Tampilkan postingan dengan label Info Perawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Perawat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

Rumah Sakit Indonesia Sudah Bisa Disejajarkan dengan Amerika

Tidak sedikit orang Indonesia yang lebih memilih berobat ke luar negeri karena ragu dengan kemampuan dokter dan rumah sakit Indonesia. Padahal adanya kerjasama dengan Mayo Clinic, AS, kini rumah sakit Indonesia sudah bisa disejajarkan Amerika.

Data tahun 2007 menunjukkan ada sekitar 340.000 orang Indonesia yang berobat ke Malaysia dan 80.000 orang berobat ke Singapura.

"Indonesia punya penduduk no 3 terbanyak di dunia, harusnya tingkat kesehatannya juga baik. Tapi dilematis karena banyak orang yang berobat ke luar negeri. Padahal sebenarnya kita nggak kalah, contohnya Eka Hospital sekarang sudah kerjasama dengan Mayo Clinic, US, maka kita bisa disejajarkan dengan US," jelas Dr Esther Nurima, MARS, Direktur Korporasi Eka Hospital, dalam acara temu media 'Hand in Hand for Healthier' di Eka Hospital, Tangerang.

Terhitung sejak bulan Juli 2011, untuk pertama kalinya Mayo Clinic hadir untuk melayani pasien di Indonesia. Para ahli dari rumah sakit swasta terbesar di Amerika Serikat ini memang tidak datang secara langsung, tapi akan melayani dari jarak jauh dengan teknologi Electronic Medical Consult (e-MC).

Konsultasi jarak jauh tersebut tidak sebatas surat menyurat saja, namun dengan teknologi video teleconference pasien di Indonesia bisa bertatap muka secara langsung (real time) dengan para pakar di Mayo Clinic. Data medis pasien juga bisa diakses bersamaan oleh kedua pihak. Layanan e-MC telah mampu melengkapi pengembangan Center of Excellence untuk penyakit kardiovaskular.

"Kehadiran e-MC membawa banyak manfaat bagi pasien antara lain akses kepada lebih dari 3000 dokter spesialis di Eka Hospital dan Mayo Clinic, solusi medis yang komprehensif, hasil kolaborasi tim dokter ahli di Eka Hospital dan Mayo Clinic, serta efisiensi waktu, tenaga, biaya untuk mendapatkan second opinion tanpa harus meninggalkan Indonesia," jelas Dr Esther.

Selama 6 bulan menjalin kerjasama, ada sekitar 2 hingga 3 pasien per bulan yang sudah memanfaatkan layanan e-MC, antara lain untuk kasus penyakit jantung dan bedah saraf.

"Eka Hospital bukan konstitusi pertama yang bekerjasama dengan Mayo Clinic. e-MC dari sudut pandang Mayo Clinic adalah untuk memberi kenyamanan pada pasien agar tidak pergi dari tempat asal, juga untuk memberi kesempatan pada rekan sejawat untuk meningkatkan kemampuan, karena pada dasarnya yang kami berikan adalah konfirmasi second opinion, sedangkan tindakan yang melakukan tetap dokter di tempat asal," jelas Thomas R Behrenbeck, MD, PhD, SCCP, kardiolog terkemuka dari Divisi Kardiovaskular Mayo Clinic.

Karena tidak gratis, tentu tidak semua pasien akan diarahkan untuk memanfaatkan layanan e-MC. Hanya kasus-kasus tertentu yang sangat kompleks dan tidak tertangani oleh dokter di Indonesia.

"Sampai saat ini belum ada pasien yang kita kirim ke Mayo Clinic, hanya e-MC lewat video conference saja. Untuk e-MC harganya sekitar Rp 9 juta. Dari segi nominal memang cukup besar, tapi bila dibandingkan dengan berobat ke luar negeri, ini mungkin jauh lebih murah," jelas Dr Muska Nataliansyah.

Mayo Clinic merupakan organisasi kesehatan nonprofit terbesar di Amerika Serikat yang telah beroperasi lebih dari 100 tahun. Organisasi ini mengelola rumah sakit swasta terbesar di Amerika yang beroperasi di Rochester-Minnesota, Jacksonville-Florida dan Scottdale-Arizona.

Tiap tahun rumah sakit ini melayani lebih dari 1 juta pasien yang datang dari sekitar 140 negara di seluruh dunia. Rumah sakit ini diperkuat oleh lebih dari 3.000 dokter spesialis, 150 di antaranya merupakan subspesialis di bidang kardiologi.



Sumber : Detikhealth.com




Jumat, 11 November 2011

Perawat dan Bidan Tidak Boleh Main Facebook Sembarangan


img
Perawat dan bidan merupakan orang yang sangat dekat dengan pasien. Karena itu, regulator di Inggris memperingatkan perawat dan bidan untuk tidak sembarangan berteman dengan pasien di Facebook atau mendiskusikan pekerjaan secara online.

Nursing and Midwifery Council (NMC) telah mengatakan bahwa petugas kesehatan tidak boleh menaruh informasi sensitif atau foto yang berhubungan dengan pekerjaan di situs jejaring sosial agar dapat memisahkan antara kehidupan profesional dan pribadi di internet.

Peringatan ini dikeluarkan karena banyaknya petugas kesehatan yang menggunakan situs popular seperti Facebook dan Twitter untuk menerima pertanyaan dan tindakan medis secara online.

"NMC berkomitmen untuk melakukan perlindungan publik dan menjamin perawat dan bidan membuat keselamatan dalam perawatan sebagai prioritas pertama di setiap saat," ujar Prof Dickon Weir-Hughes, CEO NMC, seperti dilansir Telegraph..

Prof Hughes mengatakan akan menyarankan perawat dan bidan untuk berhati-hati ketika menggunakan situs jejaring sosial.

"Mereka bisa berisiko jika mereka berbagi informasi sensitif, membuat komentar yang tidak pantas atau berteman dengan pasien secara online," jelas Prof Hughes.

NMC yang telah melakukan audiensi disiplin memperkirakan sekitar 355.000 dari 660.000 perawat dan bidan yang terdaftar menggunakan Facebook. Twitter juga populer di kalangan pekerja NHS (National Health Service) Inggris karena memungkinkan mereka untuk membahas reformasi kesehatan dan berita saham perkembangan medis dengan orang yang mereka tidak kenal secara pribadi.

NMC menyatakan bahwa informasi rahasia tidak boleh ditempatkan pada situs-situs jaringan sosial, terutama jika mengidentifikasi pasien atau mencakup foto-foto mereka. NMC juga mengatakan bahwa perawat harus menolak permintaan pertemanan dari pasien atau klien di Facebook, bahkan jika mereka tidak lagi di bawah perawatan perawat.

Hal ini direkomendasikan agar perawat menjaga dan memisahkan identitas pribadi dan profesional mereka jaringan sosial.

Kasus perawat yang bermasalah dengan Facebook pernah terjadi pada Timotius Hyde, seorang perawat komunitas psikiatri yang melakukan hubungan tidak pantas (berhubungan seksual) dengan seorang mantan pasien setelah berhubungan di Facebook selama 2 minggu.

Di Amerika, seorang mahasiswa keperawatan dikeluarkan setelah dia memposting foto dirinya di Facebook dengan plasenta manusia.

Sumber : Detikhealth.com


Senin, 07 November 2011

Rasa Nyeri Pada Anak Sering Tidak Ditangani Dengan Baik


img
Tidak semua anak ketika merasakan nyeri akan menangis, menjerit atau mengeluh. Beberapa anak mungkin akan menjadi lebih pendiam atau lebih menarik diri ketika merasakan nyeri. Ada juga anak yang tidak mengekpresikan apa-apa ketika merasakan nyeri, namun menjadi tidak nafsu makan atau sulit tidur.

Dr Raymond Pitetti mengatakan telah berulang kali seorang anak masuk ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan, patah kakiatau cedera lainnya yang menimbulkan rasa sakit yang tidak tertahankan.

Namun dokter hanya memberikan obat penghilang rasa sakit berbasis opioid yang kuat saat di IGD saja. Kemudian anak tersebut dipulangkan dengan tidak diresepkan obat pereda nyeri sama sekali. Tapi yang terjadi kemudian anak tersebut akan kembali dibawa ke IGD karena rasa sakit yang tidak tertahankan.

Dr Pitetti dan ahli lainnya mengatakan bahwa nyeri pada pasien anak sering tidak ditangani dengan baik (undermedicated), meskipun rasa sakit tersebut berasal dari patah tulang atau setelah operasi. Sebuah studi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Pediatric Surgery melaporkan bahwa sekitar 13 persen anak mengalami nyeri yang bertahan selama berbulan-bulan setelah operasi seperti usus buntu.

"Pada pasien anak seringkali tidak diberikan obat pereda nyeri yang memadai atau cukup," kata Dr. Zeev Kain, ahli anestesi pediatrik dari University of California, Irvine seperti dilansir dari CNNHealth.

