Tampilkan postingan dengan label Prosedur Tindakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosedur Tindakan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

Prosedur Pengoperasian Bedside Monitor

 Prosedur Pengoperasian Bedside Monitor

1. Pengertian
Adalah suatu alat yang difungsikan untuk memonitor kondisi fisiologis pasien. Dimana proses monitoring tersebut dilakukan secara real-time, sehingga dapat diketahui kondisi fisiologis pasien pada saat itu juga.

2. Parameter Bedside Monitor 
Parameter adalah bagian-bagian fisiologis dari pasien yang diperiksa melalui pasien monitor. Jika kita ketahui ada sebuah pasien monitor dengan 5 parameter, maka yang dimaksud dari lima parameter tersebut adalah banyaknya jenis pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh pasien monitor tersebut.

Didalam istilah pasien monitor kita mengetahui beberapa parameter yang diperiksa, parameter itu antara lain adalah :

a. EKG adalah pemeriksaan aktivitas kelistrikan jantung, dalam pemeriksaan ECG ini juga
termasuk pemeriksaan “Heart Rate” atau detak jantung pasien dalam satu menit.
b. Respirasi adalah pemeriksaan irama nafas pasien dalam satu menit
c. Saturasi darah / SpO2, adalah kadar oksigen yang ada dalam darah.
d. Tensi / NIBP (Non Invasive Blood Pressure) / Pemeriksaan tekanan darah.
e. Temperature, suhu tubuh pasien yang diperiksa.

3. Jenis Bedside Monitor
a. Pasien Monitor Vital Sign
Pasien monitor ini bersifat pemeriksaan stándar, yaitu pemeriksaan ECG, Respirasi, Tekanan darah atau NIBP, dan Kadar oksigen dalam darah / saturasi darah / SpO2.

b. Pasien Monitor 5 Parameter
Pasien monitor ini bisa melakukan pemeriksaan seperti ECG, Respirasi, Tekanan darah atau NIBP, kadar oksigen dalam darah / saturasi darah / SpO2, dan Temperatur.

c. Pasien Monitor 7 Parameter
Pasien monitor ini biasanya dipakai diruangan operasi, karena ada satu parameter tambahan yang biasa dipakai pada saat operasi, yaitu “ECG, Respirasi, Tekanan darah atau NIBP (Non Invasive Blood Pressure) , kadar oksigen dalam darah / Saturasi darah / SpO2, temperatur, dan sebagai tambahan adalah IBP (Invasive Blood Pressure) pengukuran tekanan darah melalui pembuluh darah langsung, EtCo2 (End Tidal Co2) yaitu pengukuran kadar karbondioksida dari sistem pernafasan pasien.

4. Cara Kerja
a. Lepaskan penutup debu 
b. Siapkan aksesoris dan pasang sesuai kebutuhan 
c. Hubungkan alat ke terminal pembumian 
d. Hubungkan alat ke catu daya 
e. Hidupkan alat dengan menekan/mamutas tombol ON/OFF 
f. Set rentang nilai (range) untuk temperatur, pulse dan alarm 
g. Perhatikan protap pelayanan 
h. Beritahukan kepada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan 
i. Hubungkan patient cable, stap dan chest electrode ke pasien dan pastikan sudah terhubung dengan baik 
j. Lakukan monitoring 
k. Lakukan pemantauan display terhadap heart rate, ECG wave form, pulse, temperatur, saturasi oksigen (SpO2), NiBP, tekanan hemodinamik 
l. Setelah pengoperasian selesai matikan alat dengan menekan tombol ON/OFF 
m. Lepaskan hubungan alat dari catu daya 
n. Lepaskan hubungan alat dari terminal pembumian 
o. Lepaskan patient cable, strap, chest electrode dan bersihkan 
p. Pastikan bahwa Bedside Monitor dalam kondisi baik dan siap difungsikan lagi 
q. Pasang penutup debu 
r. Simpan alat dan aksesoris ke tempat semula  
 
 
 

