Jumat, 06 Januari 2012

Kompres Es Tidak Sepenuhnya Bisa Redakan Cedera Otot

img 
Banyak orang yang ketika mengalami nyeri otot oleh karena cedera akan mengompres dengan es pada daerah otot yang nyeri. Tetapi hasil studi baru menunjukkan mengompres dengan es tidak sepenuhnya baik untuk nyeri otot seperti yang telah kita percaya selama ini. Hasil studi tersebut telah diterbitkan dalam journal Sports Medicine.

Mengompres es untuk meredakan nyeri otot, merupakan sebuah praktik yang sering digunakan dalam dunia olahraga. Es termasuk dalam protokol standar pertolongan pertama untuk penanganan cedera yang berhubungan dengan olahraga.

Kompres es juga banyak digunakan untuk menangani nyeri otot yang tidak terluka. Tetapi sebuah ulasan pada tahun 2004 menyatakan bahwa, efek keseluruhan kompres es pada nyeri otot belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Sehingga masih diperlukan studi lebih lanjut.

Pada studi yang dilakukan tahun lalu, uji coba skala kecil secara acak tidak menemukan manfaat mengenai kompres es untuk nyeri otot. Otot-otot yang didinginkan tidak akan sembuh lebih cepat atau berkurang rasa sakitnya daripada yang tidak dikompres. Kompres es mungkin lebih menunjukkan efek plasebo pada penggunaanya untuk nyeri otot. Dalam mayoritas studi yang pernah dilakukan, kompres es cukup efektif pada penggunaannya untuk nyeri mati rasa.

Kompres es secara signifikan mengurangi kekuatan otot dan tenaga hingga 15 menit setelah pengompresan telah berakhir. Kompres es juga cenderung mengurangi koordinasi motorik halus. Biasanya akan mengalami penurunan secara aktivitas dan kekuatan fisik, seperti tidak mampu melompat tinggi, berlari lebih cepat, melempar, atau memukul bola dengan baik setelah 20 menit pengompresan.

"Bukti saat ini menunjukkan bahwa, kinerja atlet mungkin akan terpengaruh jika mereka segera kembali ke aktivitas segera setelah pengompresan," kata para peneliti seperti dilansir dari TheNewYorkTimes.

"Mengapa kompres es sebelum latihan dapat menekan kinerja tidak sepenuhnya dipahami. Alasan yang paling mungkin adalah bahwa es dapat mengurangi kecepatan konduksi saraf. Impuls saraf di otot dapat melambat karena pendinginan. Pendinginan juga mungkin mempengaruhi sifat mekanik dari unit tendon otot, yang berarti bahwa otot-otot dan tendon, tidak bekerja sama dengan baik," kata Chris M. Bleakley, rekan penelitian di University of Ulster.

Ada juga kemungkinan bahwa kompres dingin pada nyeri otot dapat meningkatkan risiko cedera, meskipun studi tidak memeriksa masalah tersebut secara langsung. Risiko benar-benar dapat terjadi pada situasi di mana atlet segera kembali ke pertandingan atau latihan setelah kompres dingin," kata Dr. Bleakley.

Hal tersebut dapat berarti kompres es pada nyeri otot tidak masalah asalkan tidak segera kembali pada kegiatan latihan atau pertandingan.

"Kebanyakan penelitian sebelumnya telah menemukan manfaat sedikit dari kompres es setelah latihan, tetapi juga beberapa efek sampingnya. Dan jika kita harus melanjutkan aktivitas, efek negatif dari kompres es biasanya menghilang dalam waktu sekitar 15 menit. Efek samping tersebut juga tidak terlalu parah jika waktu pengompresan dipersingkat. Aplikasi sekitar 3-5 menit sudah cukup untuk meminimalkan efek samping," kata Dr. Bleakley.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan kompres merupakan metode yang murah dan tetap merupakan metode yang sangat baik untuk sakit karena mati rasa. Es tetap diterima untuk terapi cedera akut dan sangat populer dengan banyak atlet untuk membantu mereka untuk pulih setelah latihan.

Tetapi mengandalkan kompres es agar segera dapat kembali ke dalam latihan atau pertandingan setelah cedera tidak disarankan.


Sumber : Detikhealth.com


 

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!