningkatan resistensi pulmoner terhadap pengosongan, tapi pada kasus peningkatan resistensi pulmoner yang akut (emboli).Kemampuan ventrikael kanan untuk memompa darah tak dapat lagi menanggulanginya mengakibatkan kematian.
b. Atrium Kanan
Atrium kanan tipis berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah dan juga sebagai penyalur darah venosa yang berasal dari vena sirkulasi sistemik.
Darah dari vena menuju ke atrium kanan berasal dari V.C superior dan inferior serta sinus koronaria.Dalam vena kava tidak ada katup sejati yang memisahkan vena kava dengan atrium,hanya lipatan  klep atau ikatan otot yang rudimenter.
80% pengembalian melalui vena ke atrium kanan akan mengalir secara pasifke ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis.
20% darah ke ventrikel kanan selama kontraksi atrium.jadi, selama kontraksi atrium, proses pembantu pengisapan ventrikel secara aktif ini disebut “ATRIAL KICK”.Gangguan dalam irama jantung (aritmia) dapat mengurangi pengisian ventrikel dan mengurangi curah ventrikel.

c. Atrium Kiri
Atrium kiri menerima darah yang sudah teroksigenasi dari paru-paru melalui 4 vena pulmonalis.Antara vena pulmonalis dan atrium kiri tak ada katup sejati, karena itu perubahan dalam tekanan darah dalam atrium kiri mudah sekali terefleksi dengan memburuknya keadaan vaskuler pulmoner.
Peningkatan tekanan atrium kiri yang akut akan menyebabkan penyumbatan daerah pulmoner.Attium kiri merupakan ruang yang berdinding tipis dan bertekanan rendah.Darah mengalir dari atrium kiri ke dalam ventrikel kiri melalui katup mitral.

d. Ventrikel Kiri
Ventrikel kiri harus mampu menghasilkan  tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi  resistensi dari sirkulasi sistemik dan menyokong aliran darah jarinagn perifer.Ventrikel kiri mempunyai otot-otot yang tebal dan bentuknya menyerupai lingkaran supaya mempermudah timbulnya tekanan yang tinggi selama ventrikel berkontraksi, bahkan sekat pembatas kedua serambi (septum interventrikuler) juga  membantu memperkuat daya tekan yang ditimbulkan oleh seluruh ventrikel jantung itu pada waktu berkontraksi.
Pada waktu berkontraksi, tekanan ventrikel kiri meningkat 5X lebih tinggi daripada tekanan ventrikel kanan.Kalau komunikasi antara kedua ventrikel itu mengalami suatu kelainan (seperti pada kasus pecahnya sekat antara kedua serambi akibat infark miokard), maka darah akan mengalir dari kiri ke kanan melalui kerusakan itu akibatnya jumlah aliran darah yang normal dari ventrikel melalui aorta akan berkurang.

      e. Katup Jantung


Keempat katup mempertahankan aliran darah melalui keempat bagian jantung dengan satu arah yang tetap.
Ada 2 jenis katup:
  1. Atrioventrikuler (katup AV),atrium & ventrikel
  2. Semilunaris  >  arteri pulmonalis & aorta
Katup ini menutup secara pasif menanggapi tekanan & perubahan isi didalam bagian-bagian jantung.
f. Katup Atriovemtrikuler
Daun katup ini halus dan kuat serta tahan lama.Katup Trikuspidalis terdapat antara atrium kanan dan ventrikel kanan mempunyai 3 daun katup.Katup mitral yang memisahkan antara atrium kiri dan ventrikel kiri disebut  bikuspidalis .Daun katup melekat pada berkas tipis-tipis jaringan berserabut yabg disebut “KORDATENDINEA”.
Kordatendinea meluas menjadi muskuluss papilaris yang merupakan proyeksi otot yang menonjol keluar dari dinding ventrikel sebelah dalam .JIka mengalami kerusakan , maka akan mengalir kembali atau dimuntahkan kembali ka dalam atrium jantung sewaktu ventrikel berkontraksi.

g. Arteri Koronaria
Arteri koronaria keluar > permilaan aorta yang berfungsi memberi darah kepada miokardium.terdapat 2 arteri koronaria utama yaitu kiri & kanan.
  • Arteri koronaria kiri :kebelahan jantung kiri yang terbagi menjadi 2 yakni:Left Anterior Descending (LAD)
    The Circumflex Coronary (CCA)
     
  • Aretri koronaria kanan:kebelahan jantung kanan

h. The Right Coronary Arteri (RCA)
Kebelahan jantung kanan hanya sedikit terdapat anastomosis diantara arteri koronaria utama.Bila terjadi sumbatan arteri koronaria atau salah satu cabangnya maka dapat menghilangkan aliran darah (ischemia) kepada otot jantung.Angina pectoris atau MI yang menjadi penyumbat bekuan darah, deposit/penumpukan lemak pada dinding koronaria.
Catatan : Anastomosisi adalah berkumpulnya buluh-buluh darah /cabang saraf yang berlainan pangkalnya : kalau cabang saraf itu datangnya dari satu pihak saja disebut A.simplek,jika dari kedua belah pihak disebut A.mutua.

3. Sistem Konduksi
Didalam miokardium ada jalan-jalan penghantaran khusus yang berfungsi menjadi irama dan rangsangan yang singkron & juga kontraksi otot jantung.Jaringan penghantar ini memiliki sifat sbb:
  1. Otomatisasi                  : kemampuan untuk mengahasilkan impuls yang teratur.
  2. Irama (ritmisitas)          : pembuluh impulls yang teratur
  3. Daya konduksi             : kemampuan untuk menyalurkan impuls
  4. Daya rangsang             : kemampuan untuk menanggapi stimulasi.
 Karena memiliki sifat ini maka secara spontan ritmis jantung akan menghasilkan impuls yang disalurkan melalui system penghantaran.Untuk merangsang miokardium  & stimulur kontraksi otot.
  • Impuls: nodus sinoatrial (nodus SA) > pemacu (facemaker) alami dari jantung.
  • Nodus SA: di dinding seb.bawah atrium kanan dekat muara vena cava superior.
  • Bachman’s bundle: memungkinkan penyebaran arus ke atrium kiri.
  • Internodal tracts: menghubungkan nodus SA & AV
  • Atrioventrikuler nodes (AV): terletak di sisi kanan septum interatrial.
  • Bundle of His: serabut besar dari serabut bermula dari AV node bercabang menjadi cabang-cabang bundle  (LBB & RBB) kebawah dari kedua bagian septum interventrikuler.LBB bercabang menjadi bagian anterior & posterior.
  • Puerkinje fibers : jalinan serabut pada akhir ujung bundle of his yang mentransmisi impuls kepada  kedua dinding ventricular.
Urutan menjadi aktifnya jantung ad/ sbb:
  1. Depolarisasi dimulai oleh impuls SA node
  2. Impuls menyaber dari kedua atria
  3. Impuls mencapai AV node yang melambatkan impuls kira-kira 0,1 detik
  4. Impuls ditransmisi menurut cabang bundle of his keserabut puerkinje mengaktifkan kedua ventrikel hamper simultan  
  5. Mengaktifkan otot ventrikel dimulai dari apex menuju basis jantung.