Sabtu, 29 Oktober 2011

Prosedur Kerja Melakukan Pemeriksaan Visum

Pemeriksaan Visum

1. Pengertian
Melayani  perrnintaan pembuatan visum et repertum

2. Tujuan
Sebagai acuan membuat visum setelah melakukan pemeriksaan pasien  atau jenazah.

3. Kebijakan
a. Visum  adalah sebagai bahan bukti pengganti  bila diperlukan dipengadilan.
b. Pelayanan visum disini adalah visum hidup
4. Prosedur Kerja
a. UGD puskesmas Tumpang melayani Visum hidup,
b. Permintaan Visum diajukan secara resmi dan tertulis oleh Kepolisian kepada Puskesmas.
c. Pengajuan permintaan Visum disampaikan di UGD dalam waktu 2 x 24 jam sejak kejadian oleh petugas kepolisian
d. Petugas UGD meneliti surat permintaan Visum, setelah meneliti kebenaran surat, petugas menulis tanggal, jam penerimaan, nama dan tanda tangan.
e. Apabila penderita / korban sudah masuk ruangan maka surat permintaan Visum ada di UGD
f.  Visum  dibuat berdasarkan pemeriksaan penderita pada saat permintaan Visum Et repertum.
g. Bila penderita / korban sudah meninggal maka petugas UGD memriksa kondisi secara umum
h. Penderita yang sudah meninggal dirujuk ke RRSA
i. Visum hidup dibuat dan ditanda tangani oleh Dokter yang memeriksa / menangani penderita pada saat visum diterima.
j. Visum bisa diambil oleh petugas kepolisian dalam waktu 2 X 24 jam
k. Petugas menandatangani penerimaan laporan visum  

Catatan : 
Dokumentasi visum  (menggunakan kamera khusus visum kemudian disimpan dikomputer UGD) 




Prosedur Kerja Melakukan Triase Pasien

Triase Pasien
1. Pengertian
Memilah dan menentukan derajat kegawatan penderita

2. Tujuan
Sebagai acuan menentukan prioritas dan tempat pelayanan medik penderita

3. Kebijakan
Mendahulukan penderita yang lebih gawat bukan yang datang dahulu


4. Prosedur/Cara Kerja
a. Penderita datang diterima petugas / paramedis UGD
b. In form concern (penandatangan persetujuan tindakan) oleh keluarga pasien.
c. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat (selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya. Oleh paramedis yang terlatih / dokter.
d. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode huruf :
- P III adalah penderita tidak gawat dan tidak darurat.
Misalnya : Penderita Common Cold, penderita rawat jalan, abses, luka robek,
- P II adalah penderita yang kegawat daruratan masih tidak urgent
Misalnya : Penderita Thipoid, Hipertensi,DM,
- P I adalah penderita gawat darurat (pasien dengan kondisi mengancam)
Misalnya : Penderita stroke trombosis, luka bakar, Appendic acuta, KLL , CVA, MIA, asma bronchial dll

e. Penderita mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna : P I-PII-PIII.
f. Pada waktu jam kerja penderita dengan prioritas  PIII dikirim ke BP / rawat jalan

 

Prosedur Kerja Nebuliser

Prosedur Kerja Nebuliser

1. Pengertian
Nebulaizer/Nebuliser adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengencerkan dahak dan melonggarkan jalan nafas

2. Tujuan
Sebagai acuan tindakan nebulaizer

3. Persiapan 
Persiapan Alat
a. Normal Salin
b. Air biasa
c. Obat untuk bronchodilator antara lain : ventolin, dexamethasone
d. Tabung oksigen lengkap dengan : sungkup nebulizer, slang O2,
e.  Manometer
 
Persiapan Pasien
a. Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan
b. Pasien diatur sesuai kebutuhan

4.  Cara Kerja 
a. Perawat cuci tangan
b. Mengisi air pada humidifaier sampai batas lever
c. Mengisi pada tempat manometer sungkup nebulizer dengan normal salin dan bronchodilator : seperti ventolin atau (sabutamol) atau kadang diberi dexamethasone pada status asmatikus.
d. Memasang masker pada pasien
e. flowmeter dibuka (identifikasi adanya asap)
f. Observasi pasien (sesuai kebutuhan)
g. Selesai dilakukan tindakan pasien dirapikan
h. Alat-alat dibereskan dan dikembalikan
i. Perawat cuci tangan.


 
 
 
 

Jumat, 28 Oktober 2011

Prosedur Kerja Pemeriksaan Uji Air

Ilustrasi Gambar
1. Pengertian
Uji air adalah suatu test absorbsi terhadap gastrointestinal.

2. Tujuan
Untuk mengetahui peristaltik usus dan funsi absorbsi

3. Indikasi 
a. Pada penderita tertentu dengan penurunan kesadaran. 
b. Pada penderita setelah dipuasakan pada waktu tertentu. 
c. Pada penderita yang sesudah dilakukan tindakan operasi.
d. Pada penderita yang terpasang ventilasi mekanik invasif.