Meskipun dokter sering merasa sudah tepat memberikan obat nyeri berbasis opioid pada anak di rumah sakit, namun dokter tidak yakin untuk memberikan obat tersebut ketika anak dipulangkan, bahkan jika anak merasakan nyeri parah.

"Para dokter khawatir pasien anak akan menyalahgunakan obat tersebut atau overdosis. Tetapi sebenarnya jika obat diresepkan dengan tepat dan dengan pengawasan orangtua di rumah, kekhawatiran tersebut tidak akan terjadi. Tapi ada juga ketika dokter telah meresepkan obat pereda nyeri dengan tepat untuk anak, beberapa orangtua memutuskan untuk tidak memberikannya. Hal tersebut disebabkan karena kekhawatiran orangtua terhadap overdosis obat tersebut," jelas Dr Pitetti.

Ahli pediatrik mengatakan obat pereda nyeri berbasis opioid aman untuk anak-anak pada dosis yang tepat. Namun ada sedikit risiko kecanduan jika obat dikonsumsi dalam waktu yang lama. "Jika penatalaksanaan rasa sakit pada anak tidak baik, maka pemulihannya kemungkinan besar akan lebih lambat," kata Kain.

Para ahli menyarankan beberapa tips untuk orangtua yang anaknya menderita nyeri parah antara lain :

1. Tanyakan kepada dokter mengenai obat pereda nyeri untuk anak sebelum meninggalkan rumah sakit
Jika berpikir anak akan merasakan sakit setelah pulang dari rumah sakit, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi kepada dokter mengenai resep obat pereda nyeri untuk dikonsumsi di rumah.

2. Tanyakan kepada dokter kapan harus memberikan obat tersebut pada anak
Tanyakan apakah harus memberikan obat tersebut sebelum anak merasa sakit atau jika ketika anak telah merasa sakit.

3. Lebih memperhatikan tanda-tanda jika anak sudah mulai merasakan sakit
Tidak semua anak yang merasakan nyeri akan menangis, menjerit, atau mengeluh. Beberapa anak yang merasakan sakit akan menjadi tenang dan lebih menarik diri atau memiliki kesulitan makan atau tidur.

4. Pikirkan cara lain untuk mengatasi nyeri anak selain menggunakan obat
"Metode alternatif seperti aromaterapi, akupunktur, dan mendengarkan musik dapat sangat membantu anak untuk mengalihkan rasa sakitnya," kata Kain.

Sumber : Detikhealth.com


Sabtu, 08 Oktober 2011

10 Kesalahan Perawat Dalam Melakukan Injeksi IM


Injeksi IM itu yang paling gampang, tapi banyak juga yang masih meninggalkan hal-hal sepele namun itu penting. Injeksi IM (Intra Muscullar), intra: didalam, muscular: otot. Injeksi ini memasukkan obat kedalam otot, bukan dibawahnya ataupun diatasnya.

Kesalahan-kesalahan apa saja sih yang biasa terjadi ketika injeksi IM?


1. Salah Letak
Kalau definisinya IM adalah kedalam otot, berarti kita harus mencari daerah-daerah yang memiliki otot yang tebal. Nah, lazimnya atau biasanya terdapat 3 posisi yang bisa
digunakan untuk injeksi IM. Yang paling sering adalah Ventrogluteal (di pantat), nah letak pastinya adalah area sepertiga sias bagian atas. 

Cara paling mundah menentukan posisi ini adalah dengan meletakkan jempol di tulang pinggul, jari kelingking di ujung tulang ekor, nah bagi tiga (kirologi pasti bermain disini), area sepertiga bagian ataslah yang menjadi sasaran jarum suntik. Area kedua adalah
pada bagian lengan atas (deltoid) ada beberapa pendapat mengatakan letaknya 3 jari dari pundak, ada yang bilang 4 jari, kalo menurut saya sih sama prinsipnya, ambil sepertiga bagian atas itulah letaknya. Posisi yang ketiga adalah di vastus lateralis (paha) nah posisi ini lebih mudah, tinggal taruh 3 jari dari jalur setrikaan (pakai imajinasi) bagian luar… tapi pada paha relative lebih luas.

2. Salah Sudut

Secara teori sudut untuk melakukan injeksi ini adalah 90 derajat, tegak lurus dengan permukaan kulit. Lalu bagaimana jika kita menggunakan jarum yang tidak pada porsinya?? Boleh dimodifikasi dengan mengurangi sudutnya tapi ini benar-benar tidak dianjurkan

3. Lupa Aspirasi
Tidak melakukan aspirasi adalah kesalahan fatal dalam injeksi IM. Aspirasi adalah cara untuk mengetahui apakah posisi jarum kita tepat atau tidak. Dengan cara menghisap terlebih dahulu, jika tidak ada darah ataupun cairan lain yang masuk ke spuit kita setelah dihisap, maka dipastikan posisi kita sudah tepat. Jadi jangan sampai lupa melakukan aspirasi ketika injeksi IM.

4. Salah Spuit/Nal
Spuit dan Nal (jarum) yang dipakai untuk injeksi adalah jarum khusus, begitupun pada injeksi IM, tidak boleh kebesaran atau kekecilan, tidak boleh kepanjangan ataupun kependekkan, jarum untuk dewasa digunakan untuk usia dewasa, begitupun untuk anak. Ukuran Spuit dan Nal yang dipakai untuk dewasa adalah 21-23 G dan panjang 1 – 1,5 inch dan untuk anak-anak 25-27 G dengan panjang 1 inch, ukuran tersebut bisa dilihat di kemasan spuit.

5. Tidak memasukkan Nal secara Sempurna
Jika letak sudah sempurna, jarum tepat namun jika teknik yang dipakai salah maka injeksi IM ini juga tidak akan berhasil. Jika sudah menggunakan sudut 90 derajat, maka jarum harus masuk seminimal mungkin 2/3 bagian, biar lebih aman masukkan hingga pangkal jarum (nal), baru lakukan aspirasi lalu masukkan obat.

6. Salah Obat
Jangan lupa selalu perhatikan kemasan obat, walaupun itu adalah sebuah order, selalu perhatikan kemasan obat, karena disana akan ditemukan obat tersebut harus dimasukkan dengan cara apa. Jika obat tersebut dimasukkan dengan cara IM, maka akan tertera tanda “IM” jika IV maka akan tertera “IV” jika bisa keduanya maka “IV/IM”.

7. Salah Pasien
Kroschek nama dan diagnose pasien, lalu cocokkan dengan obat. Kesalahan yang tak dapat dimaafkan adalah memasukkan obat kepada pasien yang salah, jangan hanya mengingat kamar dan bed saja, tapi ingat kamar, bed, nama dan diagnose. Lalu klarifikasi dengan menanyakan langsung dengan keluarga maupun pasien.

8. Lupa Desinfeksi
Untuk menjaga agar tidak timbul infeksi setelah injeksi, maka sebagai perawat tidak boleh melupakan cuci tangan sebelum dan sesudah injeksi, memakai Hanscoon, dan lakukan desinfeksi pada daerah yang akan diinjeksi menggunakan kapas alcohol.

9. Tidak mengeluarkan udara dari spuit
Bekerja dengan hati, jika terburu-buru maka kita akan kehilangan ketelitian. Kadang kerja dengan terburu-buru akan melupakan hal sepele, hal yang sering terlupa adalah mengeluarkan udara dari spuit setelah memasukkan obat kedalam spuit, harus dibiasakan dan harus dilakukan. Tak boleh ada udara sedikitpun dalam spuit kita sebelum memasukkan obat kedalam tubuh.

10. Lupa Komunikasi
Tak semua orang bisa menerima injeksi IM, bahkan lebih banyak orang yang takut dengan injeksi IM. Jurus ampuh perawat adalah komunikasi, komunikasi terapeutik diharapkan dapat membuat apsien rileks dan mengurangi sakit akibat injeksi. Dengan komunikasi kita juga akan terhindar dari kesalahan salah pasien, dan jangan lupa informed concent.


Sumber : Nersmawan




Jumat, 07 Oktober 2011

Kecelakaan Mengerikan yang Sering Terjadi Di Rumah Sakit

JANGAN TAKUT UNTUK PERGI KE RUMAH SAKIT JIKA ANDA TIDAK SAKIT. Apa pun yang Anda baca dalam artikel ini tidak mengusulkan bahwa lebih baik untuk merawat infeksi mengerikan Anda sampai sembuh dalam garasi Anda sendiri.

Beberapa hal dapat benar-benar aneh terjadi . Beberapa kecelakaan jarang terjadi, beberapa dari mereka, tapi semua mengerikan.

1 .Tersadar Saat Operasi pembedahan

Menjadi sadar namun lumpuh selama operasi adalah salah satu cerita-cerita horor sayangnya hal itu banyak terjadi. Lihat, obat yang menempatkan Anda untuk tidur (biasanya nitrous oxide) dan salah satu yang mencegah Anda bergerak atau berteriak adalah dua hal yang terpisah.  Anestesi kesadaran biasanya terjadi ketika nitro yang diberikan tidak cukup untuk membuat anda terbius, tapi dokter tidak tahu tentang hal itu karena pemberian nitro biasanya berjalan mulus membuat pasien tidak sadar.

