Jumat, 16 September 2011

Efek Kemoterapi Ganggu Kemampuan Bicara

Pengobatan kemoterapi memang identik dengan pasien kanker. Beberapa efek samping seperti mual, muntah, rambut rontok dan lemas adalah hal yang umum dijumpai pada mereka yang menjalani terapi ini. Namun studi terbaru mengklaim, efek kemoterapi dalam dosis tinggi juga bisa membuat orang sulit untuk mengekspresikan diri secara verbal.

Para peneliti dari Sahlgrenska Academy at the University of Gothenburg, Swedia, mengatakan, kasus kesulitan berbicara tercatat dua kali lebih tinggi di antara pasien kanker yang menerima pengobatan kemoterapi, dibandingkan mereka yang tidak menjalani kemo.

Dalam studi ini yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Acta Oncologica ini para peniliti melibatkan hampir seribu orang survivor kanker testis.  Responden diminta untuk mengisi kuesioner tentang apa yang mereka rasakan selama kurang lebih sebelas tahun terkait diagnosis penyakitnya.

"Mereka yang telah menjalani kemoterapi lebih dari dua kali, lebih mungkin mengalami kesulitan bahasa seperti salah dalam pengucapan kata, berbicara agak ngawur, dan kesulitan menyelesaikan kalimat," kata Johanna Skoogh, mahasiswa pascasarjana dari Sahlgrenska Academy, University of Gothenburg.

Ia menambahkan, para survivor kanker yang menjalani kemoterapi sering dilaporkan mengalami gangguan memori dan sulit berkonsentrasi. Meski begitu, para peneliti sejauh ini masih belum dapat menjelaskan bagaimana kemoterapi bisa menyebabkan gangguan tersebut. Bahkan, sebagian besar penelitian pada survivor kanker payudara (menjalani terapi hormon) juga mengalami gangguan fungsi kognitif.

Untuk mengetahui adanya gangguan fungsi kognitif pada seseorang, biasanya diukur menggunakan tes neuropsikologis. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tingkat keakuratan tes ini dipertanyakan.

"Kuisioner kami berisi pertanyaan tentang kesulitan yang dialami para survivor dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sejauh yang kami tahu, alat ukur semacam ini belum pernah digunakan dalam penelitian sebelumnya. Penelitian ini cukup unik karena mendapatkan respon yang sangat tinggi, lebih dari 80 persen, dan dalam jangka waktu panjang," kata Skoogh.

Para peneliti tidak menampik fakta bahwa gangguan fungsi kognitif lainnya seperti memori dan konsentrasi, mungkin juga dipengaruhi oleh dosis tinggi kemoterapi. "Kami percaya bahwa gangguan bahasa mungkin sangat sensitif untuk mendeteksi gangguan kognitif.  Bahasa adalah sesuatu yang kita gunakan setiap hari.  Itulah sebabnya kita bisa mendapatkan petunjuk dengan cepat pada saat fungsi bicara seseorang terganggu," tandasnya.
 
 
 
Sumber : Kompas.com
 
 
 
 

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!