4. Persiapan Alat
a. NGT 
b. Spuit 50 cc 
c. Air putih (dextrose 5 %) 
d. Lap makan

5. Cara Kerja 
a. Cek posisi NGT. 
b. Aspirasikan isi lambung. 
c. Berikan pada :
- Jam I, 30 ml air putih (dextrose 5 %)
- Jam II, 30 ml air putih (dextrose 5 %)
- Jam III, 30 ml air putih (dextrose 5 %)
- Jam IV, 30 ml air putih (dextrose 5 %) 

d. Klem NGT, tunggu 1 jam – aspirasi, bila : 
- Jumlah residu > 60 ml, tunda enteral
- Jumlah residu <> 
- Klem NGT, tunggu 1 jam – aspirasi, bila : 
- Cairan aspirasi > 50 ml, stop enteral. 
- Cairan aspirasi <>

e. Tingkatkan enteral sesuai kebutuhan


 

Rabu, 26 Oktober 2011

Prosedur Kerja Pemasangan ETT Pada Bayi

Prosedur Kerja Pemasangan ETT Pada Bayi
1. Deskripsi
Ventilasi melalui pipa endotrakeal merupakan cara yang sangat efektif . Jalan nafas yang terjaga menyebabkan pemberian ventilasi dan oksigen lebih terjamin. Kemungkinan aspirasi cairan lambung lebih kecil. Tekanan udara pernafasan juga menjadi mudah dikendalikan dan penggunaan Positive End Expiratory Pressure (PEEP) dapat dilakukan dengan mengatur katup ekspirasi.

2. Indikasi
1. Proteksi jalan nafas
-Hilangnya refleks pernafasan ( cedera cerebrovascular, kelebihan dosis obat)
-Obstruksi jalan nafas besar ( epiglotitis, corpus alienum,paralisis pita suara) baik secara anatomis maupun fungsional.
-Perdarahan faring ( luka tusuk, luka tembak pada leher)
-Tindakan profilaksis ( pasien yang tidak sadar untuk pemindahan ke rumah sakit lain atau pada keadaan di mana potensial terjadi kegawatan nafas dalam proses transportasi pasien)

2. Optimalisasi jalan nafas
- Saluran untuk pelaksanaan pulmanary toilet darurat (sebagai contoh : penghisapan atau bronchoscopy untuk aspirasi akut atau pun trakheitis bakterialis berat)
- Tindakan untuk memberikan tekanan positif dan kontinu yang tinggi pada jalan nafas ( respiratory distress syndrome pada orang dewasa dan penyakit membran hyalin)( Dibutuhkan tekanan inspirasi yang tinggi atau PEEP).

3. Ventilasi mekanik
Ventilasi mekanik pada kegagalan respirasi yang dikarenakan :
- Pulmonar : penyakit asama, penyakit paru obstruktif kronik, emboli paru, pneumonia. (”Work of breathing”
berlebihan)
- Penyakit jantung atau edema pulmoner
- Neurologi : berkurangnya dorongan respirasi (Gangguan
kontrol pernafasan dari susunan saraf pusat)
- Mekanik : disfungsi paru-paru pada flail-chest atau pada
penyakit neuromuskuler
- Hiperventilasi therapeutik untuk pasien – pasien dengan
peningkatan tekanan intrakranial.

3. Alat dan Bahan
a. Laryngoscope lengkap dengan handle dan blade-nya
b. Pipa endotrakeal ( orotracheal ) dengan ukuran : perempuan no. 7; 7,5 ; 8 . Laki-laki : 8 ; 8,5. Keadaan emergency : 7,5
c. Forceps (cunam) magill ( untuk mengambil benda asing di mulut)
d. Benzokain atau tetrakain anestesi lokal semprot
e. Spuit 10 cc atau 20 cc
f. Stetoskop, ambubag, dan masker oksigen
g. Alat penghisap lendir
h. Plester, gunting, jelli
i. Stilet

4. Teknik Pemasangan ET Pada Bayi
1. Memilih dan menyiapkan pipa ET
Pipa ET sekali pakai ( disposable) ukuran disesuaikan dengan berat badan bayi.

Perbandingan berat badan bayi dengan ukuran pipa ET yang dibutuhkan

Ukuran pipa ET (mm)
< 1000               2,5
1000 – 2000      3,0
2001 – 3000      3,5
> 3000               4,0

Pipa ET dipotong secara diagonal pada angka 13, sambungkan dengan sambungan yang sesuai. Agar pipa lebih kaku dan mudah dilegkungkan, masukkan stilet yang ujungnya tidak melebihi panjang pipa ET.

2. Menyiapkan laringoskop
- Pilih laringoskop dengan lidah / daun lurus, no. 1 ( cukup bulan) dan 0 ( kurang bulan).
- Pasang daun laringoskop pada pegangannya.
- Hidupkan lampu laringoskop, periksa lampu dan bateri-nya

3. Menyiapkan perlengkapan lain
- Alat dan kateter penghisap no 10 F.
- Balon dan sungkup
- Sumber oksigen 100 %
- Stetoskop
- Plester.