Apakah kita menyebutkan bahwa nitrat juga merupakan hal yang mencegah Anda untuk merasakan rasa sakit karena pembedahan? Kami benar-benar harus menyebutkan hal itu.  Kadang-kadang, pengalaman sama dengan ingatan, akan jelas tringat dokter mengumpulkan para perawat untuk mengelilingi anda setelah operasi sambil tertawa-tawa memotret alat kelamin anda. Namun dalam hampir setengah dari kasus kesadaran anestesi di mana pasien selamat untuk menceritakan kisah itu, mereka melaporkan kesadaran penuh dan merasakan baja dingin mengiris daging mereka.

Salah satu pasien, Carol Weihrer , berada dalam posisi yang mengerikan mengetahui apa rasanya dan tampak ingin apa yang terlihat di matanya dihapuskan, karena ia terbangun selama prosedur nya 1998.

Seberapa besar anda harus khawatir? mereka mengatakan kemungkinan bangun dengan perasaan lumpuh anestesi sekitar 0,2 persen, tetapi itu bisa meningkat hampir sepuluh kali lipat untuk operasi berisiko tinggi seperti operasi jantung.

Jika anda lolos dari hal itu, operasi adalah kemungkinan yang bisa membunuhmu sekaligus menjadi kemungkinan untuk memastikan hal itu, saat orang - orang asing mengobok-obok bagian dalam tubuh anda, itu mungkin yang akan terlintas di benak anda

faktanya kita belum tahu seberapa sering hal itu akan terjadi, karena untuk mengetahui statistik untuk itu perlu kita tahu seberapa banyak pasien yang masih bisa bertahan hidup setelah mengalami anestasi.karena mimpi buruk kebanyakan tidak dilaporkan karena hal itu dianggap trauma belaka

Ada beberapa cara untuk memantau kesadaran anestesi, seperti dengan EEG, yang memeriksa aktivitas otak untuk tanda-tanda horor tak tertandingi, tetapi sistem yang tidak sempurna.


Masalah utama adalah dengan rumah sakit yang menolak untuk mempelajari masalah atau bahkan mengakui seberapa sering Anestasi terjadi, mungkin karena tidak ada yang akan menandatangani surat pernyataan rumah sakit jika ada kalimat "Selama operasi mungkin anda akan mengalami perasaan horor seperti dicabik-cabik tubuh anda, atau bahkan seperti penyiksaan yang kebanyakan orang tak berani untuk membayangkannya."

2. Kebakaran Saat Operasi


Ketika Anda sedang didorong ke dalam ruang operasi, semua itu berjalan melalui pikiran Anda adalah hal-hal tak terhitung yang bisa menjadi kesalahan. Menjadi terbakar mungkin tidak dalam daftar pikiran anda yang mungkin menjadi kesalahan selama operasi, tapi hal itu benar-benar terjadi

Sebuah laporan tahun 2003 menemukan bahwa sekitar 100 kebakaran bedah terjadi setiap tahun di AS, Dan yang lebih data terakhir menunjukkan bahwa jumlah ini mungkin tiga kali lebih tinggi.

Bahkan, ada website secara utuh didedikasikan untuk informasi tentang kebakaran bedah, termasuk informasi rinci tentang asal api dan bagaimana hal itu terjadi (sampai sekarang, kami menganggap itu sihir).  Situs ini mendaftar tidak kurang dari 36 item dalam ruang operasi yang bisa meledak di kondisi yang tepat, seperti alkohol, kasa, salep dan pakaian Anda. Sebaiknya harap Anda tidak masuk ke serangan jantung, karena ledakan defibrilator pada waktu yang tepat dapat mengubah Anda menjadi bola api yang menjerit-jerit.

Dan menurut sebuah lembaga dikutip di situs, "Hampir semua ruang operasi menyalakan api pada atau di pasien:. Dalam satu kasus, dokter baru saja menjahit operasi kandung empedu pada Antoinette DePhillipo dan perutnya diolesi dengan larutan pembersih berbasis alkohol sebelum memutuskan untuk melakukan sedikit operasi kosmetik dadakan untuk menghapus mol agar sedap dipandang.

Ketika ia membawa perangkat kauter panas ke tubuhn terbuka, ada suara yang asistennya digambarkan sebagai "mirip dengan pencahayaan grill," yang merupakan salah satu dari lima teratas suara kita setidaknya ingin mendengar selama operasi besar.

Untungnya, kematian karena hal itu sangat jarang (sekitar satu atau dua kasus per tahun), tetapi luka bakar parah pada dada atau wajah, atau bahkan kerusakan organ serius , sangat umum, .

3. Kecelakaan MRI Scan


Kami telah digariskan bagaimana MRI scan satu miliar kali lebih aman daripada yang menggunakan CT scan, tetapi akan lalai dari kami untuk memungkinkan Anda untuk tetap tidak takut bahkan oleh salah satu instrumen dalam gudang senjata Rumah Sakit.

Hal tentang scan MRI bahwa, disamping menggunakan radiasi, mereka melihat ke dalam tubuh Anda menggunakan magnet yang kuat, di samping juggalos yang membingungkan , tidak bekerja dengan baik dengan benda logam.  Secara khusus, apa saja metalik di ruangan scan memiliki kecenderungan untuk terserap lurus ke kepala Anda, seolah - olah kepala anda diletakkan untuk melawannya.

Korban tewas pertama karena MRI terjadi pada tahun 2001, ketika seorang anak laki-laki secara tragis tewas setelah magnet kekuatan sangat dihasilkan oleh mesin menyambar kaleng udara di dekatnya dan mengirimnya terbang menuju mesin seperti peluru missile.

Dan itu bukan tanda pertama bahwa kebijakan operasional MRI mungkin perlu direvisi secepatnya - mesin-mesin telah membuat senjata mematikan keluar ,mulai dari kursi, brankar dan bahkan pistol , yang keliatannya seperti ditembakkan sembarangan .Menurut Dr John Gosbee, "panggilan karena Insiden ke MR pusat mungkin terjadi sebulan sekali."

Sejak tahun 2001, rumah sakit telah menerapkan beberapa kebijakan dimaksudkan untuk melindungi pasien dari proyektil logam, mungkin akan melibatkan penjara plastik yang digunakan untuk mengurung Magneto.

Tapi itu tidak membantu Anda jika Anda memiliki logam pada atau dalam tubuh Anda ketika Anda masuk ke scan - alat pacu jantung dan klip bedah adalah bahaya nyata, tetapi dalam satu kasus , tukang las menjadi buta ketika debu partikel perak tertanam di matanya menjadi sangat panas oleh magnet MRI.

4. Kesalahan Penyaluran Tabung


Siapapun yang telah tinggal di rumah sakit yang berkepanjangan akrab dengan sensasi tabung yang mendorong ke dalam setiap lubang. Transfusi darah, kateter, infus, kantong kolostomi dan tabung untuk makan semua bekerja sama untuk membuat Anda hidup dan tampak seperti semacam percobaan sains-fiksi.

Sayangnya, ini fakta yang sedikit diketahui yang menghubungkan semua tabung ke lubang yang sesuai dengan tubuh , adalah seperti mengaitkan sistem surround-sound dengan TV baru, hanya saja di RS semua kabel berwarna sama , dan tidak berlabel.

Untuk kenyamanan, tabung rumah sakit hampir semua satu ukuran cocok untuk semua, apakah itu memberikan darah yang sangat dibutuhkan ke dalam pembuluh darah atau menyuntikkan bubur lezat ke tubuh anda.

Tapi dalam campuran yang salah, Anda memiliki masalah serius, seperti satu wanita tragis ditemukan ketika dia meninggal, di tubuhnya ada cairan ayam dipompa ke dalam aliran darah nya, yang telah digambarkan sebagai seperti "menuangkan beton ke saluran pembuangan."

Kesalahan tabung-terkait lainnya yang tidak diberi warna-warni analogi tersebut termasuk orang mengalami perasaan tenggelam yang disebabkan oleh menetes IV disilangkan dengan tabung oksigen, embolisms disebabkan oleh tabung udara terhubung ke urat dan tulang belakang anestesi disuntikkan di tempat-tempat di tulang belakang. dan tidak ada memang tidak ada label untuk hal ini?

Diperkirakan bahwa 16 persen dari seluruh pasien rumah sakit pernah mengalami tabung campur-baur, yang mengakibatkan ratusan kematian setiap tahun.

Rumah sakit menyalahkan produsen, produsen menyalahkan Pengawas Rumah Sakit, dan Pengawas Rumah Sakit hanya memberitahu semua orang untuk tutup mulut dengan menggunakan sesuatu.

