Sabtu, 19 November 2011

Cara Jitu Psikologis Agar Kebal Ketika Dimarahi


img
Dimarahi oleh seseorang memang tidak menyenangkan. Dalam terapi psikologis, umumnya terapis akan mengajarkan strategi melihat orang yang marah tersebut dengan cara yang berbeda.

Contohnya, kita mengatakan kepada diri sendiri mungkin ia baru saja kehilangan benda berharga atau mendapat diagnosis kanker, sehingga melampiaskan kekesalannya pada kita. Cara ini disebut penilaian kembali emosi.

Tim peneliti dari Universitas Stanford yang terdiri dari Jens Blechert, Gal Sheppes, Carolina Di Tella, Hants Williams, dan James J. Gross ingin mempelajari efisiensi dan kecepatan proses penilaian kembali emosi.

"Ini semacam perlombaan antara informasi yang bersifat emosional dan informasi pengkajian ulang di otak. Pengolahan emosional berasal dari bagian belakang ke bagian depan otak, dan penilaian kembali dihasilkan di bagian depan menuju belakang otak yang memodifikasi proses emosional "kata Blechert seperti dilansir Eurekalert.org.

Blechert dan rekan-rekannya melakukan dua eksperimen untuk mempelajari proses ini. Peserta penelitian ditunjukkan beberapa seri wajah dan diuji reaksinya. Dalam satu sesi, mereka diminta untuk membayangkan orang yang sedang mengalami hari yang buruk, tapi tidak ada hubungannya dengan peserta sama sekali.

"Kami melatih peserta sebentar untuk tidak menganggap emosi tersebut secara pribadi, tetapi diarahkan kepada orang yang marah," kata Blechert.

Mereka menemukan bahwa begitu seseorang telah menyesuaikan penilaiannya terhadap orang lain, mereka tidak terganggu oleh wajah marah orang itu ketika dimunculkan lagi. Ketika peserta diminta hanya merasakan emosi yang diperlihatkan oleh wajah marah, mereka menjadi kesal karena wajah tersebut.

Dalam penelitian kedua, para peneliti merekam aktivitas listrik di otak dan menemukan bahwa penilaian kembali menghapus sinyal emosi negatif pada orang ketika melihat wajah marah.

"Jika seseorang telah terlatih melakukan penilaian kembali, dan tahu atasannya sering memiliki mood yang buruk, ia dapat mempersiapkan diri ketika menemui atasannya itu. Atasannya bisa saja menjerit dan berteriak kepedanya, tapi ia akan baik-baik saja," kata Blechert yang juga bekerja sebagai seorang terapi.



Sumber : Detikhealth.com



 

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!