4. Curah Jantung
Adalah jumlah darah yang dipompa oleh ventrikel selama satu satuan waktu.Curah jantung pada orang dewasa normal sekitar 5 Liter/menit, namun sangat bervariasi, tergantung kebutuhan metabolism tubuh.Curah jantung (CO) sebanding dengan volume sekunder (SU) kali frekuensi  jantung (HR).
CO =SU X HR
Volume sekuncup ad/ sejumlah darah yang disemburkan setia p denyut, maka curah jatung dapat dipengaruhi oleh perubahaan volume sekuncup maupun frekuensi jantung istirahat pada orang dewasa rata-rata 60-80 X/m3.  


In Memorian Poltekkes Kemenkes Makassar, Prodi Keperawatan Parepare
Sistem Kardiovaskuler oleh H.Muhammad Asikin, S.Pd, S.SiT, M.Si, M.Kes
Semester 3 in Study KMB I
Sumber :

Jumat, 11 Februari 2011

Askep Klien Dengan Angina Pektoris

A. Konsep Dasar Medis

1. Definisi
Angina Pektoris merupakan nyeri dada sementara atau perasaan tertekan ( kontriksi ) didaerah jantung. ( Brenda Walters. 2003 ).
Angina Pektoris adalah nyeri dada yang disebabkan oleh tidak adekuatnya aliran oksigen terhadap miokardium. ( Maryllin E. Doengoes. 2002 Hal 73 ).
Angina Pektoris merupakan suatu penyakit berbahaya yang timbul karena penyempitan arteri yang menyalurkan darah ke otot-otot jantung. ( Dr.John F.Knight. 1997 ).

 
Angina Pektoris

2. Anatomi fisiologi
Jantung adalah organ berongga, berotot yang terletak di tengah thoraks dan menempati rongga antara kedua paru yang disebut mediastinum. Fungsi jantung adalah memompa darah ke jaringan, mensuplai O2 dan nutrisi sambil mengangkut CO2 dan sampah hasil metabolisme. Terdapat dua pompa jantung yang terletak di sebelah kiri dan kanan, keluaran jantung kanan didistribusikan seluruhnya ke paru-paru melalui arteri. Kerja pompa jantung dijalankan oleh kontraktilitas relaksasi ritmik dinding otot. Kontraksi otot disebut sistolik, kamar jantung menjadi lebih kecil karena darah disemburkan keluar. Relaksasi otot jantung disebut diastolik kamar jantung akan terisi darah sebagai persiapan untuk penyemburan berikutnya.

Jantung terbungkus dalam kantung fibrosa tipis yang disebut perikardium. Lapisan luar disebut pericardium parietalis dan lapisan dalam disebut pericardium viceralis yang langsung melekat pada permukaan jantung. Kedua pericardium dipisahkan oleh sedikit cairan pelumas yang berfungsi mengurangi gesekan selama kontraksi jantung.

Jantung terdiri dari tiga lapisan yaitu :
• Lapisan luar : epikardium.
• Lapisan tengah : miokardium, merupakan lapisan otot.
• Lapisan dalam : endokardium.

Impuls jantung dimulai dan berasal dari Nodus Sinatrialis (SA) yang berada di dinding posterior atrium kanan dekat muara vena kava superior. SA Node menghasilkan denyut jantung 60-100 x dalam 1 menit. Kemudian dihantarkan ke AV Node yang berada di atrium kanan dekat muara sinus coronaria. Jalur AV merupakan transmisi impuls atrium dan ventrikel. Penahanan yang terlalu lama atau gagalnya transmisi impuls pada AV Node dikenal sebagai blok jantung. Dari AV, impuls jantung dihantarkan ke berkas his/bundel his yang membelah menjadi cabang kiri dan kanan kemudian di serabut purkinje yang menyebar keseluruhan permukaan dalam ventrikel otot jantung dan akan mengkontraksi jantung. Serabut purkinje juga menghasilkan impuls 20-40 x/menit.
Sirkulasi Peredaran Darah
Darah yang berasal dari vena cava superior dan inferior masuk atrium kanan kemudian ke ventrikel kanan lalu menuju paru-paru melalui arteria pulmonalis. Di paru-paru terjadi difusi CO2 dan O2. Darah yang banyak mengandung O2 keluar melalui vena pulmonalis ke atrium kiri melewati katub bikuspidalis ke ventrikel kiri dan akhirnya dipompa ke seluruh tubuh melalui arcus aorta kemudian melewati pembuluh darah, arteriola, kapiler (di sini terjadi difusi nutrisi dan metabolik jaringan), venula, vena kemudian kembali lagi dengan membawa CO2 ke atrium kanan melalui vena cava superior-inferior.

Ventrikel kiri dan kanan sewaktu diastole akan menghisap darah dari atrium kiri dan kanan melalui katub trikuspidalis dan mitral untuk dilewati darah. Setelah pengisian darah penuh di ventrikel akan berkontraksi maka katup bikuspidalis dan mitral tertutup. Keadaan ini disebut sistolik. Tertutupnya katub trikuspidalis dan mitral menghasilkan bunyi jantung I sedangkan tertutupnya katub aorta dan pulmonal menghasilkan bunyi jantung II. Curah jantung (cardiac output) adalah sejumlah darah yang dipompa jantung ke seluruh tubuh tiap menit. Besarnya curah jantung berubah tergantung dari kebutuhan metabolisme tubuh.

Curah jantung (CO) sebanding dengan volume sekuncup (SV) kali frekuensi jantung (HR).
CO = SV x HR.

