Senin, 27 Desember 2010

Askep Klien Dengan Hipospadia

KONSEP DASAR
A. Pengertian

Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan yang letak meatus uretra eksterna terletak lebih keproksimal dipermukaan ventral penis. Pada keadaan normal meatus uretra ekstrena ini terletak pada ujung glans penis (bagian paling distal)
(Hermana, Asep. 2000. Teknik Khitan Panduan Lengkap Sistematis dan Praktis. Jakarta : Widya Media)
Hipospadia adalah kelainan bawahaan berupa lubang uretra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis.
(Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit : Jakarta : EGC)
Hipospadia adalah muara uretra yang terletak di bawah permukaan buah zakar.
(Kamus Kedokteran. 2003. Buku Kedokteran. Jakarta : EGC)

Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi baru lahir.
Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis, yaitu pada glans penis.


        
                                         Hipospadia Glandular        Hipospadia Subcoronal     


B. Etiologi
Merupakan salah satu dasar kelainan kongenital paling sering pada gentalia laki-laki, terjadi pada satu dalam 350 kelahiran laki-laki, dapat dikaitkan dengan kelainan rongenital lain seperti anomali ginjal dan genetik seperti sindroma klinefelter.

C. Gejala
 Tanda dan gejala hipospadia dapat mencakup:
- Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis
- Semprotan air seni yang keluar abnormal
- Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah atau di dasar penis
- Penis melengkung ke bawah
- Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit depan penis
- Jika berkemih, anak harus duduk.


D. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik Jika hipospadia terdapat di pangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya.
Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat. Kulit depan penis dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan nanti.
Rangkaian pembedahan biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. Pada saat ini, perbaikan hipospadia dianjurkan dilakukan sebelum anak berumur 18 bulan.

Jika tidak diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan buang air pada anak dan pada saat dewasa nanti, mungkin akan terjadi gangguan dalam melakukan hubungan seksual.

E. Penatalaksanaan
Operasi koreksi sebaiknya dikerjakan pada usia pra sekolah. Pada bayi dilakukan kordektomi untuk meluruskan penis pada usia 2-4 tahun rekonstruksi tahap kedua yang terdiri dari rekonstruksi retra.




ASUHAN KEPERAWATAN
 
A. Pengkajian
• Inspeksi terhadap genitalia menunjukkan letak abnormal uretra.
• Bayi atau anak laki-laki tidak dapat berkemih dengan penis berada pada posisi naik yang normal.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan faktor fisik contoh : kerusakan kulit / jaringan (insisi) ditandai dengan
Do : Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah, perubahan tanda vital
Ds : Laporan nyeri

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma bedah ditandai dengan
Do : Kerusakan permukaan kulit, gangguan penyembuhan
Ds : Laporan luka masih belum sembuh

3. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan bedah diversi, trauma jaringan ditandai dengan
Do : Perubahan jumlah, karekter urine
Ds : Susah dalam buang air kecil

4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kontaminasi kateter selama pemasangan ditandai dengan
Do : Warna keluaran berubah (agak keruh)
Ds : -

5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan ditandai dengan kurang terpajan / mengingat ditandai dengan
Do : Tidak akurat mengikuti instruksi
Ds : Meminta informasi, menyatakan masalah

C. Intervensi dan Implementasi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan faktor fisik contoh : kerusakan kulit / jaringan (insisi) ditandai dengan
Do : Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah, perubahan tanda vital
Ds : Laporan nyeri

