Kamis, 26 Mei 2011

Awas, Keseringan Konsumsi Ikan Asin Aktifkan Virus Penyebab Kanker


Ikan asin tentunya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ada kenikmatan tersendiri bila ikan asin dapat dimakan dengan nasi panas dan sambal terasi. Tapi sebaiknya jangan sering-sering makan ikan asin. Mengapa? “Ikan asin itu mengandung nitrosamin yang merupakan pencetus aktifnya virus Epstein-Barr yang merupakan penyebab utama kanker nasofaring (kanker tenggorokan atau THT),” jelas dr Budianto Komari, Sp.THT dari KSMF THT RS Kanker Dharmais, dalam acara penyuluhan ilmiah untuk awan ‘Diagnosa & Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring’ di RS Kanker Dharmais, Jakarta.

Ikan asin mengandung nitrosamin yang merupakan karsinogen (zat pemicu kanker). Ini karena dalam proses pengasinan dan penjemurannya, sinar matahari bereaksi dengan nitrit (hasil perombakan protein) pada daging ikan, sehingga membentuk senyawa nitrosamin.

“Nitrosamin ini pencetus utama kanker nasofaring, tidak hanya di ikan asin tetapi juga banyak pada makanan yang diawetkan,” kata dr Budi lebih lanjut.

dr Budi menjelaskan, di daerah China Selatan yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan dan hampir setiap hari makan ikan asin ternyata angka kejadian kanker nasofaring sangat tinggi. Dan pencetus utamanya adalah ikan asin.

Kanker satu ini ditandai dengan gejala telinga yang seringnya telinga berdengung dan terasa penuh pada satu sisi tanpa disertai rasa sakit, sehingga pendengaran jadi berkurang. Kangker satu ini diklaim sebagai kanker terganas nomor empat setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker kulit.

Dr Budianto Komari, Sp THT, spesialis onkologi THT (telinga-hidung-tenggorok), mengatakan, konsumsi ikan asin secara terus-menerus dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama, bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kanker nasofaring. Kanker nasofaring merupakan kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring yang berada di rongga belakang hidung dan di belakang langit-langit rongga mulut. “Karena letaknya yang berdekatan, membuat penyebaran virusnya menjadi mudah terjadi. Misalnya, virus ini dapat menyebar pada bagian mata, telinga, kelenjar leher, dan otak,” kata Budianto.

Menurut Budianto, penderita harus mengenali gejala dini dari penyakit tersebut. Sebab, lanjut dia, dengan mengetahui gejala dini dari kanker nasofaring, kemungkinan besar seseorang untuk sembuh akan terbuka lebar dibandingkan dengan penderita yang sudah memasuki gejala lanjut. Pada gejala dini kanker nasofaring bisa berupa mimisan pada hidung yang terus berulang, ingus bercampur darah, hidung tersumbat terus-menerus, dan pilek pada satu sisi saja. “Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara memeriksakan diri ke dokter bila mengalami keluhan pada telinga dan hidung. Penderita harus sering-sering memeriksakan THT-nya,” ujar Budianto.

Menurut dr Budi, virus Epstein-Barr sebenarnya banyak terdapat di mana-mana, bahkan di udara bebas. Hanya saja tidak semua akan menjadi kanker, virus ini akan tetap ‘tidur’ di nasofaring jika tidak dipicu faktor-faktor tertentu.

Faktor-faktor pemicu aktifnya virus Epstein-Barr antara lain:

1. Genetik
Ras Mongoloid tercatat paling banyak menderita kanker nasofaring karena memiliki gen tertentu.

2. Cara hidup yang tidak sehat

Cara hidup yang tidak sehat seperti sering terkena polusi, asap, asap rokok, alkohol.

3. Cara makan
Cara makan yang tak sehat seperti sering makan ikan asin, makanan awetan yang diasap atau fermentasi, dan memasak dengan kayu.

4. Pekerjaan dan keagamaan
Orang yang bekerja di pabrik yang banyak gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida, serbuk kayu. Dan kegiatan keagamaan seperti dupa dan menyan.

“Sebenarnya kalau sekali-kali makan ikan asin ya nggak apa-apa, ikan asin enak kok. Tapi ya jangan sering-sering, jangan tiap hari juga. Yang terpenting makan harus bervariasi dan makanan segar, jangan terlalu sering makan makanan awetan atau kalengan,” tutup dr Budi.

Untuk gejala lanjut, dapat diketahui dari kelenjar getah bening leher yang membesar, nyeri dan sakit kepala, pada mata terjadi penglihatan ganda, juling dan kelopak mata menutup pada sisi yang terkena virus tersebut. Secara umum, gejala dari kanker nasofaring ini ada empat, yakni gejala dapat dirasakan pada bagian hidung, telinga, mata, dan saraf, terakhir adalah pada bagian penyebaran di leher.