Pengaturan Denyut Jantung
Frekuensi jantung sebagian besar berada di bawah pengaturan system saraf otonom yaitu serabut parasimpatis mempersarafi node SA dan AV, mempengaruhi kecepatan dan frekuensi jantung sedangkan simpatis akan memperkuat denyut jantung.
Pengaturan Volume Sekuncup
Volume sekuncup tergantung dari tiga variabel :
- Preload yaitu peningkatan volume terakhir yang meningkatkan kekuatan kontraksi pada saat sistolik.
- Kontraktilitas yaitu kekuatan kontraksi dari jantung.
- After load yaitu besarnya tegangan yang dihasilkan oleh ventrikel selama fase systole agar mampu membuka katub semilunaris dan memompa darah keluar.
Ruang jantung terdiri atas empat ruang, dua ruang bagian atas disebut atrium, dua ruang di bagian bawah disebut ventrikel. Dinding yang memisahkan ruang kanan dan kiri disebut septum.

- Atrium kanan
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah, yang juga sebagai pengatur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik ke dalam ventrikel kanan kemudian ke paru-paru. Darah yang berasal dari pembuluh vena masuk atrium kanan melalui vena cava inferior dan superior dan sinus coronarius.

- Ventrikel kanan
Menghasilkan kontraksi tekanan darah yang cukup untuk memompa darah ke dalam arteri pulmonalis.

- Atrium kiri
Menerima darah yang sudah dioksigenisasi dari paru-paru melalui vena pulmonalis. Darah mengalir dari atrium kiri ke dalam ventrikel kiri melalui katub mitralis.

- Ventrikel kiri
Ventrikel kiri harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sirkulasi sistemik dan mempertahankan aliran darah ke jaringan-jaringan perifer, sekat pembatas kedua ventrikel disebut septum interventrikularis.
Katub Jantung
Katub jantung memungkinkan darah mengalir hanya satu arah ke dalam jantung.
Ada dua katub yaitu :
- Atrioventrikularis
Memisahkan antara atrium dan ventrikel. Terdapat dua jenis yaitu katub trikuspidalis dan mitralis/bikuspidalis. Katub trikuspidalis memisahkan atrium kiri dan ventrikel kiri.

- Semilunaris
Katub semilunaris terletak di antara tiap ventrikel dan arteri yang bersangkutan. Katub antara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis disebut katub pulmonalis. Katub antara ventrikel kiri dan aorta disebut katub aorta.

3. Etiologi
- Penyakit arteri koroner ( CAD ) : gagal jantung konghesif ( CHF ), spasme arteri koroner dipacu oleh latihan, stress, pemajanan terhadap dingin.
- Perokok dan pengkomsumsi Alkohol.
- Makanan yang banyak mengandung serat lemak dan gula.
- Factor genetic ( herediter ).

4. Patofisiologi
Denyut jantung sangat penting, karena apabila ada rangsangan pada bagian tubuh. Dengan demikian arus listrik sebagai pembuka jalan akan menimbulkan kontraksi yang mana akan terjadi denyutan jantung. Hal ini berjalan terus dengan irama yang teratur tanpa berhenti, menurut kecepatan yang disebut tadi, pada umumnya 70x/mnt.

Tetapi jantung selalu pompa, mempunyai 4 ruang sendiri. Yang masing-masing mempunyai peran penting. Karena darah itu dipompakan bukan hanya kepada satu peredaran, melainkan kepada dua peredaran yang sama sekali berbeda.

Yang besar adalah peredararan umum, mengalirkan darah keseluruh bagian tubuh, tetapi setelah tiba diujung perjalanannya darah itu kembali ke sumber semula, perjalanan ini lebih pendek dan melintasi paru-paru yang melintasi komponen darah itu.

Juantung ada dua yaitu jantung sebelah kiri dan jantung sebelah kanan yang masing-masing mempunyai dua ruang, ruang sebelah atas yang disebut atrium ( serambi ), dan bawah ruang sebelah yang disebut ventrikel ( bilik ) masing-masing ruang ini dihubungkan dengan system peredarannya sendiri.satu seri katup yang sederhana namun efisien mengatur perjalanan darah itu sehingga mengalir dengan bebas diantara pembuluh darah, pembuluh yang pada masing-masing ruangan.

Darah dikirim ke atrium disebelah kanan melelui pembuluh-pembuluh utama yang disebut vena ( vene cava ) ini adalah darah yang telah dikumpulkan dari seluruh tubuh pada saat itu, lalu dilimpahkan ke atrium ( serambi )
Pada denyutan jantung yang berikutnya, jantung berkontraksi, lalu darah yang ada di atrium dilimpahkan ke ventrikel. Disebelah kanan ketika katup penghubung itu terbuka. Ketika ventrikel sebelah kanan mengempis, darah besar yan menyalurkan ke jantung

5. Tanda dan Gejala
- Rasa nyeri didada sebelah kiri dan menjalar kebahu, lengan kiri dan punggung
- Shock ( pusing, lemah, berkeringat, muntah-muntah, pingsan dan pucat )
- Sesak nafas
- Denyut jantung tidak teratur.

6. Test Diagnostik


• EKG : keadan Istirahat EKG normal pada 25 % pasien angina pectoris
• Fhoto Thorax : biasanya normal, namun infiltrate mungkin ada menunjukan dekompesasi jantung atau paru-paru
• Angiografi koroner : cara yang paling akurat, untuk unutk menentukan beratnya penyakit koroner, dilakukan pada penderita angina stabil yang kronik.
• Test Lab : SGOT, SGPT, LDH, CKMB : tidak ada penyimpangan ( normal )
• Kadar lipid, trigliserid dan kolesterol : mungkin meningkat
• Pembedahan bypass modern
• Treadmill
o Kontra Indikasi : pada pasien usia lanjut, penderita cacat, penderita denga sakit lama .
o Indikasi : untuk diagnostic Angina dengan memprovakasi kelaianan iskemia dan nyeri dada

7. Penatalaksaan Medik
• Meningkatkan suplai O¬2 ke miocard
• Menghilangkan nyeri dada
• Istirahat
• Hilangkan atau kurangi emosi
• Uji latihan beban / treadmill test
• Pemeriksaan EKG dan rekam jantung
• Diet :
- Kendalikan kalori sesuai dengan berat badan yang ideal
- Diet meliputi : karbohidrat (terutama yang majemuk ): 50% dari kaloro harian, protein : 20% dari kalori harian, dan lemak ( kebanyakan nabati ) : 30 % dari kalori harian
- Hindari makanan asin