4. Posisi Bayi
- Kepala sedikit ekstensi / tengadah
Untuk anak di atas 2 tahun, posisi optimal dapat dicapai dengan meletakkan ganjal pada kepala anak, kemudian melakukan sniffing position. Pada bayi hal ini tidak perlu dilakukan karena oksiput bayi
yang prominen . 

- Pada trauma leher
Intubasi harus dilakukan dalam posisi netral.

5. Menyiapkan pemasukan laringoskop
- Penolong berdiri di sisi atas kepala bayi.
- Nyalakan lampu laringoskop
- Pegang laringoskop dengan ibu jari dan ketiga jari tangan kiri ( normal atau pun kidal ), arahkan daun laringoskop ke sisi berlawanan dengan penolong.
- Pegang kepala bayi dengan tangan kanan.

6. Memasukkan daun laringoskop
- Masukkan daun laringoskop antara palatum dan lidah
- Ujung daun laringoskop dimasukkan menyusuri lidah secara perlahan ke pangkallidah sampai vallecula ( lekuk antara pangkal lidah dan epiglotis)

7. Melihat Glottis
- Angkat daun laringoskop dengan cara mengangkat seluruh
laringoskop ke arah batang laringoskop menunjuk, lidah akan
terjulur sedikit sehingga terlihat faring.
- Menentukan letak dan posisi daun laringsokop :
- Penekanan di daerah laring akan memperlihatkan glottis, dengan menggunakan jari ke -4 dan ke-5 tangan kiri . atau dilakukan asisten dengan telunjuk

8. Batasan waku 20 detik
- Tindakan dibatasi 20 detik untuk mencegah hipoksia.
- Sambil menunggu, bayi diberikan VTP dengan oksigen 100 %.

9. Memasukkan pipa ET
- Glottis dan pita suara harus terlihat.
- Pipa ET dipegang dengan tangan kanan, dimasukkan dari sebelah kanan mulut.
- Tetap melihat glottis, dimasukkan waktu pita suara terbuka. Jika dalam 20 detik pita suara belum terbuka, hentikan, sementara lakukan VTP.
- Masukkan pipa ET di antara pita suara, sampai sebatas garis tanda pita suara, ujung pipa pada pertengahan pita suara dan karina.Hindari mengenai pita suara, dapat mengakibatkan spasme.

10. Mengeluarkan laringoskop
- Pipa ET dipegang dengan tangan kanan, bertumpu pada muka bayi, tekan ibir.
- Laringoskop dikeluarkan dengan tangan kiri tanpa mengganggu atau menggeser pipa ET.
- Cabut stilet dari pipa ET

11.  Memastikan letak pipa ET
- Sambil memegang pipa ET pada bibir, pasang sambungan pipa ke balon resusitasi dan lakukan ventilasi sambil mengamati dada dan perut bayi.

Jika letak ET benar akan terlihat :
- Dada mengembang
- Perut tidak mengembung

- Mendengarkan suara nafas dengan menggunakan stetoskop di dada atas kiri dan kanan.
Jika letak ET benar :
- Udara masuk ke kedua sisi dada
- Suara nafas kiri = kanan

12. Letak pipa ET
Pipa ET tepat di tengah trakea :
- Kedua sisi dada mengembang sewaktu melakukan ventilasi
- Suara nafas terdengar sama di kedua sisi dada
- Tidak terdengar suara di lambung
- Perut tidak kembung

Pipa Et terletak di bronkus
- Suara nafas hanya terdengar di salah satu sisi paru
- Suara nafas terdengar tidak sama keras
- Tidak terdengar suara di lambung
- Perut tidak kembung

Pipa ET terletak di esofagus
- Pidak terdengar suara nafas di kedua dada atas
- Terdengar suara udara masuk lambung
- Perut tampak gembung

Tindakan
Cabut pipa ET , beri VTP degnan balon dan sungkup, ulangi intubasi pipa ET.

13. Fiksasi pipa ET
- Perhatikan tanda cm pada pipa ET setinggi batas bibir atas.

Tanda ini digunakan untuk :
- Mengetahui apakah pipa ET berubah letaknya
- Jarak pipa ET ke bibir menentukan dalamnya pipa

- Fiksasi pipa ET ke wajah bayi dengan plester




Prosedur Kerja Pemasangan ETT Pada Pasien Dewasa

Prosedur Kerja Pemasangan ETT Pada Pasien Dewasa

1. Deskripsi
Ventilasi melalui pipa endotrakeal merupakan cara yang sangat efektif . Jalan nafas yang terjaga menyebabkan pemberian ventilasi dan oksigen lebih terjamin. Kemungkinan aspirasi cairan lambung lebih kecil. Tekanan udara pernafasan juga menjadi mudah dikendalikan dan penggunaan Positive End Expiratory Pressure (PEEP) dapat dilakukan dengan mengatur katup ekspirasi.

