Kamis, 05 April 2012

Awas! Pasang Gigi Palsu di Tukang Gigi Seperti Memasang Ranjau Dalam Mulut


img
Prof. Dibyo
Tenaga yang tidak mengetahui segala pengetahuan ilmiah mengenai kesehatan jaringan rongga mulut dapat fatal jika nekat melakukan praktik kedokteran gigi. Jika tukang gigi memasang gigi tiruan pada pasiennya itu sama saja seperti memasang ranjau dalam rongga mulut.

Demikian diungkapkan oleh Prof. Dr. drg. Sudibyo, SU., Sp. Perio (K), ketua PDGI cabang Yogyakarta saat ditemui detikHealth di Dental Center Yogyakarta..

Berdasarkan peraturan baru Menteri Kesehatan, tukang gigi dilarang melakukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

"Peraturan baru mengenai larangan terhadap tukang gigi untuk melakukan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebenarnya merupakan wujud perlindungan pemerintah terhadap masyarakat Indonesia," tutur Prof Sudibyo.

Tidak hanya di desa saja, masyarakat yang tinggal di perkotaan pun sebagian masih tertarik untuk melakukan perawatan gigi di tukang gigi. Sebagian masyarakat masih melakukan pembuatan dan pemasangan gigi tiruan di tukang gigi.

"Sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki pengetahuan yang kurang mengenai kesehatan gigi dan mulut. Kebutuhan pelayanan kesehatan gigi dan mulut juga semakin meningkat. Sedangkan jumlah tenaga kesehatan gigi profesional, khususnya dokter gigi masih kurang untuk memenuhi kebutuhan kesehatan gigi masyarakat. Tenaga kesehatan gigi profesional juga masih belum tersebar dan masih terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu," tutur Prof. Dibyo.

Masyarakat Indonesia masih memiliki pengetahuan yang kurang mengenai kesehatan gigi, sehingga tidak mengetahui risiko kesehatan jika melakukan perawatan gigi ke tukang gigi. Gigi merupakan bagian tubuh yang memang tampak sangat kecil dan sepele.

"Tenaga yang tidak mengetahui segala pengetahuan ilmiah mengenai kesehatan jaringan rongga mulut dapat fatal jika nekat melakukan praktik kedokteran gigi. Jika tukang gigi memasang gigi tiruan pada pasiennya itu sama saja seperti memasang ranjau dalam rongga mulut. Karena hal tersebut dapat fatal pada pasien-pasien yang memiliki kerentanan penyakit sistemik," jelas Prof.Dibyo.

Menurut Prof Dibyo, gigi tiruan yang tidak benar secara medis dapat menyebabkan infeksi, memicu bakteri dalam rongga mulut yang kemudian menyerang tubuh. Pembuluh-pembuluh darah yang sangat kecil di dalam jarinagn pendukung gigi menyebabkan infeksi gigi tersebar hingga bagian tubuh yang vital.

Maka orang yang akan melakukan perawatan gigi ke tukang gigi harus tahu betul mengenai segala risikonya. Karena meskipun tampaknya gigi hanya merupakan sebagian kecil dari tubuh, namun tidak dapat disepelekan.


Sumber : Detikhealth.com


5 komentar:

  1. wahhh....saya udh pasang gigi pada tukang gigi tapi kok aman2 saja pak...kenapa bpk yg sdh punya gelar dokter bisanya menjelek-jelekkan tkg gigi apa bapak sdh kekurangan orderan ya....jgn sebar fitnah dong pak...kasihan tkg gigi mereka kan jg cari makan sama kyk bapak.

    BalasHapus
  2. saya asisten seorang tukang gigi yang sudah berpengalaman. Majikan sudah 36 tahun jadi asisten dokter gigi, trus sudah buka praktek sendiri buat dan pasang gigi palsu mulai dari yang sadel prothese, full, bahkan crown dan bridge. Kalo di hitung sudah ribuan orang yg jadi langganan. Selama saya menjadi asisten selama 12 tahun, pernah ada juga kasus gigi yg sakit setelah di crown, tetapi itu pun juga sudah diatasi dengan dirujuk ke dokter gigi.
    Baru sehari yang lalu ada pasien yg datang minta di crown, dia jengkel sama dokter gigi yg telah merawat giginya, karena sudah hampir sebulan gigi crown yg mau dipasang belum selesai, sudah di buat cuma ga cocok.
    Pada saat saya lihat ternyata gigi yg mau di crown tidak dipreparasi dengan benar. Dalam waktu 15 menit preparasi selesai dan senin nanti crown porcelain pun sudah siap dipasang.
    Kami juga menggunakan luting cement Fuji IX
    Bagaimana menurut anda dengan kasusu semacam ini.
    Gelar dokter tidak menjadi jaminan lantas publik percaya dengan etos kerjanya.

    BalasHapus
  3. Persaingan bisnis gigi memang semakin keras.tapi ya caranya jangan selalu menjelek jelekkan orang lain.terutama para tukang gigi yang selaludi jelek jelekkan.intinya kan cuma satu kenapa para tukang gigi selalu diberitakan miring,ya tidak lain karena mereka secara langsung mengurangi pendapatan dokter gigi.alasan kesehatan masyarakat cuma dijadikan alasan saja...yang jelas Masalah "pendapatan"itu yang paling utama.
    jadi tolonglah buat para dokter gigi yang katanya sudah tinggi dan paham betul ilmu kesehatan gigi mainkan cara yang bersih dan sehat,,...jangan dengan cara yang licik seperti ini....masyarakat sudah pintar kok...

    BalasHapus
  4. Postingan artikel ini semata-mata tidak ada kaitannya dengan persaingan bisnis atau sejenisnya. Bagaimanapu hasil akhirnya masyarakatlah sebagai konsumen yang menentukan.Mohon dibaca dan diresapi dengan baik.

    Ini hanya share dalam bentuk artikel, jadi mohon jangan disalah artikan.

    BalasHapus
  5. Terimakasih Infonya
    sangat bermanfaat..
    Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Kedokteran di UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Yogyakarta
    :)

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak, Semoga dapat memberi wawasan yang lebih bermanfaat!