Kanker nasofaring sendiri hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Namun, penyembuhan atau pengobatan kanker nasofaring dapat dilakukan dengan menjalani radioterapi dan kemoterapi.

Dalam menjalani pengobatan, penderita bisa membutuhkan waktu kurang lebih lima tahun. Penyakit kanker mematikan yang berada di belakang tenggorokan dan seringkali terlambat didiagnostik sehingga sulit untuk disembuhkan melalui metode penyinaran dan kemoterapi itu lebih banyak dijumpai pada warga berusia 40-50 tahun.

“Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menciptakan pola hidup dan lingkungan yang sehat, mengurangi konsumsi makanan yang memakai pengawet, dan menghindari polusi udara,” sarannya.

Menyoal makan ikan asin, seorang ibu rumah tangga Mita (35), warga Jalan SM Raja Medan mengaku sangat khawatir terhadap anaknya, Dino (4 tahun) yang terbiasa mengonsumsi ikan asin. Ini karena anaknya sangat menyukai ikan asin. “Anak saya lebih suka ikan asin dari pada ikan lain atau ayam. Kalau sudah makan ikan asin goreng, makannya pasti banyak,” katanya.

Diakui Mita, ia sering memasak ikan asin untuk keluarganya, khususnya untuk anaknya Dino. Sebab, Dino tidak akan mau makan bila tidak ada ikan asin goreng yang garing. Secara pribadi, Mita sendiri tidak pernah tahu mengenai bahayanya ikan asin tersebut.

“Tapi repot juga kalau sudah begini. Karena tak mudah untuk mengubah kebiasaan makan anak saya,” pungkasnya.

Nasofaring, tumor yang tumbuh di sekitar muara tuba eustachius (saluran penghubung hidung dan telinga) awalnya tidak menimbulkan gejala. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, muncul berbagai gangguan seperti nyeri kepala karena sel kanker menyebar ke leher dan kepala, pandangan mengabur atau jadi dua (diplopia) karena saraf mata tertekan, mimisan karena dinding permukaan tumor rapuh sehingga mudah iritasi dan berdarah.

Kemudian, hidung serasa tersumbat karena sel kanker menyebar ke rongga hidung, telinga terasa penuh, berdengung, dan terasa nyeri. Ini karena tumor menyumbat muara tuba eustachius. Pembengkakan daerah sekitar leher karena kelenjar getah bening membengkak. Muncul benjolan di bawah telinga akibat semakin besarnya tumor.

Tumor ganas nasofaring memang sering hadir diam-diam. Gejala baru muncul ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut. Stadium tiga atau empat kanker nasofaring biasanya ditandai dengan benjolan di daerah leher. Harapan hidup tahap ini sudah menipis. Diagnosis kanker nasofaring sering terlambat karena ketiadaan gejala yang khas. Bahkan ketika pasien sudah mimisan pun banyak dokter umum yang tidak tahu bahwa dia menghadapi kanker nasofaring.

Kanker nasofaring sukar terlihat maupun teraba. Maklum, letaknya tersembunyi. Akibatnya, pada stadium dini, tumor nasofaring yang berukuran kecil kerap luput dari pemeriksaan dokter. Jadi, untuk memeriksa tumor ganas ini, dokter harus menggunakan endoskopi.

Alat ini dimasukkan ke lubang telinga. Biopsi atau pengambilan jaringan pun mutlak dilakukan untuk memastikan tingkat keganasan dan jenis pengobatannya.

Dr dr Delfitri Munir SpTHT-KL(K), Spesialis Tenggorok
Bahaya Dikonsumsi Terus Menerus Kata dokter yang bertugas di RS Gleni Medan ini, gen HLA-DRGB1*08 juga berperan sebagai penyebab Karsinoma Nasofaring (KNF). Gen yang ditemukan itu ternyata berasal dari seorang yang bersuku Batak dan sangat rawan empat kali beresiko menderita KNF dibanding orang bersuku lain. “Bila tidak terinfeksi Virus Epstein-Barr (VEB), maka resiko terjadinya KNF dengan bantuan gen HLA-DRGB1*08 tidak akan terjadi,” bilangnya.

Mengapa orang dewasa diperbolehkan? Menurutnya, pertahanan tubuh anak yang belum sempurna dibandingkan orang dewasa. Sedangkan orang dewasa yang sudah memiliki pertahanan imunitas yang kuat tidak akan mengganggu virus ini bereaksi menjadi kanker. Gejalanya pun tidak terasa secepat itu. Artinya baru akan tampak saat anak berusia produktif, pada usia 30-40 tahun.

Meski orang dewasa resikonya rendah terkena kangker mematikan itu, namun dr Delfitri menyarankan agar tidak mengkomsumsi dengan jangka waktu panjang atau terus menerus. “Bagi orang dewasa, kanker satu ini baru akan menyerang bila berusia 50 hingga 60 tahun. Artinya, masa inkubasi perjalanannya panjang untuk menyerang,” pungkasnya.




0 Komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!