Rabu, 07 September 2011

Mengupas Tuntas 3 Kelainan Puting Payudara

Fungsi utama puting adalah mengantarkan ASI ke bayi, tapi puting juga berperan dalam rangsangan seksual. Dalam perjalanan hidup wanita, puting rawan terkena perubahan dan kelainan tertentu.

Untuk mengetahui lebih lanjut soal ini, Anda bisa ikuti saja panduan dari Dr Miriam Stoppard seperti dirangkum dalam bukunya “Panduan Kesehatan Keluarga”.

1. Ektasia - Pelebaran Saluran Susu

Perubahan dasar dalam anatomi normal saluran susu saat seorang wanita beranjak dewasa disebut ektasia, atau dilatasi. Ektasia terjadi pada akhir siklus perkembangan payudara, dan jika pelebaran timbul berlebihan, puting dapat beretraksi, sehingga tampak terbelah. Kelainan ini normal dan dapat menyerang kedua payudara. Pada usia 70 tahun, sebanyak 40 persen wanita telah mengalami ektasia yang cukup penting.

Kadang ektasia disertai keluarnya cairan atau rasa berbenjol-benjol. Walaupun penyebab keluarnya cairan atau rasa berbenjol-benjol ini jarang sekali karena kanker, Anda sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter jika menemukan salah satu kelainan ini. Anda dapat ditawari menjalani pembedahan untuk mengoreksi ektasia jika cairan yang keluar dari puting atau tampilan terbalik puting mengganggu Anda.

2. Keluarnya Cairan dari Puting

Keluarnya cairan dari puting lebih jarang dijumpai dibandingkan nyeri dan benjolan, dan ini tidak menimbulkan konsekuensi apa pun jika terjadi saat payudara dan puting diremas. Sekresi puting juga wajar terjadi pada wanita pramenopause yang telah melahirkan anak dan wanita perokok. Keluarnya cairan dari puting jarang disebabkan oleh kanker, khususnya jika kedua payudara mengalaminya. Untuk mengetahui penyebabnya, cairan harus ditemukan apakah berasal dari satu atau beberapa saluran. Konsultasikan dengan dokter jika Anda menemukan sekresi dari puting.

3. Puting Pecah-pecah

Selama menyusui, kulit di sekitar puting terpapar air susu dan isapan kuat. Keduanya bisa merusak kulit. Pendekatan terbaik adalah pencegahan. Puting sebaiknya dibersihkan setelah menyusui dan bayi yang diposisikan dengan baik tidak perlu mengisap terlalu kuat untuk memeroleh air susu ibu.

Mengoleskan setetes losion bayi pada “breast pad” juga bermanfaat. Apabila puting tidak menjadi pecah-pecah, sebaiknya Anda mencari saran mengenai cara memosisikan bayi pada payudara dan melepaskannya. Ini paling baik dilakukan dengan mendorong dagu bayi perlahan untuk membuka penutup kedap udara antara mulut bayi dan puting. Terapi untuk puting pecah-pecah dengan antibiotik harus dilakukan tepat waktu karena puting rawan terserang infeksi.
 
 
 




0 Komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!