Selasa, 15 November 2011

Rumah Sakit Indonesia Sudah Bisa Disejajarkan dengan Amerika

Tidak sedikit orang Indonesia yang lebih memilih berobat ke luar negeri karena ragu dengan kemampuan dokter dan rumah sakit Indonesia. Padahal adanya kerjasama dengan Mayo Clinic, AS, kini rumah sakit Indonesia sudah bisa disejajarkan Amerika.

Data tahun 2007 menunjukkan ada sekitar 340.000 orang Indonesia yang berobat ke Malaysia dan 80.000 orang berobat ke Singapura.

"Indonesia punya penduduk no 3 terbanyak di dunia, harusnya tingkat kesehatannya juga baik. Tapi dilematis karena banyak orang yang berobat ke luar negeri. Padahal sebenarnya kita nggak kalah, contohnya Eka Hospital sekarang sudah kerjasama dengan Mayo Clinic, US, maka kita bisa disejajarkan dengan US," jelas Dr Esther Nurima, MARS, Direktur Korporasi Eka Hospital, dalam acara temu media 'Hand in Hand for Healthier' di Eka Hospital, Tangerang.

Terhitung sejak bulan Juli 2011, untuk pertama kalinya Mayo Clinic hadir untuk melayani pasien di Indonesia. Para ahli dari rumah sakit swasta terbesar di Amerika Serikat ini memang tidak datang secara langsung, tapi akan melayani dari jarak jauh dengan teknologi Electronic Medical Consult (e-MC).

Konsultasi jarak jauh tersebut tidak sebatas surat menyurat saja, namun dengan teknologi video teleconference pasien di Indonesia bisa bertatap muka secara langsung (real time) dengan para pakar di Mayo Clinic. Data medis pasien juga bisa diakses bersamaan oleh kedua pihak. Layanan e-MC telah mampu melengkapi pengembangan Center of Excellence untuk penyakit kardiovaskular.

"Kehadiran e-MC membawa banyak manfaat bagi pasien antara lain akses kepada lebih dari 3000 dokter spesialis di Eka Hospital dan Mayo Clinic, solusi medis yang komprehensif, hasil kolaborasi tim dokter ahli di Eka Hospital dan Mayo Clinic, serta efisiensi waktu, tenaga, biaya untuk mendapatkan second opinion tanpa harus meninggalkan Indonesia," jelas Dr Esther.

Selama 6 bulan menjalin kerjasama, ada sekitar 2 hingga 3 pasien per bulan yang sudah memanfaatkan layanan e-MC, antara lain untuk kasus penyakit jantung dan bedah saraf.

"Eka Hospital bukan konstitusi pertama yang bekerjasama dengan Mayo Clinic. e-MC dari sudut pandang Mayo Clinic adalah untuk memberi kenyamanan pada pasien agar tidak pergi dari tempat asal, juga untuk memberi kesempatan pada rekan sejawat untuk meningkatkan kemampuan, karena pada dasarnya yang kami berikan adalah konfirmasi second opinion, sedangkan tindakan yang melakukan tetap dokter di tempat asal," jelas Thomas R Behrenbeck, MD, PhD, SCCP, kardiolog terkemuka dari Divisi Kardiovaskular Mayo Clinic.

Karena tidak gratis, tentu tidak semua pasien akan diarahkan untuk memanfaatkan layanan e-MC. Hanya kasus-kasus tertentu yang sangat kompleks dan tidak tertangani oleh dokter di Indonesia.

"Sampai saat ini belum ada pasien yang kita kirim ke Mayo Clinic, hanya e-MC lewat video conference saja. Untuk e-MC harganya sekitar Rp 9 juta. Dari segi nominal memang cukup besar, tapi bila dibandingkan dengan berobat ke luar negeri, ini mungkin jauh lebih murah," jelas Dr Muska Nataliansyah.

Mayo Clinic merupakan organisasi kesehatan nonprofit terbesar di Amerika Serikat yang telah beroperasi lebih dari 100 tahun. Organisasi ini mengelola rumah sakit swasta terbesar di Amerika yang beroperasi di Rochester-Minnesota, Jacksonville-Florida dan Scottdale-Arizona.

Tiap tahun rumah sakit ini melayani lebih dari 1 juta pasien yang datang dari sekitar 140 negara di seluruh dunia. Rumah sakit ini diperkuat oleh lebih dari 3.000 dokter spesialis, 150 di antaranya merupakan subspesialis di bidang kardiologi.



Sumber : Detikhealth.com




0 Komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!