8.  Komplikasi
- Oisritmia / aritmia
- Miocard infark
- Syok cardiogenik
- Dekompensatio cordis
- Insfisiensi koroner


B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
- Riwayat hipertensi dan penyakit paru.
- Riwayat anemia.
- Riwayat penyakit katub jantung, bedah jantung dan endokarditis.

b. Pola nutrisi metabolik
- Mual, muntah, anoreksia.
- Penambahan berat badan signifikan
- Edema, asites
- Makan makanan yang tinggi garam, lemak, gula dan kafein.
- Penggunaan obat diuretik.

c. Pola eliminasi
- Nokturia (berkemih pada malam hari)
- Penurunan berkemih, urine berwarna gelap
- Diare, konstipasi.

d. Pola latihan dan aktivitas
- Kelelahan terus menerus sepanjang hari.
- Gelisah
- Dyspnea
- Edema pada ekstremitas bawah.
- Batuk, nyeri dada pada saat aktivitas.

e. Pola tidur dan istirahat
- Insomnia
- Tidur menggunakan 2-3 bantal.

f. Pola persepsi dan kognitif
- Cemas
- Stres yang berhubungan dengan penyakit
- Kemampuan pasien mengatasi penyebab penyakit.

g. Pola hubungan dan peran dengan sesama
- Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.

h. Pola reproduksi dan seksualitas
- Penurunan aktivitas seksualitas, penurunan libido dan impoten/ disfungsi orgasme sehubungan dengan kelelahan/beta blocker yang sering membuat penurunan sex.


2. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan curah jantung b/d perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekuensi, irama, konduksi dan listrik jantung.
b. Intoleransi aktivitas b/d penurunan curah jantung.
c. Gangguan pertukaran gas b/d penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan.
d. Kelebihan volume cairan b/d kegagalan curah jantung, retensi cairan.
e. Penurunan perfusi jaringan b/d penurunan cardiac output.
f. Resti kerusakan integritas kulit b/d penurunan perfusi jaringan, tirah baring lama.
g. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, aktivitas, diit dan pengobatan b/d kurang informasi.


3. Perencanaan Keperawatan
DP 1. Penurunan curah jantung b/d perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekuensi, irama, konduksi dan listrik jantung.
HYD: Menunjukkan TTV dalam batas normal, tidak terjadi angina, dyspnea, tidak ditemukan gejala gagal jantung.
Intervensi :
1) Kaji frekuensi dan irama jantung.
R/ Biasa terjadi takikardia untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas miokard.
2) Catat bunyi jantung tambahan.
R/ Bunyi tambahan menunjukkan lemahnya kerja jantung.
3) Pantau nadi perifer, TD
R/ Penurunan nadi dan TD menunjukkan penurunan curah jantung.
4) Kaji kulit terhadap pucat dan cyanosis.
R/ Menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder karena tidak adekuatnya curah jantung.
5) Kaji terhadap penurunan kesadaran.
R/ Menunjukkan tidak adekuatnya perfusi serebral.
6) Pantau dan catat keluaran urine.
R/ Ginjal berespon terhadap penurunan curah jantung dengan menahan air dan natrium.
7) Anjurkan istirahat cukup.
R/ Memperbaiki efisiensi kontraktilitas jantung dan menurunnya kebutuhan O2.
8) Kolaborasi dan dokter untuk pemberian obat (diuretik, vasodilator, captopril, morfin sulfat dan tranquilizer/sedatif).
R/ Banyaknya obat dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.

DP 2. Intoleransi aktivitas b/d penurunan curah jantung.
HYD: Klien dapat berinteraksi sesuai tingkat toleransi.
Intervensi :
1) Observasi TTV sebelum dan sesudah beraktivitas terutama klien yang menggunakan obat vasodilator dan diuretic.
R/ Hipotensi orthostatik dapat terjadi karena efek obat (vasodilatasi), perpindahan cairan/pengaruh obat jantung.
2) Catat respon kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, disritmia, dyspnea, pucat dan berkeringat.
R/ Penurunan miokardium untuk menaikkan volume sekuncup selama aktivitas, dapat menurunkan frekuensi jantung dan kebutuhan O2
3) Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas.
R/ Dapat menunjukkan kenaikan dekompensasi jantung terhadap kelebihan aktivitas dengan periode istirahat.
4) Bantu penuh atau sesuai indikasi dan selingi aktivitas dengan periode istirahat.
R/ Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi stress miokard.
5) Kolaborasi untuk program rehabilitasi jantung.
R/ Peningkatan aktivitas secara bertahap untuk mengurangi kerja jantung.

DP 3. Gangguan pertukaran gas b/d penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan.
HYD: Pernapasan klien normal 12-20 x/menit, bunyi nafas normal.
Intervensi :
1) Beri posisi semifowler/fowler.
R/ Meningkatkan ventilasi dan mengurangi aliran balik vena ke jantung dan meningkatkan ekspansi paru.
2) Jelaskan dan ajarkan klien batuk efektif dan nafas dalam.
R/ Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2.
3) Auskultasi bunyi nafas, catat crackles, frekuensi pernapasan.
R/ Menyatakan adanya kongesti paru dan menunjukkan kebutuhan O2, informasi lanjut sebagai evaluasi terhadap respon terapi.
4) Kolaborasi dalam pemberian terapi O2.
R/ Menaikkan saturasi O2 dan mengetahui dyspnea dan fatigue.
5) Pantau nilai AGD.
R/ Monitor O2 dalam darah.

DP 4. Kelebihan volume cairan b/d kegagalan curah jantung, retensi cairan.
HYD: Edema berkurang sampai dengan hilang.
Intervensi :
1) Kaji derajat edema dan ukur lingkar perut setiap hari.
R/ Pada gagal jantung, cairan dapat berkumpul di ekstremitas bawah, abdominal.
2) Pantau intake-output.
R/ Memantau balance cairan.
3) Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semifowler.
R/ Posisi terlentang meningkatkan filtrasi ginjal menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis.
4) Timbang BB bila memungkinkan.
R/ Catat perubahan ada atau hilangnya edema sebagai respon terhadap terapi.
5) Kaji distensi leher dan pembuluh perifer serta adanya edema dengan/tanpa pitting (catat adanya edema tubuh umum).
R/ Retensi cairan berlebihan dapat dimanfaatkan dengan pembendungan vena dan pembentukan edema.
6) Kaji adanya keluhan dyspnea yang ekstrim dan tiba-tiba.
R/ Menunjukkan terjadinya komplikasi (edema paru/emboli).
7) Berikan diit rendah sodium dan natrium serta batasan cairan.
R/ Mengurangi retensi cairan.
8) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat digitalis, diuretik dan tambahan kalium.
R/ Meningkatkan tugas jantung, meningkatkan keluaran urine dan menghambat reabsorpsi natrium.