5. Menjadi Gila Dengan Tiba - Tiba


Sangat didokumentasikan dan belum bisa dijelaskan, "Delirium rumah sakit" adalah sebuah fenomena yang berkembang pesat yang tampaknya paling cocok untuk plot dari beberapa jenis film tentang kiamat.

Pemenang hadiah Pulitzer sejarawan Justin Kaplan adalah salah satu orang yang mengalami delirium rumah sakit secara langsung.

Sedangkan rumah sakit karena pneumonia pada tahun 2009, Kaplan tiba-tiba mulai, benar-benar tanpa alasan, untuk memvisualisasikan ribuan kecil, alien monster despotik mencoba untuk mengambil alih rumah sakit dengan mengubah semua orang menjadi zombie.


Sial, kami yakin Mr Kaplan telah menulis beberapa hal yang sangat rapi selama bertahun-tahun, namun jika kita menilai penghargaan, kami akan memberinya Pulitzer lain.

Kemudian, ketika mencoba untuk menyerang alien , Kaplan memukul perawat, mengancam akan membunuh istrinya, jatuh dari tempat tidur dan darahnya terus mengalir di lantai, ia hampir mati dalam proses itu.Halusinasi ini berlangsung selama beberapa jam.

Menurut Dr Manuel N. Pacheco, Mengamuk karena delirium hospital sangat umum, dengan jumlah hampir satu dalam sehari, di Rumah Sakit Mount Auburn di Cambridge, Mass. Mereka kebanyakan mempengaruhi orang tua, dan sering bingung dengan kegilaan masa lalu. Tapi menjadi orang gila biasanya tidak membunuh Anda -tapi tidak demikian dengan kegilaan karena delirium rumah sakit.

Take Ethel Reynolds, who was admitted to a Virginia hospital for a routine procedure to have fluid drained from her feet but wound up hospitalized for weeks after she came down with a chronic case of batshit.

Seperti Ethel Reynolds, yang masuk ke rumah sakit Virginia untuk prosedur rutin untuk mengeringkan cairan yang ada di kakinya tapi luka dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu setelah dia turun dengan kasus kronis batshit.

perawat kemudian menceritakan, "Kami mendapati sertifikat kematiannya, dan No 1 penyebab kematiannya adalah delirium . Sebagai perawat saya sangat terkejut!!, saya mengharapkan alasan medis sebagai penyebab kematian seperti Kegagalan ginjal, jantung, paru-paru, atau organ penting lain, dan itu bukan delirium. "

Diketahui Ada beberapa pemicu kegilaan tersebut , seperti usia lanjut, infeksi, pneumonia atau obat tertentu, tetapi penyebab yang mendasari masih belum diketahui.


Kami hanya mengira - ngira hal itu karena dokter tidak akan mau menerima pernyataan bahwa "Rumah Sakit adalah portal ke neraka"


6. Bakteri Super Kuat

Mungkin anda tidak akan mengira akan mendapatkan infeksi di Rumah sakit, sebab anda menganggap rumah sakit adalah tempat teraman

Kita telah menjelaskan bagaimana antibiotik yang tumpah bisa menciptakan wabah super yang kebal terhadap obat.
Tetapi kami tidak menceritakan bagian yang terbaik: di temapat apa di mana segala obat dan dan segala penyakit berbaur dan bergaul ?  Itu benar - rumah sakit Anda adalah jenis seperti sebuah pabrik untuk mengubah mikroba menjadi tangguh, seperti highlanders.

Karena cinta alam semesta untuk ironi, rumah sakit adalah tempat berkembang biak yang ideal untuk mikroba super ini, khususnya karena cara mereka menjadi sangat steril. Hal itu akan membunuh semua bakteri kecuali bakteri yang paling kuat


Dan sementara anda berfikir dengan membunuh 99 % bakteri, rumah sakit akan menjadi ideal, tapi ironisnya hal itu akan membuat bakteri super tempat yang lebih luas untuk bernafas, dan bukan hanya itu, anda telah membunuh semua musuh dari bakteri super itu

Dan sementara Anda mungkin berpikir bahwa membunuh 99 persen kuman di rumah sakit Anda hanya singkat ideal, pikirkan lagi - tidak hanya memiliki Anda mengingat bahwa superbug lebih banyak ruang untuk bernapas, tetapi Anda baru saja melepas semua mu suh-musuhnya.

Akibatnya, sampai 100.000 orang per tahun yang dibunuh oleh-bukti penyakit antibiotik yang mereka dapatkan di rumah sakit.  Sebagian dari masalah adalah bagaimana rumah sakit melakukan disinfeksi.Dengan menggunakan tisu antimikroba pada lebih dari satu permukaan , Cleaning service memberikan tumpangan gratis ke bagian lain dari rumah sakit, di mana, mereka segera mulai membunuh orang.

Kabar baiknya adalah bahwa dengan hanya menggunakan satu desinfektan menghapus pada satu permukaan, rumah sakit dapat dengan mudah menghindari penyebaran bakteri super.

hal ini tentu saja akan memakan banyak anggaran, tapi kami yakin sistem pelayanan kesehatan kita tidak akan mempermasalahklan uang demi keselamatan pasien.


Rabu, 05 Oktober 2011

Rumus Umum Wajib Diingat Perawat

1. Rumus Tetesan Cairan infus
Terkadang sebagai perawat, menghitung tetesan perawat lebih sering dilakukan dengan ilmu kirologi, walaupun ada beberapa yang tepat, namun tak banyak juga yang benar-benar meleset jauh, karena kondisi pasien tak bisa semua modal kirologi, beberapa penyakit gagal organ akan sangat berdampak buruk akibat kelebihn cairan yang kita berikan. Sambil mereview lagi, mari kita hitung rumus tetesan infuse

- Macro
Jika yang ingin dicari tahu adalah berapa tetesan yang harus kita cari dengan modal kita tahu jumlah cairan yang harus dimasukkan dan lamanya waktu, maka rumusnya adalah:

Tetes/menit : (jumlah cairan x 20) / (Lama Infus x 60)

Jika yang dicari adalah lama cairan akan habis, maka rumusnya adalah sebagai berikut:

Lama Infus: (Jumlah Cairan x 20) / (jumlah tetesan dlm menit x 60)

Misal: seorang pasien harus mendapat terapi cairan 500 ml dalam waktu 4 jam, maka jumlah tetesan yang harus kita berikan adalah (500 x 20 ) / ( 4 x 60 ) = 10000 / 240 = 41,7 = 42 tetes/menit begitupun untuk rumus lama infuse tinggal dibalik aja.

- Micro
Selang infuse micro adalah selang infuse yang jumlah tetesannya lebih kecil dari macro, biasanya terdapat besi kecil di selangnya, dan biasanya digunakan untuk bayi, anak dan pasien jantung dan ginjal. Rumus untuk menghitung jumlah tetesannya adalah sebagai berikut :

Jumlah tetes/menit : (Jumlah cairan x 60 ) / (Lama Infus x 60)

Sedangkan rumus lamanya cairan habis adalah sebagai berikut :

Lama waktu : ( Jumlah Cairan x 60) / (jumlah tetesan dalam menit x 60)

2. Rumus Rumpleed Test
Rumpleed test biasanya dilakukan untuk mengetahui tanda gejala awal adanya ptekee (bintik merah pada penderita DBD), pte
kee muncul akibat pecahnya pembuluh darah kapiler, sehingga pada fase awal tidak akan langsung muncul, oleh karena itu tujuan rumpled test adalah untuk mengetahui lebih awal adanya ptekee. 

Rumus yang dipakai adalah (Sistole + Diastole) / 2, lalu tahan 5 – 10 menit. jika terdapat sepuluh atau lebih bintik merah, maka dikatakan rumpled test positif, jika kurang maka disebut rumpled test negative. Misal kita melakukan tensi darah hasilnya 120/80 mmHg (systole : 120, Diastole: 80), maka (120 + 80)/2 = 100 mmHg, maka kita pompa hingga alat tensi darah menunjukkan angka 100 mmHg, kita tutup tepat di angka 100 dan tahan selama 5 – 10 menit, lepaskan baru kita hitung jumlah bintik merahnya.

Rumpleed test merupakan uji awal adanya gangguan trombosit pada penderita DBD, namun bukanlah hal untuk menegakkan diagnose DBD.

3. Rumus Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan pada tubuh data dihitung sebagai berikut :
 

- Pada anak < 10 Kg , maka 10 Kg maka dihitung 100 ml/ BB. 
Misalnya BB 8 kg maka kebutuhan cairan adalah 8 x 100 = 800 ml/hari. 