2. Indikasi
1. Proteksi jalan nafas
-Hilangnya refleks pernafasan ( cedera cerebrovascular, kelebihan dosis obat)
-Obstruksi jalan nafas besar ( epiglotitis, corpus alienum,paralisis pita suara) baik secara anatomis maupun fungsional.
-Perdarahan faring ( luka tusuk, luka tembak pada leher)
-Tindakan profilaksis ( pasien yang tidak sadar untuk pemindahan ke rumah sakit lain atau pada keadaan di mana potensial terjadi kegawatan nafas dalam proses transportasi pasien)

2. Optimalisasi jalan nafas
- Saluran untuk pelaksanaan pulmanary toilet darurat (sebagai contoh : penghisapan atau bronchoscopy untuk aspirasi akut atau pun trakheitis bakterialis berat)
- Tindakan untuk memberikan tekanan positif dan kontinu yang tinggi pada jalan nafas ( respiratory distress syndrome pada orang dewasa dan penyakit membran hyalin)( Dibutuhkan tekanan inspirasi yang tinggi atau PEEP).

3. Ventilasi mekanik
Ventilasi mekanik pada kegagalan respirasi yang dikarenakan :
- Pulmonar : penyakit asama, penyakit paru obstruktif kronik, emboli paru, pneumonia. (”Work of breathing”
berlebihan)
- Penyakit jantung atau edema pulmoner
- Neurologi : berkurangnya dorongan respirasi (Gangguan
kontrol pernafasan dari susunan saraf pusat)
- Mekanik : disfungsi paru-paru pada flail-chest atau pada
penyakit neuromuskuler
- Hiperventilasi therapeutik untuk pasien – pasien dengan
peningkatan tekanan intrakranial.

3. Alat dan Bahan
a. Laryngoscope lengkap dengan handle dan blade-nya
b. Pipa endotrakeal ( orotracheal ) dengan ukuran : perempuan no. 7; 7,5 ; 8 . Laki-laki : 8 ; 8,5. Keadaan emergency : 7,5
c. Forceps (cunam) magill ( untuk mengambil benda asing di mulut)
d. Benzokain atau tetrakain anestesi lokal semprot
e. Spuit 10 cc atau 20 cc
f. Stetoskop, ambubag, dan masker oksigen
g. Alat penghisap lendir
h. Plester, gunting, jelli
i. Stilet

4. teknik Pemasangan ETT Pada Pasien Dewasa
a. Beritahukan pada penderita atau keluarga mengenai prosedurtindakan yang akan dilakukan, indikasi dan komplikasinya, dan mintalah persetujuan dari penderita atau keluarga ( informed consent)

b. Cek alat yang diperlukan, pastikan semua berfungsi dengan baik dan pilih pipa endotrakeal ( ET) yang sesuai ukuran. Masukkan stilet ke dalam pipa ET. Jangan sampai ada penonjolan keluar pada ujung balon, buat lengkungan pada pipa dan stilet dan cek fungsi balon dengan mengembangkan dengan udara 10 ml. Jika
fungsi baik, kempeskan balon. Beri pelumas pada ujung pipa ET sampai daerah cuff.

c. Letakkan bantal kecil atau penyangga handuk setinggi 10 cm di oksiput dan pertahankan kepala sedikit ekstensi. (jika resiko fraktur cervical dapat disingkirkan)

d. Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan faring dan berikan semprotan bensokain atau tetrakain jika pasien sadar atau tidak dalam keadaan anestesi dalam.

e. Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik melalui bag masker dengan Fi O2 100 %.

f. Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan kiri memegang laringoskop. Masukkan bilah laringoskop dengan lembut menelusuri mulut sebelah kanan, sisihkan lidah ke kiri. Masukkan bilah sedikit demi sedikit sampai ujung laringoskop mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir tidak terjepit di antara bilah dan gigi pasien. 

Angkat laringoskop ke atasdan ke depan dengan kemiringan 30 sampai 40 sejajar aksis pengangan. Jangan sampai menggunakan gigi sebagai titik tumpu.

i. Bila pita suara sudah terlihat (gambar 5.f), tahan tarikan / posisi laringoskop dengan menggunakan kekuatan siku dan pergelangan tangan. Masukkan pipa ET dari sebelah kanan mulut ke faring sampai bagian proksimal dari cuff ET melewati pita suara ± 1 – 2 cm atau pada orang dewasa atau kedalaman pipa ET ±19 -23 cm.

j. Angkat laringoskop dan stilet pipa ET dan isi balon dengan udara 5 – 10 ml. Waktu intubasi tidak boleh lebih dari 30 detik.