DP 5. Penurunan perfusi jaringan b/d penurunan curah jantung.
HYD: Pasien mengatakan perasaan nyaman atau tidak ada nyeri saat istirahat.
Nadi perifer teraba dan kuat.
Keluhan pusing berkurang sampai dengan hilang.
Warna kulit tidak pucat, suhu tubuh hangat.
Intervensi :
1) Kaji keluhan pasien (nyeri dada, pusing).
R/ Pengkajian yang tepat diperlukan untuk memberikan intervensi yang tepat.
2) Monitor TTV dan irama jantung setiap 4 jam.
R/ Nadi yang cepat dan reguler dapat menyebabkan penurunan curah jantung yang mengakibatkan penurunan perfusi jaringan.
3) Periksa nadi perifer setiap 4 jam.
R/ Nadi perifer teraba dan kuat mengindikasikan aliran arterial yang baik.
4) Kaji warna kulit, suhu dan tekstur kulit tiap 4 jam, catat dan laporkan bila ada perubahan.
R/ Penurunan perfusi jaringan dapat menyebabkan kulit menjadi dingin dan tekstur berubah.

DP 6. Resti kerusakan integritas kulit b/d penurunan perfusi jaringan, tirah baring lama.
HYD: Kerusakan kulit tidak terjadi pada daerah edema atau tertekan.
Intervensi :
1) Kaji adanya tanda edema pada daerah scrotum, tumit dan maleolus.
R/ Mengidentifikasi area edema dan rencana tindakan selanjutnya.
2) Pijat area yang tertekan.
R/ Meningkatkan aliran darah, meminimalkan hipoksia jaringan.
3) Ubah posisi sering di tempat tidur dan bantu latihan rentang gerak aktif pasif (tiap 2-4 jam sekali).
R/ Memperbaiki sirkulasi/menurunkan waktu satu area yang mengganggu aliran darah.
4) Berikan perawatan kulit dan menjaga kelembaban.
R/ Terlalu kering atau lambat merusak kulit dan mempercepat kerusakan.
5) Jaga kebersihan alat tenun dan bebas kerut.
R/ Penurunan tekanan pada kulit memperbaiki sirkulasi.

DP 7. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan pengobatan b/d kurang informasi.
HYD: Secara verbal pasien memahami tentang penyakitnya dengan baik, ketentuan diet dan penatalaksanaan pengobatan.
Intervensi :
1) Diskusikan fungsi jantung normal dan jelaskan tentang fisiologinya.
R/ Pengetahuan proses penyakit dan harapan dapat memudahkan ketaatan pada program pengobatan.
2) Jelaskan tentang program pengobatan dan pentingnya menjalankan diet.
R/ Pengertian dalam pengobatan dapat meningkatkan motivasi klien.
3) Diskusikan tentang pentingnya istirahat.
R/ Aktivitas fisik yang berlebihan dapat berlanjut menjadi kelemahan jantung.
4) Diskusikan dalam pemberian obat dan efek samping obat.
R/ Pemahaman kebutuhan terapeutik pentingnya upaya pelaporan efek samping dapat mencegah terjadinya komplikasi obat.
5) Berikan kesempatan pada pasien untuk bertanya.
R/ Dapat memahami tentang proses perjalanan penyakit.
.

Daftar Pustaka
Barbara C. Long, 1989. Medical Surgical Nursing. St. Louis. CV. Mosby Company.
Brunner and Suddarth. 1999. Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 2, Alih bahasa: Monica Ester, Edisi 8, EGC, Jakarta.
Donna D. Ignatavicius, 1991. Medical Surgical Nursing, WB. Saunders Company, Philadelphia.
Joyce M. Black, 1997. Medical Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of Care. Fifth Edition, WB. Saunders Company, Philadelphia.
Lewis, Sharon Mantik, 2000, Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. Missouri: Mosby Inc.
Luckmann and Sorensen’s, 1993. Medical Surgical Nursing A Psychophysiologic Approach. Fourth edition.
Mansjoer, Arif dkk (editor), 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga, Jilid 2. Penerbit FKUI: Jakarta.
Marilynn E. Doengoes, 1993. Nursing Care Plan. Edition 3, Philadelphia: F.A. Davis Company.
Soeparman, Sarwono Waspadji, 1990. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. Penerbit FKUI. Jakarta.



Rabu, 02 Februari 2011

Perawatan Pasien Pasca Bedah Pintas Arteri Koroner (Bypass)

1. Perawatan di ICU
Selama operasi selesai biasanya pasien belum sadar, pernafasan masih dikontrol dengan mesin nafas (ventilator). Monitor arteri ECG vena central, tekanan arteri pulmonalis dipindahkan ke monitor ICU. Setelah proses pemindahan selesai, keluarga pasien akan diberitahu dan dipersilahkan untuk melihat sebentar sambil mendengarkan penjelasan dokter bedah atau dokter ICU mengenai hasil operasi, kondisi pasien saat itu dan rencana perawatan selanjutnya.

Pada tubuh anda akan terpasang alat-alat monitor dan alat bantu berupa : selang nafas yang masuk melalui mulut dan terhubung dengan mesin pernafasan, selang lambung yang masuk melalui hidung, selang dada yang keluar dari rongga dada untuk mengeluarkan sisa perdarahan, selang kencing dan beberapa saluran infus, monitoring frekuensi jantung dilakukan melalui pemantauan EKG, tekanan darah arteri, tekanan arteri pulmonalis dan vena sentral, suhu, saturasi oksigen, pengukuran cardiac output dan cardiac index. Oleh karena itu sangat diharapkan agar anda tidak berusaha mencabut alat-alat tersebut.

Jumlah perdarahan yang dipantau dari selang dada, diukur tiap jam dan diharapkan makin sedikit. Apabila terjadi perdarahan dari selang dada ( lebih dari 200 cc / jam), maka pasien akan dieksplorasi kembali dengan membuka luka operasi dan sumber perdarahan dicari. Bila kebocoran jahitan akan dilakukan jahitan tambahan. Apabila kondisi anda sudah stabil dan diyakini tidak ada masalah yang penting, anda akan mulai bangun dan mulai bernapas sendiri, lalu selang napas akan dicabut. Biasanya baru diperbolehkan minum beberapa jam kemudian.