- Pada anak dengan BB 10 – 20 Kg, maka 1000 ml pada 10 kg pertama dan ditambah 50 ml per Kg penambahan berat badannya. 
Misanyal BB = 15 kg, maka 1000 ml ditambah 5 x 50 ml maka menjadi 1250 ml/ hari kebutuhan cairannya 

- Pada seorang dengan berat badan > 20 Kg maka rumusnya adalah 1500 ml pada 20 kg pertama dan ditambah 20 ml/Kg sisanya.
Misalnya seseorang dengan BB 40 Kg, maka 20 kg pertama adalah 1500 ml, sedangkan 20 kg sisanya x 20 ml = 400 ml sehingga kebutuhan cairan seseorang dengan berat 40 kg adalah 1500 + 400 ml = 1900 ml/hari.

4. Rumus Luas Luka Bakar
Rumus luas luka bakar memang terkadang membuat kita harus lebih mengerutkan dahi, karena memang sulit-sulit gampang dalam penerapannya. Rumus pada bayi menggunakan rumus 10 – 20 %, jika tangan dan kaki yang terkena maka 10 %, jika kepala, leher dan badan depan dan belakang maka 20 %. Untuk dewasa
menggunakan rumus Rule of Nine yang digambarkan sebagai berikut :

 
Rumus Rule of Nine

5. Rumus Body Mass Index (BMI)
Body Mass Index dicari menggunakan rumus BB (Kg) / TB2 (m)
Underweight :
Kurang dari 18.5
Normal : 18.5 - 24.9
Overweight/pre-obes : 25.0 - 29.9
Obes I : 30-34.9
Obes II : 35-39.9
Obes III: lebih dari atau sama dengan 40.

Sumber :  Nersmawan



Selasa, 04 Oktober 2011

Mengapa Sering Gagal Melakukan EKG?

Melakukan EKG (Elektro Kardio Grafi – Electro Cardi Graph ) atau biasanya kita lebih suka menyebutnya Rekam Jantung.

Hal yang paling mendasari kenapa saya menulis ini adalah saya terkadang melihat masih banyak oknum-oknum tertentu yang masih asal dalam melakukan EKG, sehingga hasilnya menjadi berantakan, salah, tidak bisa dibaca dan miss interpretasi. Sebelum memulai EKG, mari kita cek terlebih dahulu alat dan perlengkapan EKG yang akan kita gunakan, pertama cek dulu benarkah itu alat untuk EKG.
  

Apa saja sih hal-hal teknis yang sering membuat hasil EKG berantakan? Berikut beberapa penyebab kegagalan hasil EKG : 

    1. Salah Pasang Elektroda Ekstremitas
    Ini nih yang pertama yang harus di cek sebelum melakukan EKG, Elektroda Ekstre mitas adalah berupa penjepit kaki dan tangan yang di bagian dalam terdapat lempeng logam. Terdiri dari empat buah elektroda, biasanya berwarna Merah, Kuning, Hijau dan Hitam.

    Selama ini sih standar semua alat sama, Warna merah hingga hitam dipasang secara berurutan searah jarum jam dimulai dari tangan kanan. Nah, pastikan Warna merah dijepit di pergelangan lengan kanan, dengan lempeng logam terletak dibagian dalam atau bagian arteri radialis atau bagian biasa kita meraba nadi kemudian warna kuning di Pergelangan tangan Kiri dengan cara yang sama, nah warna hijau dijepitkan di kaki (atas mata kaki sedikit) sebelah kiri dengan logam juga di bagian dalam, dan hitam di bagian kaki sebelah kanan dengan aturan yang sama. Belum berakhir teman, colokkan kabel yang tersedia sesuai warna (tinggal dicocokin  warnanya), biasanya sih kabelnya sudah dipisah digabung empat buah dan lebih panjang kabelnya.

    2. Salah Pasang Elektroda Hisap
    Eektroda hisap untuk dada ada 6 buah, warnanya jika di pasang secara urut begini: Merah – Kuning – Hijau – Coklat – Hitam – Ungu. Nah kesalahan apa yang sering terjadi?Keseringan nih, langsung ditempel aja merah di kanan terus kuning sampai hitam ditempel sejajar di kiri, padahal itu salah. Sebagai perawat professional, apabila kita belum professional ada bagusnya kita menerapkan ilmu semasa kuliah.


    Nah semasa kuliah dulu saya diajarin sebelum memasang elektroda hisap ini kita main raba-raba untuk menentukan titik yang jelas. Warna Merah diletakkan di kanan sela iga ke empat, jadi caranya raba dengan jari hitung dari atas dimulai sela pertama, diurut hingga ketemu sela ke empat, kemudian ceplok deh, untuk warna kuning, di seberangnya yaitu di dada kiri dengan posisi yang sama. Nah yang berikutnya nih yang sering dikerjakan asal-asalan oleh oknum-oknum tertentu. Bagusnya pasang dulu elektroda ke empat yang berwarna coklat di sela kelima bagian kiri, nah letak pastinya kita bagi dua dada kiri, diurut dari atas, nah pas ketemu sela kelima ceplokin aja disitu.


    Nah untuk elektroda ketiga yang berwarna hijau di ceplokin antara elektroda kedua dan keempat, jadi harusnya posisinya pas banget diatas tulang iga kelima. Untuk elektroda berwarna hitam atau yang kelima tetap di sela iga kelima namun digeser kearah ketiak, nah yang keenam atau yang berwarna ungu pas di pertengahan ketiak kiri, jadi letak yang sejajar mengikuti sela iga kelima adalah yang berwarna Coklat – Hitam – Ungu.

    3. Elektroda Tidak Bersih
    Elektroda yang terlapisi sesuatu mengakibatkan terhalangnya aliran listrik, jadi pastikan kebersihan lempeng logam dengan mengusapnya dengan alcohol terlebih dahulu, agar logam tidak tertutup atau terlapisi kotoran.

    4. Elektroda Tidak Menempel Sempurna
    Dalam hal ini penggunaan Jelly sangat dianjurkan, karena akan mengantar listrik lebih sempurna, juga akan mempermudah elektroda sedot menempel dengan sempurna. Pastikan juga bahwa ketika pemasangan elektroda di dada bukan diatas rambut-rambut dada, karena akan mempengaruhi hasil yang sebenarnya, jadi bila berambut, cukur dulu. Pastikan semua elektroda menempel dengan sempurna sebelum dijalankan mesin EKG-nya

    5. Kontak dengan Logam dan Radiasi
    Sudahkah anda meminta pasien untuk menanggalkan perhiasan logam baik itu kalung, cincin, anting, jam tangan, ikat pinggang bahkan Handphone? Jika belum maka wajarlah hasil EKG anda berantakkan, karena adanya logam dan radiasi tertentu akan mengganggu aliran listrik dalam pemeriksaan jantung ini. Masih belum berhasil juga? Anda terlupa bahwa pasien mengantongi uang koin logam. Masih belum berhasil juga? Lihat tangan pasien memegang list logam ranjang, eh kakinya juga nempel dengan list ranjang, dan ternyata suami pasien juga memegangi pasien! Wajar saja gagal.

    6. Pasien Gelisah
    Usahakan pasien dalam kondisi tenang. Lalu bagaimana misa pasien gelisah dan tak sadarkan diri? Baiknya diskusikan dengan dokter untuk pemberian obat penenang jika dianjurkan.

    7. Trouble Alat
    Semua benar kok masih gagal? Jangan-jangan bukan alat EKG yang dipakai, jangan-jangan stop kontak belum dicolokin, jangan-jangan kertasnya habis atau terbalik memasangnya. Semua benar kok masih belum jalan juga? Nah kalau ini tergantung amal.



    Sumber : Nersmawan



     

    Senin, 03 Oktober 2011

    10 Kesalahan Perawat Dalam Memasang Infus

    Selama ini memasang infus (IVFd – Intravenous Fluids), sudah menjadi keseharian tugas perawat. Terkadang memasang infus adalah hal yang gampang, kadang pula karena hal-hal sepele kita malah gagal memasangnya. 

    Berikut sepuluh hal yang sering terlupa ataupun yang menjadi penyebab kita gagal dalam memasang infus :

    1. Salah Sudut
    Hal penentu masuk dan tidaknya abocath kedalam pembuluh darah vena secara tepat tergantung dari perawat ketika dalam membuat sudut pemasangan ketika akan menusuk. Kemiringan jarum abocath tidak boleh terlalu besar, karena akan berimbas pecahnya pembuluh darah vena karena terjadi ruptur akibat tembusnya abocath pada bagian bawah vena. Sebaliknya sudut yang terlalu kecil mengakibatkan abocath hanya akan berjalan-jalan didalam kulit (dibawah permukaan kulit) tanpa mengenai pembuluh darah, dan tahukah anda, ini berasa sangat sakit sekali. 

    Sebelum menusukkan abocath, perkirakan bahwa sudut yang kita buat adalah berkisar antara 40 hingga 60 derajat dari permukaan kulit pasien, tusukkanlah dan rasakan ketika ujung jarum menembus pembuluh darah, kurangi sedikit sudutnya sambil menarik sedikit jarum ketika darah sudah terlihat keluar dia penampung darah abocath, terus dorong selang abocath hingga habis, tarik jarum, tekan sedikit pada permukaan kulit tempat masuknya jarum agar darah tidak mengalir, masukkan selang ifus dan alirkan cairan.