k. Hubungan pipa ET dengan ambubag dan lakukan ventilasi sambil melakukan auskultasi ( asisten), pertama pada lambung, kemudaian pada paru kanan dan kiri sambil memperhatikan pengembangan dada. Bila terdengar gurgling pada lambung dan dada tidak mengembang, berarti pipa ET masuk ke esofagus dan pemasangan pipa harus diulangi setelah melakukan hiperventilasi ulang selama 30 detik. Berkurangnya bunyi nafas di atas dada kiri biasanya mengindikasikan pergeseran pipa ke dalam bronkus utama kanan dan memerlukan tarikan beberapa cm dari pipa ET.

l. Setelah bunyi nafas optimal dicapai, kembangkan balon cuff dengan menggunakan spuit 10 cc.

m. Lakukan fiksasi pipa dengan plester agar tak terdorong atau tercabut.

n. Pasang orofaring untuk mencegah pasien menggigit pipa ET jika mulai sadar.

o. Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100 % ( aliran 10 sampai 12 liter per menit).


Selasa, 25 Oktober 2011

Prosedur Pemasangan Central Venous Pressure (CVP)

Pemasangan CVP
1. Pengertian
CVP adalah memasukkan kateter poli ethylene dari vena tepi sehingga ujungnya berada di dalam atrium kanan atau di muara vena cava. CVP disebut juga kateterisasi vena sentralis (KVS).

Perawat harus memperhatikan perihal :
1. Mengadakan persiapan alat – alat
2. Pemasangan manometer pada standard infus
3. Menentukan titik nol
4. Memasang cairan infus
5. Fiksasi
6. Fisioterapi dan mobilisasi

2. Tujuan
1. Mengetahui tekanan vena sentralis (TVS)
2. Untuk memberikan total parenteral nutrition (TPN) ; makanan kalori tinggi secara intravena
3. Untuk mengambil darah vena
4. Untuk memberikan obat – obatan secara intra vena
5. Memberikan cairan dalam jumlah banyak dalam waktu yang singkat
6. Dilakukan pada penderita gawat

CVP bukan merupakan suatu parameter klinis yang berdiri sendiri, harus dinilai dengan parameter yang lainnya seperti :
- Denyut nadi
- Tekanan darah
- Volume darah
- CVP mencerminkan jumlah volume darah yang beredar dalam tubuh penderita, yang ditentukan oleh kekuatan kontraksi otot jantung. Misal : syock hipovolemik –> CVP rendah

3. Alat dan Bahan
1. Satu manometer CVP
2. Kateter vena sentralis
3. Three way stopcock
4. Selang infus manometer
5. Infus set
6. Disposible spuit 10 cc / 20 cc
7. Vena sectie set
8. Duk lobang steril
9. Kain kassa steril
10. Yudisium dan alkohol atau betadin 10%
11. Novocain 2% atau lidocain 2%
12. Cairan infus
13. Plester
14. Gunting
15. Water – pass
16. Tiang infus
17. Spalk
18. Verband

4. Cara Kerja
a. Daerah yang Dipasang :
- Vena femoralis
- Vena cephalika
- Vena basalika
- Vena subclavia
- Vena jugularis eksterna
- Vena jugularis interna

b. Cara Pemasangan :
- Penderita tidur terlentang (trendelenberg)
- Bahu kiri diberi bantal
- Pakai sarung tangan
- Desinfeksi daearah CVP
- Pasang doek lobang
- Tentukan tempat tusukan
- Beri anestesi lokal
- Ukur berapa jauh kateter dimasukkan
- Ujung kateter sambungkan dengan spuit 20 cc yang diisi NaCl 0,9% 2-5 cc
- Jarum ditusukkan kira – kira 1 jari kedepan medial, ke arah telinga sisi yang berlawanan
- Darah dihisap dengan spuit tadi
- Kateter terus dimasukkan ke dalam jarum, terus didorong sampai dengan vena cava superior atau atrium kanan
- Mandrin dicabut kemudian disambung infus -> manometer dengan three way stopcock
- Kateter fiksasi pada kulit
- Beri betadhin 10%
- Tutup kasa steril dan diplester

5. Keuntungan Pemasangan di Daerah Vena Sublavia
1. Mudah dilaksanakan (diameter 1,5 cm – 2,5 cm)
2. Fiksasi mudah
3. Menyengkan penderita
4. Tidak mengganggu perawatan rutin dapat dipertahankan sampai 1 minggu

6. Cara Menilai CVP dan Pemasangan Manometer
1. Cara Menentukan Titik Nol
- Penderita tidur terlentang mendatar
- Dengan menggunakan slang air tang berisi air ± setengahnya -> membentuk lingkaran dengan batas air yang terpisah
- Titik nol penderita dihubungkan dengan batas air pada sisi slang yang satu. Sisi yang lain ditempatkan pada manometer.
- Titik nol manometer dapat ditentukan
- Titik nol manometer adalah titik yang sama tingginya dengan titik aliran V.cava superior, atrium kanan dan V.cava inferior bertemu menjadi satu.