Keesokan hari pasien dipindahkan ke ruang rawat intermediate jika tekanan darah dan pernafasan sudah stabil. Ahli fisioterapi akan membantu dan mengajari anda agar dapat bernafas dan bergerak dengan baik secepatnya. Komplikasi yang perlu diperhatikan apabila produksi urine berkurang atau tidak ada sama sekali disebut gagal ginjal akan dipasang kateter untuk cuci darah ( CVVH) atau apabila tekanan darah cukup dilakukan CAVH.


2. Perawatan di Ruangan Intermediate dan ruangan biasa
Ruang Intermediate yang merupakan ruangan semi ICU. Di sini pemantauan dilakukan terhadap EKG secara terus menerus, sedangkan tekanan darah, suhu dan produksi urine dilakukan secara berkala. Pada saat ini anda mungkin akan merasakan nyeri pada luka operasi terutama pada saat batuk dan bernafas dalam. Tetapi batuk sangat diperlukan untuk mengluarkan lendir yang akan mengganggu aluran nafas. Ahli fisioterapi akan tetap mengunjungi anda untuk mengajarkan cara bernafas dan bergerak yang baik.

Selang dada akan dicabut jika jumlah cairan yang keluar sudah sedikit dan tidak berwarna merah. Selang kencing akan dicabut segera setelah anda berkemih sendiri. Biasanya belum ada buang air besar selama beberapa hari setelah operasi, karena sisa kotoran (tinja) belum terbentuk. Jika sudah buang air besar, diharapkan anda memperhatikan warnanya. Apabila berwarna hitam atau kemerahan laporkan kepada perawat.

Jika tekanan darah stabil dan ginjal baik, pernafasan baik, irama jantung normal maka anda akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Di sana anda akan memulai program latihan rehabilitasi secara bertahap. Benang jahitan bekas selang dada biasnya dicabut 7 hari setelah selang dada dilepas. Jika tulang dada tidak stabil (dehisensi) maka harus difiksasi kembali dengan operasi. Kebanyakan pasien berada di rumah sakit selama 7 – 10 hari setelah operasi. Ketika pulang, tanyakan kepada perawat tentang obat-obatan yang harus anda minum.perawatan luka dan jadwal anda datang kembali untuk kontrol ke dokter spesialis jantung dan dokter spesialis bedah jantung.


3. Apakah Risiko dan Komplikasi Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK)
Angka kematian berhubungan dengan BPAK sekitar 1-2%. Serangan jantung selama dan segera setelah operasi jantung terjadi sekitar 5 -10%. Sekitar 5% pasien membutuhkan operasi eksplorasi akibat perdarahan. Stroke terjadi pada 1-2% pasien, terutama usia tua. Kematian dan komplikasi meningkat pada usia lebih dari 70 tahun, fungsi jantung yang buruk, penyumbatan arteri batang utama kiri, penyakit paru kronik, dan gagal ginjal. Wanita mempunyai risiko kematian dua kali lipat daripada pria, terutama berhubungan dengan usia yang tua dan arteri koroner yang lebih kecil dibanding pria.

4. Hal –hal Normal yang Terjadi Setelah Operasi
* Kehilangan selera makan. Butuh beberapa hari / minggu agar selera makan kembali normal. Beberapa pasien merasa sensasi lidahnya berkurang atau hilang. Hal ini akan kembali normal.
* Bengkak pada kaki atau lengan yang diambil pembuluh darahnya untuk bypass. Tinggikan kaki jika anda sedang duduk atau berbaring, memakai stocking elastis akan mengurangi pembengkakan.
* Kesulitan tidur pada malam hari. Terkadang anda merasa sulit tidur, atau terbangun dini hari dan tidak dapat tidur kembali. Hal ini akan kembali normal
* Sulit untuk buang air besar. Anda dapat memakan buah,jus buah, makanan berserat tinggi, atau menggunakan obat pencahar.
* Mengalami gangguan mood dan merasa depresi. Jangan merasa putus asa. Hal ini akan menjadi lebih baik.
* Merasa seperti bunyi ”klik” pada tulang dada pada hari-hari pertama setelah operasi. Setelah beberapa minggu, hal ini akan berkurang dan menghilang. Jika bertambah buruk. Hubungi ahli bedah jantung.
* Mengalami nyeri otot di bahu. Hal ini akan membaik, obat penghilang rasa nyeri akan membantu mengurangi rasa nyeri ini.
* Ingatlah bahwa butuh 4-6 minggu untuk mulai merasa nyaman.
* Jangan lupa minum obat yang diberikan oleh dokter
* Jika arteri mamaria interna kiri anda dipakai untuk bypass, anda mungkin akan merasa kebas pada sisi dada sebelah kiri. Hal ini normal. Kadang-kadang merasa kebas pada sayatan kaki hal ini akan menghilang selama proses penyembuhan
* Ikuti program latihan anda yang diberikan oleh ahli fisioterapi di rumah sakit.


5. Perhatian Selama Masa Pemulihan

Luka operasi
Setelah pulang, anda dapat membasuh luka bekas operasi anda atau mandi. Hindari menggosok luka secara kasar. Lindungi bekas luka agar tidak terpapar secara berlebihan dengan sinar matahari, karena bekas luka akan menjadi gelap. Biasanya diberikan cream untuk mencegah keloid. Jangan memberikan lotion, cream,minyak atau bedak kecuali diresepkan oleh dokter anda.

Periksa luka anda setiap hari. Hubungi dokter anda jika :
1. Bertambah nyeri pada luka
2. Bertambah merah atau bengkak di sekitar luka
3. Keluar cairan dari luka
4. Demam yang menetap

Perawatan terhadap kaki:
1. Rawat luka seperti yang disebutkan di atas
2. Hindari melipat kaki anda, karena dapat mengganggu sirkulasi darah
3. Hindari duduk atau berdiri pada satu posisi dan berdiri terlalu lama
4. Tinggikan kaki dengan cara menaikannya pada kursi yang lain pada saat duduk atau diganjal bantal saat berbaring
5. Bengkak akan berkurang jika kaki ditinggikan, tetapi dapat timbul kembali jika anda berdiri
6. Pakai stoking elastis selama minimal 8 minggu setelah pulang dan jika anda hendak berjalan jauh. Lepaskan stocking saat tidur.

Aktivitas : hentikan aktifitas segera jika anda merasa sesak nafas, berdebar-deba, merasa pusing atau nyeri dada. Istirahat sampai gejala tersebut hilang. Jika tidak hilang juga selama 20 menit, hubungi dokter anda. Batasi gerakan anda dan bergerak perlahan selama 6 minggu. Ahli fisioterapi akan memberitahukan tahapan aktivitas anda sebelum pulang. Hindari mengerjakan banyak aktivitas dalam satu waktu.