    2. Salah Ukuran Abocath
    Pastikan selalu perhatikan ukuran pembuluh darah yang akan ditusuk dan perkirakan dengan ukuran abocath. Ingat, disini ilmu kirologi perawat sangat dibutuhkan. Ukuran jarum abocath berhitung terbalik, semakin kecil nomornya, semakin besar ukuran jarumnya, dan ukuran abocath untuk infus selalu genap. Untuk ukuran pasien Indonesia, pada orang dewasa lazimnya memakai abocath dengan ukuran 20 G, sedangkan pada anak-anak dimulai pada ukuran 24 G keatas. Yang perlu dicatat disini, ukuran jarum mempengaruhi jumlah cairan yang masuk, apabila pada kondisi pasien syok, maka jumlah cairan yang masuk pun harus dalam jumlah banyak dan cepat, makanya biasanya untuk pasien-pasien gawat dan memerlukan terapi cairan yang banyak dan cepat, biasanya menggunakan abocath berukuran 18 G, begitupun untuk calon pasien operasi biasanya menggunakan abocath dengan ukuran 18 G. 

    Catatan : Pemakin besar ukuran jarum, maka panjang abocath juga semakin panjang, oleh karena itu perlu disesuaikan dengan pembuluh darah. 

    3. Salah Memilih Pembuluh Darah Vena
    Kesalahan yang berikutnya adalah kesalahan dalam memilih pembuluh darah vena, yang harus diingat pemilihan pembuluh darah vena adalah dari ujung ke pangkal, dari punggung tangan semakin keatas. Pembuluh darah yang dicari pun harus dicari yang tidak bercabang dan tidak keriting, karena akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah. Vena yang kita pilih juga tidak boleh yang melewati persendian, karena akan mengakibatkan infus mudah macet.

    4. Salah Cairan
    Memasang infus adalah kerja kolaborasi perawat dengan profesi lain, namun sebagai perawat kita harus jeli, apakah cairan yang diorder benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta kondisi pasien atau tidak, karena perawat adalah seseorang yang mendampingi pasien selama 24 jam. Pelajari apa saja yang terkandung dalam cairan infus tersebut, misalnya pada pasien dengan oedem harus membatasi garam, maka cairan NaCl harus dipertimbangkan, pada pasien DM penggunaan cairan Dextrose harus benar-benar diperhatikan, cairan-cairan dengan osmolaritas tinggi perlu dibatasi kadarnya. Hal terpenting, jangan sampai salah cairan yang masuk ke pasien, karena itu sangat merugikan dan membahayakan pasien.

    5. Salah Pasien
    Kenali pasien Anda sebelum memulai prosedur. Yang bener harus dilihat, ditanya dan diyakinkan.

    6. Lupa Mengalirkan Cairan dalam Selang Infus
    Keteledoran yang lumayan sering terjadi adalah abocath sudah tertusuk tapi cairan belum siap. Ini nih yang sering bikin berabe, dan kesannya tidak profesional. Buatlah sebuah ritual khusus dalam memasang infus, misal menusuk botol, mengalirkan cairan dalam selang melihat ada udara atau tidak baru gantungkan diatas tiang infus, jadikan itu adalah ritual pertama sebelum memasang infus, jadi walaupun pikiran kita sedang ruwet otak bawah sadar kita pasti akan melakukannya ketika memasang infus.

    7. Lupa Memotong Plaster 
    Masih nyambung dengan poin sebelumnya, pastikan memotong plaster adalah ritual kedua setelah mempersiapkan cairan dan selang, hitung bener-bener jumlah plaster, panjang pendeknya sudah tepat belum (sesuai ilmu kirologi) atau kalau memakai metode satu plaster apakah plaster sudah dibelah atau belum.

    8. Lupa Melakukan Desinfeksi
    Terkadang hal yang sepele begini bisa kelupaan dengan pedenya kita menusukkan abocath, eh baru teringat belum di desinfeksi, hal ini bisa karena kita terlalu grogi, terlalu-buru-buru tau lupa bawak alatnya. What ever alasan kita, pokoknya melakukan desinfeksi sebelum menusukkan abocath itu wajib hukumnya, kan kasihan pasiennya.

    9. Lupa Memakai Handscoon
    Berbagai alasan ketika kita tidak memakai Handscoon, kadang lupa kadang juga sengaja. Memang terkadang kita tidak merasa nyaman memasang infus dengan memakai Handscoon, apalagi jika pas lagi memasang plaster lengket sana sini. Tapi demi keamanan serta kenyamanan kita dan pasien ini juga kudu dilakuin.

    10. Lupa Berkomunikasi dengan Pasien
    Perawat tanpa ada basa-basi, langsung menyiapkan alat langsung tusuk sudah selesai.Yang ditusuk siapa ya...?? 

    Salah satu kelebihan ilmu kita adalah berkomunikasi karena komunikasi perawat adalah komunikasi yang menyembuhkan. Ingat! selalu pastikan pasien itu benar atau tidaknya dengan berkomunikasi, meminta ijin dengan berkomunikasi, dan merilekskan pasien dengan berkomunikasi.



    Sumber : Nersmawan


     

    Rabu, 31 Agustus 2011

    Perawat Salah Suntik, Ribuan Pasien Diabetes Terancam HIV


    img
    Sebuah klinik di Amerika menghubungi ribuan pasien untuk mengingatkan kemungkinan tertular Human Imunodeficiency Virus (HIV). Gara-garanya, salah satu perawat melakukan kesalahan saat mengajari pasien diabetes cara menyuntikkan insulin.

    Seorang perawat di Dean Clinic di Wisconsin, Amerika Serikat diduga memperagakan alat suntik dan pen untuk tes darah secara langsung ke tubuh pasien. Menurut panduan, peragaan seharusnya dilakukan pada boneka atau benda lain misalnya buah jeruk.

    Ketika menusukkan alat-alat tersebut, perawat yang kini sudah diberhentikan itu memang mengganti jarum di bagian ujungnya sehingga 1 pasien hanya menggunakan 1 jarum. Namun karena alat lainnya tidak diganti, dikhawatirkan ada kuman yang terjebak lalu ditularkan ke pasien lain.

    Antara tahun 2006-2011, mantan perawat tersebut telah mengajari sedikitnya 2.345 pasien diabetes. Seluruhnya merupakan pasien baru yang harus memakai insulin dalam jangka panjang, sehingga butuh pengarahan bagaimana cara menyuntikkannya tanpa bantuan dokter.

    Bukan cuma HIV, juru bicara Dean Clinic juga mengkhawatirkan risiko infeksi penyakit lain yang ditularkan melalui darah. Di antaranya yang tak kalah berbahaya adalah hepatitis B dan C, yang jika tidak tertangani atau terlambat didiagnosis bisa memicu kanker hari.

    "Tujuan kami sekarang adalah memastikan agar para pasien yang mungkin terinfeksi segera mendapat pemberitahuan, lalu secepatnya dites," ungkap Dr Craig Samitt, pimpinan sekaligus pemilik Dean Clinic seperti dikutip dari ABC News.

    Sementara itu menurut seorang pakar kesehatan, pasien punya hak untuk memastikan bahwa dirinya aman dari risiko penularan infeksi di pusat-pusat layanan kesehatan. Bahkan, pasien berhak menanyakan pada dokter atau perawat apakah sudah cuci tangan sebelum menyuntik.

    "Kadang-kadang memang tidak perlu, tapi langkah kecil seperti ini bisa memberi perlindungan ekstra terhadap keamanan pasien," ungkap sang pakar, Dr Robert Glatter dari Medscape Emergency Medicine yang tidak terlibat langsung dalam kasus tersebut.


    Sumber : Detikhealth.com



    Minggu, 31 Juli 2011

    Sikap Dokter Percepat Kesembuhan Pasien

    Perilaku Dokter Percepat Kesembuhan Pasien
    MENURUT hasil penelitian pada beberapa rumah sakit yang menggunakan para stafnya sebagai subjek, disimpulkan bahwa dokter yang berperilaku lebih sopan dan santun akan membuat pasien lebih sehat dan cepat pulih. 

    Seperti dikutip dari Telegraph, seorang ahli bedah asal Amerika, Andrew Klein, mengatakan bahwa perilaku dokter yang cenderung kurang ramah atau bahkan kasar kepada staf akan berpengaruh besar pada hasil operasi. Seperti yang ia tulis dalam Archives of Surgery, Klein menyerukan agar pasien lebih baik memilih dokter dengan perilaku yang baik. 

    Klein yang juga seorang dorector pada Pusat Cedars-Sinai Comprehensive Transplant Centre in Los Angeles, mengatakan, "Seringkali, dokter bedah dipilih karena latar belakang prestasi, pengetahuan, dan pengalaman mereka dalam hal pelatihan dan teknis." 

