Sabtu, 10 September 2011

Takabur (Arogan) & Cara Sederhana Mengobatinya

Takabur (arogan/sombong) adalah penyakit hati yang sangat dibenci Allah. Orang yang takabur, hakikatnya tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Ia mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya. Takabur itu bagaikan bagaikan bau busuk yang sulit sekali disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini sangat mudah dilihat oleh orang awam sekali pun, serta mudah dirasakan hati siapa pun.

Apa ciri orang takabur itu? Rasulullah SAW bersabda, "Kesombongan adalah mendustakan kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR Muslim)

1. Mendustakan Kebenaran

Orang takabur pada umumnya hidupnya jauh dari agama. Ia memiliki kebenaran versinya sendiri, sehingga tidak menyukai orang-orang lain yang berbeda dengan dirinya. Tidak mau dan tidak menyempatkan belajar tentang kebenaran. Orang takabur apabila ia punya kekuasaan, maka kekuasaan itu akan dipakai menumpas kebenaran.

2. Merendahkan Orang Lain

Orang takabur pada umumnya ingin selalu kelihatan lebih tinggi, ingin selalu diistimewakan. Ia akan tersinggung bila disamakan dengan orang yang levelnya dianggap lebih rendah. Suka mendominasi pembicaraan, senang memotong perkataan orang lain, nadanya pun cenderung lebih keras dan merendahkan yang mendengar. Ia pun selalu ingin menang sendiri saat bicara.

Orang takabur kurang suka mendengarkan orang lain. Bila orang lain berbicara dan pembicaranya dianggap lebih rendah levelnya, dia tak akan mau memperhatikan. Ada saja yang dilakukannya: ngobrol, menelpon, atau lainya. Akibatnya, orang yang bicara merasa direndahkan.

Orang takabur, kalau ia menyuruh, maka yang disuruh akan sakit hati. Cara duduk, berdiri, dan menunjuk pun cenderung tidak menghormati orang lain

Tabiat lain dari orang takabur adalah mudah marah dan kasar. Sering menghina, mencaci maki. Jarang sekali mau memuji dan mengakui kelebihan orang lain. Jarang berterima kasih. Tidak mau meminta maaf. Pantang menerima kritik dan saran. Tidak suka bermusyawarah. Tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangan. Sering dengki pada yang lain.

Orang takabur suka mencibir harkat dan martabat orang lain, kagum pada diri sendiri (i'jabul mari bin nafsihi), dan kemudian berkembang menjadi sifat egois chauvinistic yang berakibat putusnya tali persaudaraan, tumbuhnya permusuhan antar suku, golongan, bahkan bangsa.

Itulah sebabnya Allah memperingatkan keras agar kita tidak mencemooh satu kaum, karena siapa tahu yang kita cemooh justru lebih baik dari kita (49:11).

Sifat takabur ini bukan hanya dimiliki oleh orang kebanyakan seperti kita, tapi juga terutama oleh Pejabat, Ilmuwan dan Ulama. Banyak diantara mereka yang hanya memandang bahwa dirinyalah yang paling benar, yang lain salah. Sering kita dengar atau baca tulisan, dimana seorang Ulama mengkritik habis2an pandangan Ulama lain, dan menganggap bahwa yang lain salah, kecuali dirinya dan Ulama2 yang se-aliran atau menjadi rujukannya.

Sifat Takabur merupakan sikap yang sangat tercela, bahkan menurut Imam Ali kw dalam Najhul Balaghah, iblis pada awalnya merupakan makhluk yang paling gemar beribadah, tetapi kemudian menjadi hina dan terlempar ke dasar neraka jahanam karena menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Alih-alih bersujud, iblis malahan membusungkan dada, seraya berkata, "Aku lebih baik dari dia, aku diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah." (Q.S. 7:12).

Dalam riwayat lain dikisahkan, pada suatu hari Rasulullah bertanya kepada orang-orang yang sedang berkerumun, "Ada apa kalian berkumpul di sini?"

Sahabat menjawab, "Ya Rasulullah, kami menyaksikan orang gila."

Beliau bersabda, "Orang itu bukan gila tetapi sedang mendapatkan ujian. Tahukah engkau siapakah yang disebut orang gila yang sebenarnya?"

Para sahabat menjawab, "Tidak Ya Rasulullah."

Beliau berkata, "Orang gila adalah mereka yang berjalan dengan takabur (sombong), yang memandang orang dengan pandangan merendahkan, yang membusungkan dada berharap akan mendapatkan surga sambil berbuat maksiat kepada-Nya, yang kejelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya," (Bihar Al Anwar).

Anda termasuk takabur bila mengaku sebagai orang beragama, tetapi pada saat yang sama merusak dan membuat hati orang lain merasa gelisah. Orang yang takabur karena ilmu dan amalnya ada yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjamaah di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya. Termasuk kategori takabur bila Anda memfitnah atau membuka aurat (aib) sesama saudaranya, misalnya mengirimkan surat kaleng hanya karena iri dengki semata. Ketahuilah bahwa sifat takabur hanya bisa dilawan dengan kerendahan hati (tawadhu).

Mari kita rasakan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu Wata'ala , seraya menghayati dengan sangat mendalam bahwa kehadiran diri kita ini tidaklah punya arti, kecuali bersama orang lain. Janganlah kita sampai mempunyai sikap takabur, karena lahir dan di kubur pun kita masih membutuhkan orang lain. Kalau bukan karena jasa dan keringat orang lain, mungkinkah butiran nasi bisa terhidang di hadapan kita? Ketika gedung menjulang selesai dibangun, pernahkah kita bertanya, di manakah wahai kuli-kuli bangunan?

Bagaimana cara mengobati sifat takabur yang menghinggapi diri kita?

Kiat dan cara mengobatinya ternyata sangat sederhana, Sayidina Ali kw mengajarkan kepada kita, "Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari amalku."

Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena amal.

Semoga Allah memberikan kekuatan pada kita untuk menghindari ketakaburan sekecil apa pun. Amin.


"Utamakan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK dan SHALAT untuk akhiratmu"
 
 
By : Imam Puji Hartono/IPH(Gus Im)


Sumber : Beranda Kita
 
 
 

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!