Mandi : anda dapat mandi setelah jahitan bekas luka dicabut, hindari air yang sangat panas. Setelah 3 minggu baru boleh berenang

Pakaian : pakailah pakaian yang nyaman, agak longgar sehingga tidak memberikan tekanan terhadap luka.

Istirahat : anda membutuhkan keseimbangan antara aktifitas dan istirahat untuk penyembuhan. Berisitirahatlah diantara beberapa aktifitas. Istirahat dapat dilakukan dengan duduk tenang selama 20 – 30 menit. Istirahatlah selama 30 menit setelah makan sebelum beraktivitas.

Berjalan : hal ini merupakan salah satu bentuk latihan yang terbaik karena dapat meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh dan otot jantung. Mulailah secara bertahap. Berhenti dan istirahat jika merasa lelah. Anda dapat berjalan menaiki tangga, kecuali dilarang oleh dokter. Jangan menarik tubuh menggunakan tangan tangga, gunakan kaki anda.

Seksual : anda dapat melakukan hubungan seksual ketika anda sudah merasa nyaman. Biasanya 2-4 minggu setelah pulang, kecuali diperintahkan berbeda oleh dokter anda

Mengemudi : anda dapat berpergian ( sebagai penumpang) dengan mobil atau kereta api kapan saja. Hindari mengemudi mobil, sepeda motor atau bersepeda selama 6 minggu setelah operasi. Masa ini dibutuhkan untuk penyembuhan tulang dada. Ketika berpergian jauh, keluarlah dari mobil setiap 2 jam dan berjalan selama beberapa menit.

Mengangkat : hindari membuat tarikan berlebihan pada tulang dada selama masa penyembuhan. Hindari mengangkat, menarik atau mendorong benda yang beratnya lebih dari 10 kg. Jangan menahan nafas selama beraktivitas, khususnya ketika mengangkat benda atau sedang buang air besar.

Bekerja : konsultasikan dengan ahli bedah sebelum anda mulai bekerja. Biasanya bisa mulai bekerja ringan 6 minggu setelah operasi. Keputusan ini tergantung kondisi fisik dan tuntutan pekerjaan anda.

Diet : hindari makan yang mengandung lemak dan garam berlebihan, berguna untuk mengurangi risiko mendapat serangan jantung dan operasi berikutnya. Mulailah merubah jenis makanan anda ketika nafsu makan kembali normal. Dianjurkan banyak makan yang mengandung serat tinggi dan buah-buahan. Apabila menderita diabetes melitus, diet sesuai yang dianjurkan ahli gizi. Coba untuk mengontrol pertambahan berat badan anda. Harus stop merokok, kontrol tekanan darah dan diabetes.

Obat-obatan : Pasca bedah dianjurkan minum obat-obatan:

* Anti platelet agregasi seperti aspirin (aspilet, tromboaspilet,ascardia)
* Hati- hati bila tidak tahan terhadap aspirin terutama pada penderitaan gastritis / nyeri ulu hati, buang air besar berwarna kehitaman, maka obat harus di stop. Segera konsultasi dengan dokter jantung anda
* Obat anti diabetes sesuai anjuran dokter
* Obat anti kolesterol seperti simvastatin sesuai anjuran dokter
* Obat penyekat beta bila irama jantung yang tinggi atau hiperdinamik
* Diuretik, digoksin dll sesuai anjuran dokter


6. Perawatan Jangka Panjang
Setelah menjalani Bedah Pintas arteri Koroner, tujuan yang diharapkan adalah mempertahankan bypass yang dibuat selama mungkin dengan cara:

1. Minum obat anti platelet agregasi
2. Olah raga teratur
3. Diet yang sehat (rendah kolesterol dan banyak serat serta buah-buahan)
4. Stop merokok
5. Kontrol Kolesterol ( LDL,HDL) tiap bulan selama 3 bulan pertama untuk mengatur diet
6. Kontrol gula darah
7. Kontrol berat badan

Sumber :
Buku Panduan Bagi Pasien Bedah Pintas Arteri Koroner
Pusat Jantung Nasional Harapan Kita
UPF Bedah Jantung Lt.2

Disusun oleh :
dr.Maizul Anwar, Sp.BTKV
dr. Doddy P.Pohan, Sp.BTKV


Minggu, 19 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Klien Dengan Darah Rendah (Hipotensi)

A. Pengertian
Penyakit darah rendah atau Hipotensi (Hypotension) adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang turun dibawah angka normal, yaitu mencapai nilai rendah 90/60 mmHg. 
Hipotensi merupakan kondisi tekanan darah yang terlalu rendah, yaitu apabila tekanan darah sistolik < 90 mmHg dan tekanan darah diastolik < 60 mmHg. Tekanan diastolic adalah tekanan saat pengisian darah di jantung sebelum dipompakan ke seluruh tubuh. Jika pengisian kurang, aliran darah di pembuluh koroner jantung akan berkurang dan dapat menyebabkan serangan jantung. 
 
Didalam tubuh kita terdapat sel-sel khusus di dalam arteri (baroreseptor) yang merasakan tekanan darah sedang naik atau turun. Fungsi sel-sel ini akan mengeluarkan tanda yang membuat seluruh tubuh merespons dan membawa darah kembali ke kondisi normal. Baroreseptor menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan keras, sementara pembuluh arteri dan vena menyempit.
Kebanyakan hipotensi terjadi ketika tubuh tidak dapat beradaptasi membuat tekanan darah yang rendah kembali ke normal.
Namun demikian, beberapa orang mungkin memiliki nilai tekanan darah (tensi) berkisar 110/90 mmHg atau bahkan 100/80 mmHg akan tetapi mereka tidak/belum atau jarang menampakkan beberapa keluhan berarti, sehingga hal itu dirasakan biasa saja dalam aktivitas kesehariannya. Apabila kondisi itu terus berlanjut, didukung dengan beberapa faktor yang memungkinkan memicu menurunnya tekanan darah yang signifikan seperti keringat dan berkemih banyak namun kurang minum, kurang tidur atau kurang istirahat (lelah dengan aktivitas berlebihan) serta haid dengan perdarahan berlebihan (abnormal) maka tekanan darah akan mencapai ambang rendah (hipotensi) 90/60 mmHg.