    "Namun sesungguhnya, ruang operasi merupakan lingkungan sosial di mana setiap orang harus bekerja sama untuk kepentingan pasien. Ketika seorang dokter bedah yang diistilahkan 'berkuasa' bertindak kasar dan tidak ramah, itu akan memengaruhi segalanya." 

    Dengan mengutip berbagai penelitian, ia mengatakan salah satu studi juga menunjukkan bahwa ahli bedah yang lebih sopan cenderung melakukan operasi dengan risiko komplikasi dan kematian yang lebih kecil. Terungkap pula, 3 dari 4 apoteker dan perawat di rumah sakit cenderung berusaha menghindari kontak dengan dokter yang tidak ramah, bahkan jika mereka memiliki pertanyaan tentang obat.
    Sumber : Detikhealth.com


    Sabtu, 30 Juli 2011

    Apakah Visum Et Repertum Dapat Dicabut ?

     Dapatkah Visum Et Repertum Dicabut ?

    Instruksi KAPOLRI No.Pol. : INS/C/20/IX/75.
    “Pada dasarnya penarikan/pencabuatan kembali Visum et Repertum tidak dapat dibenarkan”.
    • Bila terpaksa Visum et Repertum yang sudah diminta harus diadakan pencabutan/penarikan kembali, maka hal tersebut hanya dapat diberikan oleh Komandan-Komandan Kesatuan paling rendah tingkat KOMRES dan untuk kota besar hanya oleh DANTABES


    Kewajiban Penyidik :
    1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk kepentingan pembuktian, bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.

    (2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menjelaskan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan
    perlu dilakukannya pembedahan tersebut.

    (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang diberitahukan tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3)






    Visum Et Repertum dan Forensik Kedokteran (Part. 2)

    Visum Et Repertum adalah laporan tertulis (termasuk kesimpulan mengenai sebab-sebab perlukaan/kematian) yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah jabatan, mengenai apa yang dilihat/diperiksa berdasarkan keilmuannya, atas permintaan tertulis dari pihak berwajib untuk kepentingan peradilan.

    Unsur-unsur dari suatu Visum et repertum (VER) :

    1.Projustitia : Pada bagian atas kertas untuk mengganti kewajiban menempel materai artinya demi keadilan
    2.Pendahuluan : Isinya; identitas pemeriksa, korban dan peminta VER juga berisikan waktu dan tempat pemeriksaan.
    3.Pemberitaan : Merupakan bagian terpenting dari VE, berisikan keterangan tentang apa yang dilihat dan diperoleh (objektif)
    4.Kesimpulan :
    - Jenis luka dan jenis kekerasan
    - Pada orang hidup: tulis kualifikasi luka
    - Pada orang mati : tulis sebab kematian
    5.Penutup: berisi
    - Sumpah/janji sesuai dengan sumpah jabatan/pekerjaan, berbunyi: “VER ini dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan.”
    - Tandatangan dan nama terang dokter yang membuat VER.

    Apa itu pemberitaan visum? yakni Hasil pemeriksaan (data)yang fungsinya :
    - sebagai barang bukti, cara yang dilihat dan diperoleh dokter
    - Untuk analisa dalam membuat kesimpulan

    Yang menuntut dokter untuk menganalisa menuju kesimpulan adalah permintaan visum. Jadi permintaan visum merupakan pertanyaan polisi, analisa → kesimpulan merupakan jawaban dokter.

    Pada kasus Kecelakaan Lalu-Lintas, pertanyaannya:
    1.Sebab kematian
    2.Benarkan kecelakaan lalu-lintas, apakah bukan pembunuhan
    3.Apakah korban tidak sedang mabuk

    Hakikat visum : mencari kejadian yang sebenarnya terjadi/dialami korban. Kita tidak bisa memakai data polisi untuk menganalisa, oleh karena visum: apa yang dilihat dan apa yang didapat, bukan yang didengar.

    Kesimpulan bahwa meninggal, akibat kecelakaan lalulintas bukan kesimpulan dokter tetapi kesimpulan polisi. Dokter hanya memberikan data tentang luka-luka dan sebab kematian.

    Dokter tidak bisa berkesimpulan bahwa korban sedang mabuk oleh karena kadar alkohol yang disebabkan mabuk berbeda-beda untuk tiap orang dan dokter tidak bisa pastikan apakah kadar alkohol tertentu orang/korban menjadikannya mabuk. Dokter hanya bisa berikan data bahwa terdapat alkohol dan kadar sekian dalam darah korban.

    Pada kasus kecelakaan lalu lintas yang diberikan dokter, apakah:
    - kecelakaan (data)
    - sengaja ditabrak (data)
    - Mabuk (data)
    - Bunuh diri (data)
    - Mati baru ditabrak (medis) diketahui dari sebab kematian

    Dalam visum: Jangan hanya menyimpulkan sebab kematian tetapi juga patogenesis kematiannya.

    Pada luka tembak harus disimpulkan:
    1. Sebab kematian
    2. Jarak dan arah tembakan

    Pemberitaan: Barang bukti
    Ringkasan dan kesimpulan → bukan barang bukti

    Kasus Luka Tusuk

    Data :
    1. Luka tusuk dari belakang menembus dan merobek aorta yang menyebabkan perdarahan ± 750 cc dalam rongga dada.
    2. Luka tusuk dari arah belakang tembus hepar menyebabkan perdarahan 300 cc.

    Data medis lain yang membantu polisi: apakah hamil atau tidak pada korban ♀ → membantu polisi menganalisa dan menyimpulkan sebab akibat/hubungan kehamilan dan penikaman.

    Perlu dokter mendeskripsikan luka bukan deskripsi jenis senjata sebab nanti polisi yang mendeskripsikan senjata.

    2 tugas dalam membuat visum :
    1.Memindahkan luka – luka ke kertas sebagai pengganti barang bukti.
    2.Menalar sebagai saksi ahli untuk sampai pada kesimpulan.

    Kesimpulan tentang apa yang dibuat/dimuat ?
    1. Sebab kematian
    2. Saat kematian
    3. Patogenesa sebab kematian, kenapa diperlukan sebab kematian dan patogenesanya? untuk mengetahui mati wajar atau tidak
    Ringkasan harus meliputi 2 unsur :
    1. Sebab kematian : asfiksia, Why ? ada sianosis
    • Ada perdarahan subkonjungtiva
    • Ada perdarahan hati
    • Ada perdarahan ginjal
    • Ada perdarahan paru - paru
    1. Kenapa bisa terjadi asfiksia ?
    • Mungkin intoksikasi, apa buktinya ? ada bahan organoklorida (antikolenesterase) baygon
    • Apa itu organoklorida ? Baygon
    Kalau orang mati baru dikasih minum baygon, tidak akan ada penyerapan (tidak diabsorbsi), sehingga tidak akan ditemukan dalam darah, oleh karena itu botol darah tidak boleh dicampur dengan botol hati, ginjal, untuk bisa membedakan apakah korban nanti mati baru diberi baygon atau minum baygon dulu baru mati.

    Data apa untuk membuktikan dia minum sendiri / paksa ?
    tanda – tanda kekerasan tanda yang bisa mendukung :
    • Ada kebiruan di daerah perut (memar tanda kekerasan baru, ada tidak tanda pembusukan ?
    • Ada sikatriks tanda kekerasan lama

    Kenapa pada asfiksia ada perdarahan ?

    Karena terjadi peningkatan tekanan yang disebabkan karena bendungan pada a. pulmonalis sehingga darah statis tekanan meningkat kapiler darah pecah.


    Asfiksia --> aliran darah dari a. pulmonalis ke paru terhambat --> jantung terbendung --> pembuluh darah terbendung --> kapiler pecah --> Kapiler pecah karena ukurannya yang paling kecil.

    Kenapa arteri pulmonalis yang menuju ke atrium terhambat ?Apa bukti ada kerjasama paru dan jantung mengangkut oksigen ?

    • Nukti sederhana : Kalau “orang loncat” frekuensi napas meningkat yang diikuti penambahan konsentrasi.
    • Bukti untuk dokter forensik : surat, bukan dokter forensik : petunjuk.

    Pemberitaan: Segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan (hasilnya)
    Fungsi VER: - Saksi ahli - Barang bukti
    Yang berfungsi dalam VER (barang bukti) adalah pemberitaan



    Visum Et Repertum dan Forensik Kedokteran

    Arti harfiah dari Visum et Repertum yakni berasal dari kata “visual” yang berarti melihat dan “repertum” yaitu melaporkan.Sehingga jika digabungkan dari arti harafiah ini adalah apa yang dilihat dan diketemukan sehingga Visum et Repertum merupakan suatu laporan tertulis dari dokter (ahli) yang dibuat berdasarkan sumpah, mengenai apa yang dilihat dan diketemukan atas bukti hidup, mayat atau fisik ataupun barang bukti lain,kemudian dilakukan pemeriksaan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya (Soeparmono,2002:98). Dalam STBL tahun 1937 No 350 dikatakan bahwa “visa et reperta para dokter yang dibuat baik atas sumpah dokter yang diucapkan pada waktu menyelesaikan pelajarannya di Indonesia.