2. Penilaian CVP
- Kateter, infus, manometer dihubungkan dengan stopcock -> amati infus lancar atau tidak
- Penderita terlentang
- Cairan infus kita naikkan ke dalam manometer sampai dengan angka tertinggi -> jaga jangan sampai cairan keluar
- Cairan infus kita tutup, dengan memutar stopcock hubungkan manometer akan masuk ke tubuh penderita
- Permukaan cairan di manometer akan turun dan terjadi undulasi sesuai irama nafas, turun (inspirasi), naik (ekspirasi)
- Undulasi berhenti -> disitu batas terahir -> nilai CVP
- Nilai pada angka 7 -> nilai CVP 7 cmH2O
- Infus dijalankan lagi setelah diketahui nilai CVP

7. Nilai CVP
- Nilai rendah : < 4 cmH2O
- Nilai normal : 4 – 10 cmH2O
- Nilai sedang : 10 – 15 cmH2O
- Nilai tinggi : > 15 cmH2O

Penilaian CVP dan Arti Klinisnya
CVP sangat berarti pada penderita yang mengalami shock dan penilaiannya adalah sebagai berikut :
1. CVP rendah (< 4 cmH2O)
- Beri darah atau cairan dengan tetesan cepat.
- Bila CVP normal, tanda shock hilang -> shock hipovolemik
- Bila CVP normal, tanda – tanda shock bertambah -> shock septik

2. CVP normal (4 – 14 cmH2O)
- Bila darah atau cairan dengan hati – hati dan dipantau pengaruhnya dalam sirkulasi.
- Bila CVP normal, tanda – tanda shock negatif -> shock hipovolemik
- Bila CVP bertambah naik, tanda shock positif -> septik shock, cardiogenik shock

3. CVP tinggi (> 15 cmH2O)
- Menunjukkan adanya gangguan kerja jantung (insufisiensi kardiak)
- Terapi : obat kardiotonika (dopamin).

8. Faktor -faktor yang Mempengaruhi CVP
1. Volume darah :
- Volume darah total
- Volume darah yang terdapat di dalam vena
- Kecepatan pemberian tranfusi/ cairan

2. Kegagalan jantung dan insufisiensi jantung
3. Konstriksi pembuluh darah vena yang disebabkan oleh faktor neurologi
4. Penggunaan obat – obatan vasopresor
5. Peningkatan tekanan intraperitoneal dan tekanan intrathoracal, misal :
- Post operasi illeus
- Hematothoraks
- Pneumothoraks
- Penggunaan ventilator mekanik
- Emphysema mediastinum

6. Emboli paru – paru
7. Hipertensi arteri pulmonal
8. Vena cava superior sindrom
9. Penyakit paru – paru obstruksi menahun
10. Pericarditis constrictiva
11. Artevac ; tersumbatnya kateter, ujung kateter berada di dalam v.jugularis inferior





Prosedur Kerja Pemeriksaan Rumple Leed

Gambar : Prosedur Kerja Pemeriksaan Rumple Leed 

1. Pengertian
 Pemeriksaan Rumple Leed  adalah pemeriksaan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah yang ditandai dengan munculnya petechiae

2. Tujuan 
Mengetahui gejala penyakit utamanya DHF atau DBD atau penyakit lainnya.

3. Alat dan Bahan
a.  Tensimeter
b.  Stetoskop
c. Alat pengukur waktu
d. Alat tulis

4. Cara Kerja 
a. Cuci tangan 
b. Beritahu pasien tindakan yang akan dilakukan 
c. Pasang manset tensimeter pada lengan atas penderita dengan benar
d.  Tentukan tekanan systole dan diastole
e. Tahan tekanan manset ditengah antara tekanan systole dan diastole selama 5 menit
f. Lepaskan manset 
g. Periksa kulit daerah volar lengan bawah dan menghitung jumlah petechiae hasil ( - )  negatif bila petechiae < 5  per 2,5 x2,5 cm
h. Informasikan hasil pemeriksaan pada pasien
i. Catat
j. Cuci tangan      




 

Senin, 24 Oktober 2011

Prosedur Kerja Insisi Abses

 Insisi Abses

1. Definisi 
Dalam arti umum berarti melakukan irisan pada kulit. Sedangkan dalam khusus, insisi abses berarti mengiris abses untuk mengeluarkan pus yang ada didalamnya.
 