B. Tanda dan Gejala Tekanan Darah Rendah

Seseorang yang mengalami tekanan darah rendah umumnya akan mengeluhkan keadaan sering pusing, sering menguap, penglihatan terkadang dirasakan kurang jelas (kunang-kunang) terutama sehabis duduk lama lalu berjalan, keringat dingin, merasa cepat lelah tak bertenaga, bahkan mengalami pingsan yang berulang.

Pada pemeriksaan secara umum detak/denyut nadi teraba lemah, penderita tampak pucat, hal ini disebabkan suplai darah yang tidak maksimum keseluruh jaringan tubuh.
 
C. Penyebab Penyakit Darah Rendah 
Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa terjadinya penurunan tensi darah, hal ini dapat dikategorikan sebagai berikut:
 
1.  Kurangnya pemompaan darah dari jantung. 
Semakin banyak darah yang dipompa dari jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung), semakin tinggi tekanan darah. Seseorang yang memiliki kelainan/penyakit jantung yang mengakibatkan irama jantung abnormal, kerusakan atau kelainan fungsi otot jantung, penyakit katup jantung maka berdampak pada berkurangnya pemompaan darah (curah jantung) keseluruh organ tubuh.

2. Volume (jumlah) darah berkurang. 
Hal ini dapat disebabkan oleh perdarahan yang hebat (luka sobek,haid berlebihan/abnormal), diare yang tak cepat teratasi, keringat berlebihan, buang air kecil atau berkemih berlebihan.
 
3. Kapasitas pembuluh darah. 
Pelebaran pembuluh darah (dilatasi) menyebabkan menurunnya tekanan darah, hal ini biasanya sebagai dampak dari syok septik, pemaparan oleh panas, diare, obat-obat vasodilator (nitrat, penghambat kalsium, penghambat ACE).

Faktor eksternal penyebab Hipotensi :
  • Dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) yang disebabkan karena kurang minum, diare, muntah.
  • Mengonsumsi obat-obatan tekanan darah tinggi, jantung, anti-depresi, obat disfungsi ereksi atau obat parkinson.
  • Penggunaan obat berefek diuretik secara berlebihan, cth: obat pelangsing
  • Anemia, infeksi berat, gangguan jantung, gangguan sistem saraf pusat, gangguan endoktrin (termasuk hipotiroid, hipertiroid, diabetes, dan kadar gula darah rendah).
  • Terlalu lama berada di udara panas, kehamilan, terlalu lama berbaring karena sakit atau lanjut usia.
 D.Penanganan dan Pengobatan Darah Rendah
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi tekanan darah renda (hipotensi), diantaranya :

Pertolongan Pertama jika mengalami Hipotensi :
  • Berbaring secara perlahan untuk mengurangi tekanan gravitasi, agar aliran darah ke otak.
  • Posisikan kaki lebih tinggi daripada jantung agar darah mengalir ke tubuh bagian atas. Buka mata untuk mencegah pingsan.
  • Pemijatan perlahan dari arah kaki ke betis, paha, perut dan seterusnya, agar darah mengalir ke arah kepala.
  • Konsumsi kalori, seperti minum teh manis atau roti.
  • Penderita hipotensi dianjurkan menambah konsumsi garam dapur, termasuk makanan asin. Asupan garam sehari untuk penderita hipotensi adalah 10-20 gram (1-2 sendok makan rata).
  • Tekanan darah rendah juga dapat diatasi dengan mengkonsumi kopi, bayam, cabe, coklat, lada, hati ayam kampung/sapi/kambing, susu, mentega, keju dan jahe merah. Hindari makanan yang pahit, asam dan mentimun.

Secara medis, tekanan darah rendah tidak memerlukan pengobatan dan nyaris belum ada obat untuk menyembuhkannya, namun Hipotensi dapat dicegah dengan cara :
  • Minum air putih 8-10 gelas per hari. Sesekali minum kopi untuk memacu/meningkatkan degup jantung, sehingga tekanan darah meningkat.
  • Olah raga ringan yang teratur seperti jalan kaki selama 30 menit, minimal 3 kali seminggu dapat membantu mengurangi timbulnya gejala.
  • Dianjurkan mengenakan stocking elastis,khususnya bagi wanita. Guna stocking ini untuk memperlancar aliran balik darah ke jantung terutama pada bagian tungkai bawah. Sehingga, darah yang dipompakan ke seluruh tubuh mencukupi, dan tekanan darah dalam batas normal.
  • Pemberian obat-obatan (meningkatkan darah) hanya dilakukan apabila gejala hipotensi mengganggu aktivitas sehari-hari. Biasanya dokter hanya memberikan vitamin (support/placebo) serta beberapa saran agar penderita terhindar dari serangan hipotensi.

Karena obatnya tidak ada, maka penyembuhan Hipotensi ini tergantung dari penyebab hipotensi. Yang harus diperbaiki adalah kondisi yang menyebabkan turunnya tekanan darah, seperti :
  • Jika penurunan tekanan darah akibat kadar Hemoglobin [Hb] rendah, maka yang harus diperbaiki adalah mengupayakan untuk meningkatkan kadar Hemoglobin hingga batas normal.
  • Jika akibat dehidrasi, maka diberikan asupan cairan yang cukup.
  • Jika akibat pemberian obat hipertensi, maka dosis dan pemilihan obat-obatan diatur kembali.


Mengenai image masyarakat yang sebagian besar berpikir bahwa dengan mengkonsumsi daging kambing bagi penderita hipotensi dapat meningkatkan tensi darah sebenarnya belum jelas, Namun dibenarkan kalau hal itu akan meningkatkan kandungan haemoglobin (Hb) dalam darah. Sekali lagi harus dipahami bahwa tekanan darah rendah artinya suplai darah tidak maksimal keseluruh bagian tubuh. Haemoglobin (Hb) rendah adalah berarti bahwa kandungan Hb sebagai zat pengikat oxygen dalam darah memiliki kadar rendah yang akibatnya penderita bisa pucat (anemia), pusing (oxygen yang di angkut/suplai darah ke otak kurang), merasa cepat lelah dan sebagainya.

Dalam kasus Hipotensi yang benar-benar diperlukan pemberian obat, biasanya ada beberapa jenis obat yang biasa dipakai seperti fludrocortisone, midodrine, pyridostigmine, nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), caffeine dan erythropoietin.


Sumber Referensi : 
- http://www.infopenyakit.com
- http://homecare.griyakami.com




Posting & edit by Zen
Amparita, 19 Desember 2010