    Dalam Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.M04/UM/01.06 tahun 1983 pada pasal 10 menyatakan bahwa hasil pemeriksaan ilmu kedokteran kehakiman disebut sebagai Visum et Repertum. Pendapat seorang dokter yang dituangkan dalam sebuah Visum et Repertum sangat diperlukan oleh seorang hakim dalam membuat sebuah keputusan dalam sebuah persidangan.Hal ini mengingat, seorang hakim sebagai pemutus perkara pada sebuah persidangan,tidak dibekali dengan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kedokteran forensik ini.

    Dalam hal ini, hasil pemeriksaan dan laporan tertulis ini akan digunakan sebagai petunjuk sebagaimana yang dimaksud pada pasal 184 KUHAP tentang alat bukti. Artinya, hasil Visum et Repertum ini bukan saja sebagai petunjuk dalam hal membuat terang suatu perkara pidana namun juga mendukung proses penuntutan dan pengadilan.

    Bentuk Visum et Repertum berdasarkan objek :
    1) Visum et Repertum Korban Hidup

    • Visum et Repertum
    Visum et Repertum diberikan kepada korban setelah diperiksa didapatkan lukanya tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan atau aktivitasnya.

    • Visum et Repertum Sementara
    Misalnya visum yang dibuat bagi si korban yang sementara masih dirawat di rumah sakit akibat luka-lukanya akibat penganiayaan.

    • Visum et Repertum Lanjutan
    Misalnya visum bagi si korban yang lukanya tersebut (Visum et Repertum Sementara) kemudian lalu meninggalkan rumah sakit ataupun akibat luka-lukanya tersebut si korban kemudian di pindahkan ke rumah sakit atau dokter lain ataupun meninggal dunia.

    2) Visum et Repertum pada mayat
    Visum pada mayat dibuat berdasarkan otopsi lengkap atau dengan kata lain berdasarkan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam pada mayat.
    3) Visum et Repertum Pemeriksaan di Tempat Kejadian Perkara (TKP)
    4) Visum et Repertum Penggalian Mayat
    5) Visum et Repertum Mengenai Umur
    6) Visum et Repertum Psikiatrik
    7) Visum et Repertum Mengenai Barang Bukti

    Misalnya berupa jaringan tubuh manusia, bercak darah, sperma dan sebagainya.
    (Peranan Dokter dalam Pembuktian Tindak Pidana,2008 : 51)

    1. Dasar Hukum
    Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan. 

    Menurut Budiyanto dkk (Ilmu Kedokteran Forensik,1997) , dasar hukum Visum et Repertum adalah sebagai berikut :

    Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
    (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

    (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

    Selanjutnya,keberadaan Visum et Repertum tidak hanya diperuntukkan kepada seorang korban (baik korban hidup maupun tidak hidup) semata, akan tetapi untuk kepentingan penyidikan juga dapat dilakukan terhadap seorang tersangka sekalipun seperti VR Psikiatris. 

    Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam KUHAP yaitu :

    Pasal 120 (1) KUHAP
    Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus.

    Apabila pelaku perbuatan pidana tidak dapat bertanggung jawab, maka pelaku dapat dikenai pidana. Sebagai perkecualian dapat dibaca dalam Pasal 44 KUHP sebagai berikut:

    1. Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya, disebabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya (gebrekkige ontwikkeling) atau terganggu karena penyakit (ziekelijke storing), tidak dipidana.

    2. Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggung jawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan dalam Rumah Sakit Jiwa, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.

    3. Ketentuan tersebut dalam ayat (2) hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri.

    Dalam menentukan adanya jiwa yang cacat dalam tumbuhnya dan jiwa yang terganggu karena penyakit, sangat dibutuhkan kerjasama antar pihak yang terkait, yaitu ahli dalam ilmu jiwa (dokter jiwa atau kesehatan jiwa), yang dalam persidangan nanti muncul dalam bentuk Visum et Repertum Psychiatricum, digunakan untuk dapat mengungkapkan keadaan pelaku perbuatan (tersangka) sebagai alat bukti surat yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi pasal 7 (1) butir h dan pasal 11 KUHAP. Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6 (1) butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. 

    Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum, termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena Visum et Repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta Visum et Repertum , karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP). Sanksi hukum bila dokter menolak permintaan penyidik, dapat dikenakan sanki pidana :

    Pasal 216 KUHP :
    Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

    1. Peran dan Fungsi
    Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti.Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. 

    Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia. 

    Apabila visum et repertum belum dapat menjernihkan duduk persoalan di sidang pengadilan, maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam KUHAP, yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Hal ini sesuai dengan pasal 180 KUHAP.

    Bagi penyidik (Polisi/Polisi Militer) visum et repertum berguna untuk mengungkapkan perkara. Bagi Penuntut Umum (Jaksa) keterangan itu berguna untuk menentukan pasal yang akan didakwakan, sedangkan bagi Hakim sebagai alat bukti formal untuk menjatuhkan pidana atau membebaskan seseorang dari tuntutan hukum. Untuk itu perlu dibuat suatu Standar Prosedur Operasional Prosedur (SPO) pada suatu Rumah Sakit tentang tata laksana pengadaan visum et repertum.

    Struktur dan Isi
    Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum sebagai berikut:
    a. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa
    b. Bernomor dan bertanggal
    c. Mencantumkan kata ”Pro Justitia” di bagian atas kiri (kiri atau tengah)
    d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
    e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan pemeriksaan
    f. Tidak menggunakan istilah asing
    g. Ditandatangani dan diberi nama jelas
    h. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
    i. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
    j. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum. Apabila ada lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi visum et repertum masing-masing asli
    k. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun






    Euthanasia, Mengakhiri Kehidupan Pasien yang Sakit Parah Dengan Suntik Mati


    Pada keadaan penyakit yang sudah sangat parah, pasien atau keluarga pasien mungkin saja meminta dokter untuk mengakhiri penderitaan pasien dengan euthanasia atau juga dikenal dengan suntik mati. Seperti apa proses euthanasia?

    Euthanasia adalah pengakhiran kehidupan seseorang yang sedang dalam keadaaan sangat sakit untuk membebaskannya dari penderitaan. Euthanasia diklaim tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal.

    Seseorang yang mengalami euthanasia biasanya memiliki kondisi penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Tapi ada kasus lain yang mana beberapa orang ingin hidupnya berakhir.

    Dalam banyak kasus, hal itu dilakukan atas permintaan pasien sendiri, tetapi ada saat-saat ketika pasien mungkin terlalu sakit keputusan dibuat oleh saudara, tenaga medis atau dalam beberapa kasus oleh pengadilan.

    Euthanasia ini hanya terjadi di beberapa negara saja seperti Belanda, Swiss atau Amerika. Tapi lebih banyak negara yang melarang pelaksanaan euthanasia.

    Dilansir dari BBC, euthanasia terbagi dalam berbagai bentuk, yang masing-masing membawa yang berbeda kebenaran dan kesalahan masing-masing, antara lain :

    1. Eutanasia Aktif dan Pasif
    Dalam euthanasia aktif, dokter atau tenaga langsung dan sengaja menyebabkan kematian pasien, misalnya dengan memberikan pasien obat secara overdosis, memberikan tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.

    Euthanasia pasif terjadi ketika pasien meninggal karena para profesional medis tidak melakukan sesuatu yang diperlukan untuk menjaga pasien tetap hidup atau menghentikan melakukan sesuatu yang menjaga agar pasien tetap hidup.

    Contoh euthanasia pasif antara lain mematikan mesin penunjang hidup, melepas sebuah tabung makan, tidak melakukan operasi memperpanjang hidup atau tidak memberikan obat memperpanjang hidup.

    2. Euthanasia Sukarela dan Non-Sukarela
    Eutanasia sukarela terjadi atas permintaan dari pasien atau orang yang akan meninggal, misalnya dengan menolak perawatan medis, meminta perawatannya dihentikan atau mesin pendukung kehidupannya dimatikan atau menolak untuk makan.

    Sedangkan euthanasia non-sukarela terjadi ketika pasien sadar atau tidak, sehingga ada orang lain yang mengambil keputusan atas namanya.

    Euthanasia non-sukarela bisa terjadi pada kasus-kasus seperti pasien sedang koma, pasien terlalu muda (misalnya bayi), orang pikun, mengalami keterbelakangan mental yang sangat parah atau gangguan otak parah.

    3. Euthanasia Langsung
    Euthanasia langsung berarti memberikan perlakuan (biasanya untuk mengurangi rasa sakit) yang memiliki efek samping mempercepat kematian pasien.

    4. Bantuan Bunuh Diri
    Hal ini biasanya mengacu pada kasus-kasus yang mana orang yang akan mati membutuhkan bantuan untuk membunuh dirinya sendiri dan meminta tenaga medis untuk melakukannya.