Tujuan : nyeri berkurang
K/H : - Menyatakan nyeri terkontrol
- Menunjukkan nyeir hilang, mampu tidur/istirahat dengan tepat
Intervensi :
- Kaji nyeri, catat lokasi, karekteristik, intensitas (skala 0-10)
- Dorong pasien untuk menyatakan masalah
- Berikan tindakan kenyaman misal : ubah posisi
- Dorong penggunaan teknik relaksasi
- Kolaborasi, berikan obat sesuai indikasi mil : narkotik, analgen
Implementasi
- Mengkaji nyeri, mencatat lokasi nyeri, karekteristik, intensitas (skala 0-10)
- Mendorong pasien untuk menyatakan masalah dimana, bagaimana nyeri tersebut.
- Memberikan tindakan kenyamanan misal mengubah posisi pasien. (gunakan tindakan pendukung sesuai kebutuhan)
- Mendorong penggunaan teknik relaksasi mis : bimbingan imajinasi, visualisasi
- Memberikan obat sesuai indikasi misal : narkotik, analgesik.
Rasional :
- Membantu mengevaluasi : derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesik atau dapat menyatakan terjadinya komplikasi
- Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan relaksasi / kenyamanan
- Mencegah ketidaknyamanan, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkat kemampuan koping.
- Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian sehingga menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan
- Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan.

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma bedah ditandai dengan
Do : Kerusakan permukaan kulit, gangguan penyembuhan
Ds : Laporan luka masih belum sembuh

Tujuan : Kulit normal tidak terlihat rusak
K/H : Menunjukkan penyembuhan luka sesuai waktu tanpa komplikasi
- Sokong insisi bila mengubah posisi, batuk, napas dalam dan ambulasi
- Observasi insisi secara periodik
- Berikan perawatan insisi rutin
Implementasi :
- Menyokong insisi bila mengubah posisi, batuk, napas dalam dan ambulasi
- Mengobservasi insisi secara periodik
- Memberikan perawatan insisi rutin
Rasional :
- Menurunkan kemungkinan jahitan terbuka
- Mempengaruhi pilihan intervensi
- Meningkatkan penyembuhan

3. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan bedah diversi, trauma jaringan ditandai dengan
Do : Perubahan jumlah, karekter urine
Ds : Susah dalam buang air kecil

Tujuan : Eliminasi urine normal / menjadi seperti sebelum sakit
K/H : Menunjukkan aliran urine terus menerus dengan haluaran urine adekuat untuk situasi individu.
Intervensi :
- Catat keluaran urine, selidiki penurunan / penghentian aliran urien tiba-tiba
- Observasi dan catat warna urine
- Tunjukkan teknik katerisasi sendiri
- Dorong peningkatan cairan dan pertahankan pemasukan akura
- Awasi tanda vital
Implementasi :
- Mencatat keluaran urine, selidiki penurunan / penghentian aliran urien tiba-tiba
- Mengobservasi dan catat warna urine
- Menunjukkan teknik katerisasi sendiri
- Mendorong peningkatan cairan dan pertahankan pemasukan akura
- Mengawasi tanda vital
Rasional
- Penurunan aliran urine tiba-tiba dapat mengindikasikan abstuksi / disfungsi
- Urine dapat agak kemerahmudaan, yang seharusnya jernih sampai 2-3 hari
- Kateterisasi periodik mengosongkan wadah
- Mempertahankan hidrasi dan aliran urine baik
- Indikator keseimbangan cairan menunjukkan tingkat hidrasi dan keefektifan terapi penggantian cairan.

D. Evaluasi
1. Penilaian untuk perubahan yang dirasa / aktual
2. Komplikasi dapat dicegah / minimal
3. Prosedur / prognosis, program terapi, potensial komplikasi dipahami dan sumber pendukung teridentifikasi.









DAFTAR PUSTAKA


- Hermana, Asep. 2000. Teknik Khitan Panduan Lengkap Sistematis dan Praktis, Jakarta : Widya Media
- Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
- Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
- Bacharin, Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2. Jakarta : EGCSi
- Kamus Kedokteran. 2003. Buku Kedokteran. Jakarta : EGC
- Price, Sylvia A dan Worraine M. Wilson. 1997. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta : EGC

- http://sunatan.wordpress.com/2008/05/04/hipospadia/ 



Posting by Zen
Amparita, 27 Desember 2010
17.00 WITA

0 Komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!