2. Syarat
-     Irisan harus langsung, tidak terputus-putus langsung sampai ke jaringan subkutis
-      a. Insisi harus sesuai garis Langer
-      b. Irisan yang dekat garis persendian harus sejajar dengan aksis  / sumbu sendi
-      c. Insisi sedapat mungkin disembunyikan, misal pada abses mammae
-      d. Sterilitas harus dijaga
  e. Arah insisi tidak boleh tegak lurus dengan alat penting yang ada didaerah itu, missal arteri, vena, syaraf  

3. Alat dan Bahan 
a. Minor set
b. Kassa steril
c. Sarung tangan
d.  Larutan desinfektan
e. Spuit 3 cc
d. Lidokain  / chlor etyl
e. Tampon

4. Cara Kerj
a.  Beritahu pasien tindakan yang akan dilakukan 
b. Cuci tangan 
c. Inform consent 
d. Siapkan alat, lakukan anastesi lokal 
e. Pakai sarung tangan 
f. Lakukan insisi di tempat fluktuasi yang maksimal irisan sampai fascia 
g. Buka abses dengan memasukkan sumbu atau klem  ( secara tumpul ) supaya pus keluar 
h. Kelurkan semua infiltrat dengan memakai sonde, pada alat yang lunak ( missal mammae ) cukup memakai jari saja
i. Keluarkan pus dengan bersih, masukkan tampon ( lebar ± 1cm )yang telah mengandung betadine kedalam rongga abses
j. Tampon tidak boleh dimasukkan terlalu padat, kemudian disisakan sepanjang ± 5cm untuk mempermudah pengangkatan 
k. Atau gunakan drain ( dari bekas sarung tangan atau pipa infus ), dimasukkan kedalam rongga abses, difiksasi dengan kulit dan ujung luar drain dipasang penampung infus 
l. Ganti tampon tiap hari, sampai secret yang berwarna jernih ( biasanya 5 hari ) 
m. Beri salep untuk merangsang jaringan setelah tampon dikeluarkan 
n. Tutup luka dengan kasa dan betadine
o. Cuci tangan





 

Prosedur Kerja Pemasangan Kateter Tetap Pada Pria

1. Pengertian
Memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra dan kedalam kandung kemih

2. Tujuan
a. Menghilangkan distensi kandung kemih
b. Mendapatkan spesimen urine
c. Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan

3. Persiapan
a. Persiapan Pasien
1) Mengucapkan salam terapeutik
2) Memperkenalkan diri
3) Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan.
4) Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya
5) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.
6) Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi
7) Privacy klien selama komunikasi dihargai.
8) Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
9) Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

b. Persiapan Alat
1) Bak instrumen berisi :
a) Poly kateter sesuai ukuran 1 buah
b) Urine bag steril 1 buah
c) Pinset anatomi 2 buah
d) Duk steril
e) Kassa steril yang diberi jelly

2) Sarung tangan steril
3) Kapas sublimat dalam kom tertutup
4) Perlak dan pengalasnya 1 buah
5) Sampiran
6) Cairan aquades atau Nacl
7) Plester
8) Gunting verband
9) Bengkok 1 buah
10) Korentang pada tempatnya

4. Prosedur

a. Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan, kemudian alat-alat didekatkan ke pasien
b. Pasang sampiran
c. Cuci tangan
d. Pasang pengalas/perlak dibawah bokong klien
e. Pakaian bagian bawah klien dikeataskan/dilepas, dengan posisi klien terlentang. Kaki sedikit dibuka. Bengkok diletakkan didekat bokong klien
f. Buka bak instrumen, pakai sarung tangan steril, pasang duk steril, lalu bersihkan alat genitalia dengan kapas sublimat dengan menggunakan pinset.
g. Bersihkan genitalia dengan cara : Penis dipegang dengan tangan non dominan penis dibersihkan dengan menggunakan kapas sublimat oleh tangan dominan dengan gerakan memutar dari meatus keluar. Tindakan bisa dilakukan beberapa kali hingga bersih. Letakkan pinset dalam bengkok
h. Ambil kateter kemudian olesi dengan jelly. Masukkan kateter kedalam uretra kira-kira 10 cm secara perlahan-lahan dengan menggunakan pinset sampai urine keluar. Masukkan Cairan Nacl/aquades 20-30 cc atau sesuai ukuran yang tertulis. Tarik sedikit kateter. Apabila pada saat ditarik kateter terasa tertahan berarti kateter sudah masuk pada kandung kemih
i. Lepaskan duk, sambungkan kateter dengan urine bag. Lalu ikat disisi tempat tidur
j. Fiksasi kateter
k. Lepaskan sarung
l. Pasien dirapihkan kembali
m. Alat dirapihkan kembali
n. Mencuci tangan
o. Melaksanakan dokumentasi :




5. Perhatian
1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien
2) Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda tangan/paraf pada lembar catatan klien